Jumat, 19 Desember 2014
Minggu, 23 November 2014
Minggu, 26 Oktober 2014
Targetkan...
Before Desember 2014, 30 November 2014...
After Desember 2014, ** Januari 2015...
Tak ada Kisah tanpa Perjuangan,
Apapun mimpi yang Kita ukir diawal,
Ia akan menentukan langkah Kita dalam Berproses,
Menunggumu bukan hanya melelahkan,
Tapi, Lelah ditambah suatu Kenikmatan,
Karena mengapa? Kamu tahu alasannya?
Karena yang ditunggu adalah Kamu,
Satu nama lengkap yang sudah Pasti,
Maka Akupun merasakan Lelah itu sebagai Kenikmatan tersendiri,
*masa-masa setelah sidang S1 berlanjut...
After Desember 2014, ** Januari 2015...
Tak ada Kisah tanpa Perjuangan,
Apapun mimpi yang Kita ukir diawal,
Ia akan menentukan langkah Kita dalam Berproses,
Menunggumu bukan hanya melelahkan,
Tapi, Lelah ditambah suatu Kenikmatan,
Karena mengapa? Kamu tahu alasannya?
Karena yang ditunggu adalah Kamu,
Satu nama lengkap yang sudah Pasti,
Maka Akupun merasakan Lelah itu sebagai Kenikmatan tersendiri,
*masa-masa setelah sidang S1 berlanjut...
Kamis, 04 September 2014
Teruslah..."
"Teruslah
bergerak, hingga kelelahan itu lelah mengikutimu.
Teruslah berlari, hingga kebosanan itu bosan
mengejarmu.
Teruslah berjalan, hingga keletihan itu letih bersamamu.
Teruslah bertahan, hingga kefuturan itu futur menyertaimu.
Teruslah berjaga, hingga kelesuan itu lesu menemanimu"
Teruslah berjalan, hingga keletihan itu letih bersamamu.
Teruslah bertahan, hingga kefuturan itu futur menyertaimu.
Teruslah berjaga, hingga kelesuan itu lesu menemanimu"
(KH Rahmat Abdullah)
Selasa, 02 September 2014
Suami yang Menyiapkan Istri | Oleh Asma Nadia
Sering kali kita mendengar pembagian yang lazim dalam rumah tangga di Tanah Air. Suami bertugas mencari uang, sementara istri mengurus anak-anak.
Sebagai konsekuensi atas pembagian tugas tersebut, ketika seorang perempuan bekerja, saat mengikat tali pernikahan, terutama setelah anak- anak lahir, sang istri harus berhenti bekerja dan membiarkan pihak suami saja yang mencari nafkah. Demi pembagian tugas tersebut, tak jarang seorang istri meski mempunyai pencapaian lebih bagus harus mengorbankan jenjang karier yang dirintisnya sebelum menikah.
Pembagian tugas istri di rumah dan suami bekerja semakin mengakar di dalam kehidupan masyarakat. Bukan sekadar "patuh" pada produk budaya Timur yang cenderung bersifat patriarki, melainkan juga didasari "keyakinan" agama.
Namun, pertanyaan saya yang paling mendasar atas pembagian tugas ini adalah apakah berarti wanita tidak boleh punya penghasilan? Saya tidak keberatan wanita menjalankan tugas sebagai ibu bagi anak-anak di rumah, justru sa ngat mendukung ide ini, dengan catatan tentu tidak berarti keberadaan wanita di rumah sama dengan tidak berpenghasilan.
Sebuah kisah yang saya baca pada buku Catatan Hati Pengantin membuat saya semakin yakin pentingnya membangkitkan kesadaran para suami untuk menyiapkan istri mereka agar mandiri, termasuk secara finansial.
Kisah yang menjadi perhatian saya merupa kan pengalaman nyata seorang perempuan yang begitu disayang suami. Segala hal disiapkan oleh suaminya, mulai dari mobil, rumah, dan kebutuh an sehari-hari. Urusan administrasi pun ditangani suami dengan baik sejak awal mereka menikah. Tugas sang istri hanya menyiapkan makan untuk sang keluarga, menyambut dan menemani suami sehari-hari ketika lelaki itu di rumah, serta menjaga anak-anak.
Kehidupan keluarga kecil yang tampak sangat bahagia. Banyak teman sang istri yang iri akan nasib baik rekan mereka tersebut. Suami berperan sebagai imam yang bertanggung jawab dan istri bertugas membahagiakan suami serta menjaga anak-anak.
Namun, kehidupan berubah drastis ketika tanpa diduga suaminya terserang sakit jantung dan meninggal dalam usia muda. Beban istri yang syok karena kehilangan, bertambah gamang sebab sama sekali tak tahu apa yang harus dilakukan untuk mengelola administrasi rumah tangganya. Selama ini kebutuhan rumah seperti listrik, air, dan lainnya selalu diurus suami. Lebih buruk lagi beberapa tahun sebelumnya sang istri baru kehilangan orang tua dalam sebuah kecelakaan.
Kehilangan beruntun yang tidak diimbangi ke mandirian membuat sang istri terombang- ambing jiwanya. Tiga bulan lamanya dia tidak mampu berbuat apa-apa. Penghasilan keluarga selama ini hanya bersumber dari suami sehingga praktis tidak ada sumber penghasilan lain ketika lelaki itu meninggal.
Situasi semakin sulit ketika akhirnya seluruh ta bungan habis untuk membayar kebutuhan sehari-hari. Sopir berhenti dan pembantu pun pergi karena tidak ada lagi yang mengurus gaji. Anak- anak bahkan harus diambil oleh keluarga suami karena ibu mereka yang stres tidak menyadari lagi keberadaan anak-anak.
Sebuah pengalaman pahit yang menyisakan pelajaran, betapa seorang istri harus disiapkan untuk mandiri, ya iman, ya finansial. Boleh-boleh saja membuat pembagian tugas. Suami mencari uang, istri menjaga anak dan mengurus rumah tangga.
Akan tetapi, siapa yang menjamin kepala keluarga akan berumur panjang? Siapa yang menjamin suami akan selalu sehat untuk menafkahi anak-anak? Siapa yang menjamin suami tidak lebih dulu pergi menghadap Tuhan?
Jika Rasulullah SAW bersabda perhatikan hidupmu sebelum datang matimu, sehatmu sebelum datang sakitmu, mudamu sebelum datang tuamu, maka hadis ini juga bisa diterapkan dalam kehidupan rumah tangga.
Para suami wajib menyiapkan istri mereka untuk mandiri dan me miliki penghasilan, sebagai upaya antisipasi, berjaga-jaga apabila suami lebih dulu berpulang. Terlebih, banyak pekerjaan saat ini bisa dilakukan seorang wanita tanpa harus meninggalkan kewajiban sebagai ibu rumah tangga.
Saat ini, dengan perkembangan zaman, cukup banyak daftar pekerjaan yang bisa dilakukan wanita di rumah tanpa menghabiskan banyak waktu dan tenaga serta tanpa meninggalkan kewajiban mengurus anak-anak.
Pihak suami juga harus menyiapkan istrinya mandiri selagi mereka masih sehat karena tidak ada jaminan suami akan sehat selamanya. Bukan mustahil terjadi musibah kecelakaan yang membuat kepala keluarga tidak lagi sanggup bekerja secara optimal.
Siapa pun harus menyadari banyak hal yang mungkin muncul di luar rencana. Sesuatu yang berada di luar kemampuan manusia, yaitu umur, nyawa, dan kesehatan. Karena itu sejak dini, kita, ter utama para suami, harus menyiapkan istrinya menjadi pribadi yang potensial, tegar, mandiri, dan siap menjadi sandaran yang kuat. Sesuatu yang sejak lama menjadi perjuangan saya lewat buku-buku yang saya tulis, demi senyum anak- anak kita pada masa depan.
Sabtu, 23 Agustus 2014
Minggu, 17 Agustus 2014
'Mungkin suatu saat kamu akan ingat..."
Dear Karel,
How are you today, Baby? Maaf jika abi tak sepandai umi dalam bercerita, Sholeh. Padahal baby seusia kamu harusnya mendengar banyak cerita, untuk merangsang pendengaran kamu, untuk menanamkan nilai-nilai kebaikan kepada kamu, karena indra pendengaran kamu sudah berfungsi lebih baik daripada indera yang lainnya, Sholeh. Bahkan kamu sudah bisa mendengar sejak dalam perut umimu, Sayang. Mungkin suatu saat kamu akan ingat apa saja (dan itu banyak sekali), hal-hal yang umi ceritakan kepadamu, Sholeh. Mungkin lebih banyak daripada yang diceritakannya kepada abi, karena sejak usiamu di perut umi empat bulan, saat ruh ditiupkan dalam diri kamu, kamu selalu membersamai umi setiap saat.
Sejak usiamu dalam kandungan umi empat bulan, umi sangat berhati-hati sekali bicara, Sholeh. Lebih lembut, lebih sabar, lebih penyayang, lebih banyak membaca dan mendengarkan Al-Quran dan juga lagu-lagu instrumental dan tentunya lebih banyak cerita dan curhat ke kamu, Sayang. Umi selalu memegang dan mengelus perutnya sambil berbicara denganmu, Nak. Saat kerja, saat memasak, saat tilaawah, saat melakukan pekerjaan rumah, di setiap kesempatan yang memungkinkan.
Umi pernah bilang ingin membiasakan kamu untuk belajar bahasa dan berhitung dari dalam kandungan, agar kamu jadi anak yang cerdas karena perkembangan otaknya bagus. Allah membayar lunas keinginannya itu. Terakhir, pekerjaan kantor umimu banyak sekali yang menyangkut bahasa, menerjemahkan bahasa indonesia ke bahasa inggris. Mata kuliah terakhir yang diajarkan umimu di kampus juga banyak sekali hitung-hitungan-nya, Sayang. Bagi umi, kamu selalu menjadi penyejuk hatinya, Sholeh. Jika penat, pusing dengan pekerjaan yang menumpuk, dengan masalah yang tak kunjung usai, kamu selalu bisa jadi tempat pelarian umi yang terbaik, Sayang.
Abi punya seorang teman yang hafidz Al-Quran, saat ditanya kenapa dia bisa hafidz, dia menjawab karena dia selalu teringat pesan dan impian ibunya agar dia hafal Al-Quran, Sholeh. Ketika dicek ke ibunya, ibunya malah lupa kalau beliau berpesan seperti itu, dan ketika diingat-ingat, ibunya baru sadar kalau beliau mengatakan itu ketika anaknya masih dalam kandungan, Sayang. Semoga kelak kamu akan ingat pesan lain dari umimu, Nak. Sebagaimana sekarang kamu bisa menjalankan dengan sangat baik pesan umimu untuk selalu sabar dan kuat, Sholeh.
Umimu memang selalu merasa penting untuk bercerita, Sayang. Bagi umi, abi berhak tahu atas apapun yang dialaminya. And honestly, kadang abi suka males dengar ceritanya. Pekerjaannya yang ini, temennya yang itu, tetangga kiri-kanan, penjual kue keliling, sampai apa yang dibeli di tukang sayurpun kadang umi ceritakan, Sayang. Abi sering sekali mendangar ceritanya sambil bermain gadget, sampai beberapa kali umi kesal. Pernah juga umi bercerita panjang lebar, tapi abi malah ketiduran. Kali ini abi tidak kesal, Sayang. Malah tersenyum dan mencium kening abi. Perempuan memang selalu butuh didengarkan, Sholeh. Dan salah satu cara terbaik untuk menghargai perempuan, kamu hanya cukup menjadi pendengar yang baik. Tentu ketika kamu dalam kandungan, kamu selalu menjadi pendengar yang baik buat umi, Sayang. Sekarang, saat kamu sudah terlahir di dunia, saat kamu tak bisa mendengarkan suara umi lagi adalah saat bagi kamu untuk melakukannya, Sayang. Mengerjakan pesan dan amanah umi. Mengambil hikmah sebanyak-banyaknya dari cerita umi. Membalas segala pengorbanan umi dengan menjadi anak yang sholeh lagi berbakti, Sayang.
Karel, kamu memang hanya bisa bersama umi di dunia tidak lebih dari satu jam, Sholeh. Sesaat setelah kelahiranmu, saat kamu melakukan IMD. Tapi jangan khawatir, nanti-nanti, di akhirat kelak, kamu masih punya kesempatan untuk bertemu dengan umi, Sayang. Bahkan untuk membersamainya selamanya. Syaratnya, kamu hanya harus jadi anak sholeh yang mencintai umimu dengan sangat, Sayang. Sebagaimana ayat Al-Quran yang pernah dibaca dan disampaikan umi;
Orang-orang yang beriman dan anak cucu mereka yang mengikuti mereka dalam keimanan, Kami kumpulkan anak cucu mereka dengan mereka dalam syurga…. (At-Thur: 21)
How are you today, Baby? Maaf jika abi tak sepandai umi dalam bercerita, Sholeh. Padahal baby seusia kamu harusnya mendengar banyak cerita, untuk merangsang pendengaran kamu, untuk menanamkan nilai-nilai kebaikan kepada kamu, karena indra pendengaran kamu sudah berfungsi lebih baik daripada indera yang lainnya, Sholeh. Bahkan kamu sudah bisa mendengar sejak dalam perut umimu, Sayang. Mungkin suatu saat kamu akan ingat apa saja (dan itu banyak sekali), hal-hal yang umi ceritakan kepadamu, Sholeh. Mungkin lebih banyak daripada yang diceritakannya kepada abi, karena sejak usiamu di perut umi empat bulan, saat ruh ditiupkan dalam diri kamu, kamu selalu membersamai umi setiap saat.
Sejak usiamu dalam kandungan umi empat bulan, umi sangat berhati-hati sekali bicara, Sholeh. Lebih lembut, lebih sabar, lebih penyayang, lebih banyak membaca dan mendengarkan Al-Quran dan juga lagu-lagu instrumental dan tentunya lebih banyak cerita dan curhat ke kamu, Sayang. Umi selalu memegang dan mengelus perutnya sambil berbicara denganmu, Nak. Saat kerja, saat memasak, saat tilaawah, saat melakukan pekerjaan rumah, di setiap kesempatan yang memungkinkan.
Umi pernah bilang ingin membiasakan kamu untuk belajar bahasa dan berhitung dari dalam kandungan, agar kamu jadi anak yang cerdas karena perkembangan otaknya bagus. Allah membayar lunas keinginannya itu. Terakhir, pekerjaan kantor umimu banyak sekali yang menyangkut bahasa, menerjemahkan bahasa indonesia ke bahasa inggris. Mata kuliah terakhir yang diajarkan umimu di kampus juga banyak sekali hitung-hitungan-nya, Sayang. Bagi umi, kamu selalu menjadi penyejuk hatinya, Sholeh. Jika penat, pusing dengan pekerjaan yang menumpuk, dengan masalah yang tak kunjung usai, kamu selalu bisa jadi tempat pelarian umi yang terbaik, Sayang.
Abi punya seorang teman yang hafidz Al-Quran, saat ditanya kenapa dia bisa hafidz, dia menjawab karena dia selalu teringat pesan dan impian ibunya agar dia hafal Al-Quran, Sholeh. Ketika dicek ke ibunya, ibunya malah lupa kalau beliau berpesan seperti itu, dan ketika diingat-ingat, ibunya baru sadar kalau beliau mengatakan itu ketika anaknya masih dalam kandungan, Sayang. Semoga kelak kamu akan ingat pesan lain dari umimu, Nak. Sebagaimana sekarang kamu bisa menjalankan dengan sangat baik pesan umimu untuk selalu sabar dan kuat, Sholeh.
Umimu memang selalu merasa penting untuk bercerita, Sayang. Bagi umi, abi berhak tahu atas apapun yang dialaminya. And honestly, kadang abi suka males dengar ceritanya. Pekerjaannya yang ini, temennya yang itu, tetangga kiri-kanan, penjual kue keliling, sampai apa yang dibeli di tukang sayurpun kadang umi ceritakan, Sayang. Abi sering sekali mendangar ceritanya sambil bermain gadget, sampai beberapa kali umi kesal. Pernah juga umi bercerita panjang lebar, tapi abi malah ketiduran. Kali ini abi tidak kesal, Sayang. Malah tersenyum dan mencium kening abi. Perempuan memang selalu butuh didengarkan, Sholeh. Dan salah satu cara terbaik untuk menghargai perempuan, kamu hanya cukup menjadi pendengar yang baik. Tentu ketika kamu dalam kandungan, kamu selalu menjadi pendengar yang baik buat umi, Sayang. Sekarang, saat kamu sudah terlahir di dunia, saat kamu tak bisa mendengarkan suara umi lagi adalah saat bagi kamu untuk melakukannya, Sayang. Mengerjakan pesan dan amanah umi. Mengambil hikmah sebanyak-banyaknya dari cerita umi. Membalas segala pengorbanan umi dengan menjadi anak yang sholeh lagi berbakti, Sayang.
Karel, kamu memang hanya bisa bersama umi di dunia tidak lebih dari satu jam, Sholeh. Sesaat setelah kelahiranmu, saat kamu melakukan IMD. Tapi jangan khawatir, nanti-nanti, di akhirat kelak, kamu masih punya kesempatan untuk bertemu dengan umi, Sayang. Bahkan untuk membersamainya selamanya. Syaratnya, kamu hanya harus jadi anak sholeh yang mencintai umimu dengan sangat, Sayang. Sebagaimana ayat Al-Quran yang pernah dibaca dan disampaikan umi;
Orang-orang yang beriman dan anak cucu mereka yang mengikuti mereka dalam keimanan, Kami kumpulkan anak cucu mereka dengan mereka dalam syurga…. (At-Thur: 21)
Jumat, 15 Agustus 2014
Dear Karel : "Kamu Harus Tahu..."
Dear Karel,
Kamis, 07 Agustus 2014
KALAU BERSIN HATI-HATI... (terutama buat yang masih single)
Hanya dengan ‘bersin’ pak dhenya ustad salim menemukan jodohnya.
Suatu saat ketika beliau berada di kereta, ketika bersin (alhamdulillah)
kemudian ada suara pelan akhwat dari kejauhan yang menjawab
yarhamukallah, sontak saat itu juga beliau menghampiri sang akhwat yang
ternyata juga berjilbab (tahun 80-an wanita berjilbab itu langka bangetz
loh..^^).
Beliau kemudian menyodorkan kertas, dan menyuruh sang akhwat
menulis nama ayah dan alamat rumahnya. Sang akhwat pun kaget, buat apa??
beliau menjawab karena ingin tholabul ilmi dengan ayah anda. Sampailah
pada cerita beliau kemudian bertamu ke rumah ayah akhwat itu dan
menjelaskan maksud dan tujuannya. tujuan yang pertama adalah karena
ingin bersilaturrahmi, tujuan yang kedua adalah ingin bertholabul ilmi
karena bisa mendidik anak – anak yang luar biasa, dan tujuan ketiga jika
ayah sang akhwat berkenan agar langsung mempraktekkan ilmu yang didapat
dengan menikahi putrinya.
Sang ayah pun kaget, bingung, karena putrinya
ada 5, mau menikah dengan yang mana. Beliau pun menjelaskan perihal
bertemunya dengan putrinya di dalam kereta, dan sang ayah pun dengan
ligas berkata “Kalau saya nikahkan denagn yang itu saja gimana” beliau
menjawab “iya pak saya siap” Masya Allah, Subhanallah.
Menikahlah pak
dhe dan bu dhenya ustad salim yang kata ustad salim sampai sekarang pak
dhe dan bu dhenya itu masih tetap mesra, masih sering
cubit-cubitan..hehe. Ustad salim pun kemudian menyuruh para hadirin
untuk mempraktekkan cara pak dhenya dalam menjemput jodoh dengan bersin,
dan lihatlah sipa yang menjawab..heheh..mungkin ibu-ibu atau
nenek-nenek yang menjawab..haha :D Tapi mereka mungkin punya anak atau cucu yang bisa dinikahkan dengan kita..eheheheh :)
Begitu juga dengan kisah bertemunya ustad salim dengan istrinya
ustadzah dwi indah. So sweet banget dah..benar-benar menikah di jalan
dakwah..:) Hanya sekitar 1 bulan sejak mereka dita’arufkan, mereka
langsung menikah..(**Lihat blog ustad salim di salimafillah.com baca artikel yang berjudul “Nazhar bukan sekedar Ta’aruf”)
source from : http://ulfanida.wordpress.com/tag/nikah/
Rabu, 02 Juli 2014
Puasa Istimewa itu...."
Kali ini saya ingin menuliskan sedikit uraian
terkait makna puasa. Pembahasan ini saya saripatikan dari penceramah kultum tarawih
di mushola tempat saya dari tanggal 1 s/d 4 Ramadhan 1435 H. Fokus pembahasan
disini terkait esensi (makna inti) dari puasa itu sendiri. Mari kita simak dan
semoga bermanfaat...
Satu ayat yang selalu dijadikan pondasi wajibnya
puasa di bulan ramadhan bagi umat islam adalah surat Al Baqarah ayat 183. “wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan
atas kalian berpuasa, sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian
agar kalian bertaqwa”. Ayat tersebut sepintas mengandung makna umum
perintah wajib berpuasa bagi kita umat islam agar kita bertaqwa. Satu ayat ini
mungkin sudah jutaan orang lebih yang menghafalnya dan mengerti terjemahannya. Alhamdulillah....
Senin, 23 Juni 2014
Selasa, 17 Juni 2014
Kamis, 12 Juni 2014
Ini tentang sejauh mana hati kita merasa cukup..."
Rabu, 11 Juni 2014
Sedih : Hari itu aku dinyatakan gagal mengikuti tes seleksi universitas..."
“Kalau kamu butuh nangis, nangis aja. Bunda ada di sini. Enggak usah pura-pura senyum begitu. Jelek tahu. Untuk kondisi saat ini, muka kamu itu lebih manis kalau menangis, bukan tersenyum.”
Aku langsung meluk bunda, nangis sejadi-jadinya. Melimpahkan kesal sekesal-kesalnya. Setelah seharian mengurung diri di kamar. Hari itu aku dinyatakan gagal mengikuti tes seleksi universitas yang aku pengen banget kuliah di sana. Masalahnya, ini universitas luar negeri. Beasiswa pula. Padahal aku sudah jauh-jauh hari mempersiapkannya. Seperti biasa, kalau aku lagi ada masalah, bunda membiarkanku sendiri untuk beberapa saat sampai dianggap cukup. Lalu, kami akan saling bicara di forum perempuan, berdua saja. Hanya aku dan bunda.
***
“Putri, apa yang terjadi dalam hidup ini, bukan ditentukan oleh kita. Tapi kita selalu bisa menentukan apa yang kita inginkan dalam hidup dan apa yang harus kita lakukan untuk mendapatkannya.” Bunda mulai bicara setelah aku lebih tenang, aku masih dalam pelukan bunda.
Selasa, 10 Juni 2014
kata Ayah:"Laki-laki itu lebih senang dipuji, sedangkan perempuan...."
Itu salah satu nasihat ayah kepadaku, ketika aku bingung bagaimana caranya memperlakukan teman-teman dalam satu organisasi. Dan nasihat itu ternyata benar. Aku pernah mencobanya. Aku pernah bilang sama bunda kalau masakan bunda itu enak, dan jawaban bunda:
“Pasti lagi ada maunya nih.” (langsung ketahuan kan).
Suatu hari yang lain aku bilang sama bunda:
“Kok masakannya bunda berbeda dari biasanya sih?”
Maka bunda langsung menjawab dengan muka antusias, menjelaskan bahannya apa saja, bumbunya apa saja, bagaimana cara memasaknya, dan kenapa begini kenapa begitu yang lainnya. Pembicaraan selanjutnya menjadi lebih lancar. Perhatian memang jauh lebih rumit daripada sekedar pujian.
Minggu, 08 Juni 2014
Karena cinta ada bukan untuk dikunci, tapi untuk disebar dan dirasa manfaatnya (Part 2)
Berantemnya Ayah-Bunda [part-2]
=============================
Sabtu, 07 Juni 2014
Berantemnya Ayah-Bunda [part-1]
===========================
Enggak tahu kenapa ya, belakangan ayah dan bunda lagi seneng banget berantem. Emang aku enggak pernah lihat langsung sih, tapi aku sudah cukup dewasa untuk mengerti kalau hubungan mereka lagi enggak beres. Ada yang ganjil aja. Gimana gitu ngeliatnya.
***
“Bunda, lagi berantem sama ayah ya?”
“Enggak kok, siapa bilang?”
“Udah deh Bunda, dari muka dan cara Bunda ngejawab aja udah ketahuan kalo bunda itu bohong, tahu. Dan di jidat bunda tuh ada tulisan gede-gede ‘berantem sama ayah’. Tapi gpp kok, kalau bunda enggak mau cerita sama Putri.”
“Iya deh, ngaku. Bunda lagi kesel sama ayah, tapi ceritanya nanti aja. Bunda butuh waktu buat menyendiri. Udah sana, hush, hush, hush.”
Jumat, 06 Juni 2014
Cinta, adalah hubungan yang mesra antara dua aku yang berbeda.."
dua aku
=======
=======
Satu hal yang paling aku sukai dari orangtuaku adalah mereka hampir selalu melibatkanku dalam memutuskan hal-hal yang bersifat keluarga, apalagi jika hal itu penting banget untuk hidupku. Dari hal yang sifatnya pendidikan, tentang sekolahku atau adikku, tentang karier mereka di pekerjaan, tentang liburan keluarga, sampai hal remeh-temeh besok enaknya menu apa yang akan dimasak untuk makan malam. Untuk hal-hal tertentu yang kami belum ngerti banget kondisinya, Ayah dan Bunda kompak banget untuk memahamkan anak-anaknya kenapa keputusan atau pilihan itu yang diambil. Setidaknya, kami tetap didengarkan dan dimintai pendapatnya.
Kamis, 05 Juni 2014
Gimana sih cara menasihati yang baik itu ?
Kesalahan
=========
Jujur ya, aku paling enggak suka banget sama orang-orang yang kurang peka. Udah gitu susah banget lagi buat diingetin. Enggak sadar-sadar. Tega melihat teman-temannya terdzolimi karena kesalahannya. Karena tugasnya yang enggak beres-beres. Suka banget buat alasan ini itu yang seolah-olah dibuat-buat dan dibenar-benarkan, dan lagi merasa sudah selesai hanya dengan permintaan maaf. Padahal, maaf tidak selalu bisa menyelesaikan masalah. Udah gitu lagi nih ya, belakangan ini aku banyak banget nemuin orang-orang model begini. Enggak tahu lagi gimana harus membasminya. Lengkap sudahlah penderitaan. Bundaaaaaaaaaaaaa .....
***
"Tersebutlah wanita sederhana nan mulia..."
Anniversary Ayah dan Bunda
=======================
“Ayah, mana yang lebih ayah cintai, bunda atau anak-anak bunda?” sengaja betul Kak Putri menggoda ayah dan bunda malam itu, malam ulang tahun pernikahan mereka.
“Ayah sayang kalian semua, Putri. Bunda, dan anak-anak ayah.”
“Aduh, Ayah. Kak Putri kan nanyanya yang lebih, berarti jawabannya kami atau bunda. Bukan semuanya.” Kali ini aku kompak dengan kak Putri, menggoda mereka. Sebenarnya kami sudah tahu jawabannya. Ya pasti bunda lah ya, bunda kan udah lebih lama hidup sama ayah. Udah merasakan kebahagiaan dan penderitaan bersama-sama. Kami hanya ingin mendengarkan kalimat itu langsung dari ayah.
Selasa, 03 Juni 2014
Cara berpikir saat ini : "...bagi yang belum nikah dan belum lulus juga..."
kriteria [part-8]
==============
“Ini kenapa anak-anak bunda cara berpikirnya jadi kebolak-balik gini sih.” Bunda geleng-geleng kepala menyimak diskusi kami
“Masudnya, Bun?”
“Putri bener, kalau kita harus menjaga perasaan orang lain. Jangan sampai niat baik untuk mengingatkan orang lain agar segera menikah, malah membuat orang yang diingatkan merasa enggak nyaman, merasa enggak tenang, serta berpikiran dan berprasangka yang enggak-enggak. Emang sudah berapa ribu orang sih yang berhasil diingatkan dengan cara seperti itu. Disindir kapan nikahnya, kapan mau nyusul atau berbagai bentuk sindiran lainnya; yang ada malah semakin membebani orang yang bersangkutan. Apalagi kalau perempuan, yang kebanyakan punya tingkat sensitivitas yang lebih dari rata-rata. (next..)
Senin, 02 Juni 2014
2 Pertanyaan Mak Jleb: "Kapan Lulus? atau Kapan Nikah?"
kriteria [part-7]
=============
"............."
“Baik kok, Bun. Sekarang mau ujian tengah semester.”
“Oh ya Bun, besok itu Putra enggak bisa ikut nemenin Bunda ya, ada walimahan senior gitu.”
“Iya, gpp. Siapa emang yang nikah?”
“Kakak angkatan di fakultas. Padahal belum pada lulus loh Bunda, dua-duanya masih tingkat akhir.”
“Terus, Putra mau minta izin ke bunda buat nikah sebelum lulus gitu yah?”
“Eh,, enggak kok Bun. Malah Putra enggak pengen nikah sebelum lulus. Kebanyakan seniorku yang nikah belum lulus tuh, pada tersendat-sendat gitu lulusnya. Dan punya image yang kurang baik gitu Bun. Suka diomongin gimana gitu sama yang lainnya.” (next..)
Minggu, 01 Juni 2014
"Mau minta izin ke Bunda buat nikah sebelum lulus gitu..."
kriteria [part-6]
“Kok nanya itu. Kenapa emang?”
“Gpp kok Bun, cuma pengen tahu aja. Kalau enggak mau jawab juga gpp kok.” Aku baru sadar kalo pertanyaanku itu agak sensitif buat bunda. Ah, buat sebagian besar kaum perempuan lebih tepatnya.
“Hmm, gimana ya?” bunda menarik napas, agak berat sepertinya.
“Bunda setuju-setuju aja dengan poligami. Walaupun berat menerimanya. Itu kan sesuatu yang (next...)
Sabtu, 31 Mei 2014
"Walaupun dia punya Lelaki Idaman...."
kriteria [part-5]
=============
“Ih, Bunda nyebelin deh. Kalau itu aku juga udah tahu. Yang belum aku tahu, kenapa bunda mau pacaran sama ayah dan ngajak nikah?”
“Kan, Bunda belum selesai ngomong, dengerin dulu dong, bundanya. Enggak sabaran gitu.” nada bicara bunda tegas, tapi lembut, kesel ceritanya dipotong. Enggak tahu kenapa aku suka kalau liat ekspresi dan nada bicara bunda yang kayak gitu. Ayah juga kadang suka digituin sama bunda. Kata ayah, itu gaya bunda kalau lagi kesel atau marah. Marah sih, tapi lebih banyak sayangnya. Kebalikan banget dari ekspresi kalau bunda lagi cerewet karena kenakalanku, sayang sih tapi lagi banyak keselnya. Pokoknya lucu deh... (next..)
Jumat, 30 Mei 2014
“Kenapa sih, dulu Bunda memutuskan untuk menikah dengan ayah?”
kriteria [part-4]
=============
=============
Kita lupakan adegan 18+ sebelumnya, kembali pada pembicaraan antar lelaki, pembicaraanku dengan ayah tentang perjalanan hidupnya bersama bunda. Perjalanan yang membuatku ada di dunia, perjalanan yang membuatku begitu bersyukur berada di tengah-tengah mereka, dan perjalanan yang kata ayah; walaupun beliau diberikan kesempatan untuk mengulang kembali perjalanan hidup itu, dan diberikan kesempatan untuk memilih siapapun yang beliau inginkan untuk membersamainya, ayah akan tetap memilih bunda. Bukan yang lainnya.
***
“Ayah, emang salah ya, kalau kita menginginkan pasangan yang ideal?”Ayah tersenyum mendengar pertanyaanku, bikin aku bingung sendiri.
“Kok, Ayah cuma senyum-senyum gitu. Ada yang salah ya dengan pertanyaannya?”
“Enggak kok, pertanyaanmu itu mengingatkan Ayah pada sesuatu.”
“Sesuatu apa emang?”
“Dulu, sebelum menikah dengan bundamu, ayah bergonta-ganti pacar untuk menemukan pasangan yang ideal buat ayah. Dan setelah menikah, hidup bertahun-tahun dengan bunda, ayah baru mengerti kalau ideal itu adalah proses. Kita enggak akan pernah tahu seseorang itu ideal atau enggak buat kita, sebelum kita menjalani hidup bersama dengan orang tersebut. Jadi bohong banget, kalau ada laki-laki yang bilang, kalau pacarnya adalah perempuan ideal yang bisa mendampingi hidupnya kelak. Begitu juga sebaliknya. Cocok mungkin iya, tapi ideal? Masih perlu bukti yang sangat banyak. Dan itu baru bisa diketahui setelah pasangan itu menikah, setelah bertahun-tahun hidup bersama.”
“Bener juga ya, Yah. Kalau Bunda, sudah menjadi pasangan yang ideal buat Ayah?”aku bertanya, menggoda ayah
“Isteri yang baik dan sholehah iya, tapi ideal? Sampai sekarang, setiap hari kami berusaha untuk menciptakan kondisi itu.Setiap hari ayah berusaha untuk bunda, kamu dan kakakmu. Begitu juga bunda. Kami sendiri enggak tahu sudah seberapa ideal atau bahkan mungkin jauh dari ideal. Buat ayah dan bunda, komitmen untuk saling terbuka, saling menerima kekurangan masing-masing, lalu bantu-membantu untuk memperbaikinya, ditambah komitmen untuk memprioritaskan keluarga; sudah cukup untuk menjembatani perbedaan antara kami, untuk menyikapi kekurangan dan kelemahan kami. Terserah mau ideal ataupun enggak.”
“Lagipula, setiap orang punya kelebihan dan kekurangan. Termasuk ayah dan bunda. Buat ayah, pasangan yang ideal itu bukan pasangan yang sama-sama memiliki banyak kelebihan. Bukan juga pasangan yang mendekati sempurna. Tapi pasangan yang kelebihannya bisa melengkapi kekurangan yang lain. Kalaupun keduanya sama-sama memiliki kelemahan yang sama, setidaknya bisa saling memahami dan memperbaiki. Dibutuhkan kesabaran yang tidak sedikit untuk itu, diperlukan waktu yang tidak sebentar untuk membiasakannya. Dibutuhkan masalah yang tidak sedikit untuk membuktikannya. Itulah kenapa ideal itu butuh proses. Tidak langsung terbentuk. Bahkan kondisi dua orang yang sama-sama baik, sama-sama nampak cocok dengan kelebihannya masing-masing, lalu keduanya menikah, tidak menjadi jaminan kalau mereka akan menjadi pasangan yang ideal.”
***
“Ehem.” tiba-tiba bunda sudah ada di depan kami. Kamipun berhenti sejenak.
“Lagi seru ya ngobrolnya. Maaf bunda ganggu sebentar. Ayah, katanya mau ada perlu ke rumah temen. Jadi? Ini udah jam berapa, nanti kemalaman loh.”
“Oh iya, ya Bun. Hampir aja lupa. Makasih ya, udah diingetin.” Bunda mengangguk sambil tersenyum.
“Putra, ayah harus berangkat nih. Nanti aja ya dilanjutin lagi ngobrolnya. Atau kalau mau dilanjutin sekarang sama bunda juga boleh. Bunda bisa kan?” Bunda tersenyum lalu mengangguk
“Oke deh, Ayah. Hati-hati ya.”
***
Lupakanlah tentang kenakalanku, tentang banyak hukuman yang aku terima dari perempuan di hadapanku ini, tentang betapa cerewetnya bunda kalau akunya lagi bandel. Enggak tahu kenapa seteleh mendenger kisah ayah dan bunda, bunda menjadi sosok yang begitu berbeda di hadapanku. Tentu saja aku tidak bisa langsung mengobrol dengan bunda, aku harus menunggu terlebih dahulu, sambil mau enggak mau menyaksikan adegan ini; ayah yang duduk di hadapanku berdiri, lalu berjalan menuju pintu depan, bunda langsung mensejajari ayah, mengantar ayah sampai pintu depan, membukakan pintu untuk ayah, tangan ayah dicium, kepala bunda juga sama. Terdengr dialog yang tak ang lagi; Bunda, Ayah berangkat dulu ya. Hati-hati ya. Iya. Assalamualaikum. Waalaikumsalam.
Bunda menutup pintu, lalu menemuiku.
***
“Bunda, boleh aku tanya sesuatu?” aku langsung bertanya, bahkan sebelum bunda duduk.
“Boleh, mau tanya apa emang?”
“Kenapa sih, dulu Bunda memutuskan untuk menikah dengan ayah?”
“Ih, suka-suka Bunda dong mau nikah sama siapa.” bunda bercanda menjawab pertanyaanku
“Aduh, aku serius ini, Bunda. Kenapa harus ayah, bukan laki-laki yang lain?”
“Iya deh, segitu penasarannya anak bunda. Begini ceritanya....”
*** bersambung ke part-5
___ Serial Ayah-Bunda, Nazrul Anwar
***
Serial ini akan bersambung sampai part-8, akan terposting secara otomatis di page ini setiap jam 17.00 dari tanggal 27 Mei - 03 Juni 2014. Sebagian besar bahannya adalah hasil diskusi dan 'berantem' sama seseorang. Selamat menikmati, silahkan dishare sebanyak-banyknya jika dirasa bermanfaat
source from : https://www.facebook.com/abinya.karel?ref=ts&fref=ts
Kamis, 29 Mei 2014
Keduanya menangis...."
kriteria [part-3]
===============
“Dan setelah menikah, Ayah enggak pernah jatuh cinta lagi?”
“Pernah, sering malah.”
“Lah, Ayah tega mengkhianati Bunda?”
“Tentu saja enggak harus mengkhianati bunda, karena setelah menikah dengan bunda, ayah selalu jatuh cinta pada perempuan yang sama. Ya bundamu itu.”
“Aih, kok bisa gitu sih, Yah?”
“Komitmen selalu bisa menimbulkan cinta. Tapi tidak semua cinta bisa menghasilkan komitmen. Bahkan untuk beberapa kondisi, cinta yang ditimbulkan dari komitman, memberikan efek yang jauh lebih kuat dan lebih dalam.”
“Kenapa bisa begitu?”
“Karena komitmen, mau enggak mau mengharuskan ayah dan bunda membangun cinta itu bersama-sama. Berproses. Tidak otomatis. Ada perjuangan disana. Berbeda ketika kita mencintai seseorang sebelum ada komitmen. Katakanlah kamu mencintai perempuan yang cantik, sederhana, dan sholehah tadi. Pertanyaannya adalah, seberapa layak kamu mencintai anak gadis orang dengan kriteria seperti itu? Padahal tidak sedikitpun kamu berperan dalam prosesnya menjadi cantik, baik, ataupun sholehah. Kamu hanya melihat apa yang sudah jadi. Kamu hanya mencintai apa yang sudah ada. Seberapa besar kamu bisa mencintai seseorang yang belum menjadi milik kamu, padahal manusia hanya akan benar-benar mencintai sesuatu yang ia miliki?”
“Tapi komitmen, memiliki cara kerja yang berbeda. Komitmen membuat aku dan kamu menjadi kita. Membuat ayah bertanggungjawab terhadap apa yang terjadi pada bunda, begitu juga sebaliknya. Ayah bertanggungjawab terhadap kekurangan bunda. Sehingga ayah juga akan membantu untuk memperbaiki bunda, jika kekurangan itu memang bisa diusahakan untuk diperbaiki. Proses itulah yang membuat cinta itu kian tertanam. Apalagi jika diantara kami melihat perubahan yang lebih baik pada diri masing-masing, dan ternyata ada kontribusi atau peran masing-masing dalam perubahan itu. Tapi, jika kekurangan itu sesuatu yang memang tidak bisa diperbaiki, seperti yang bersifat fisik, komitmen juga akan membuat kami saling menerima. Dan penerimaan yang tulus, tentu saja merupakan bentuk cinta tersendiri.”
“Komitmen untuk mewujudkan keluarga sakinah, mawaddah, warrohmah, yang membuat bunda tidak pernah berputus asa menghadapi ayah, bersabar membimbing ketertinggalan ayah dalam urusan agama, tanpa melupakan bakti dan kewajibannya sebagai seorang isteri. Komitmen itu juga yang membuat ayah tidak menyerah untuk terus belajar, untuk menjadi lebih bertanggungjawab lagi, untuk menjadi imam yang benar-benar layak untuk bunda, untuk menjadi ayah yang bisa diteladani anak-anaknya. Komitmen itu yang membuat ayah selalu merasa terlahir kembali menjadi manusia yang baru, manusia yang berusaha untuk jadi lebih baik dari hari ke hari.”
“Intinya, komitmen akan membuat siapapun melakukan apapun yang ia mau. Pertanyaan yang tertinggal adalah; untuk apa dan siapa ia melakukannya?”
“Dan Ayah melakukan semuanya buat Bunda?”
“Yup.”Jawab ayah sambil mengangguk
“Wow. Bunda beruntung banget ya, kalau gitu. Bangga deh jadi anaknya Ayah.”aku tersenyum menggoda ayah, sebelum akhirnya dibuat bingung dengan jawaban ayah selanjutnya.
“Sayangnya, ayah salah. Ternyata, bunda tidak mengharapkan itu dari ayah. Dan kamu tahu, gimana rasanya melakukan sesuatu untuk seseorang yang kamu cintai, tapi ternyata orang itu sama sekali tidak menginginkan kita melakukannya? Sangat tidak enak. Untung bunda menyampaikannya dengan baik, jadi tidak menyakiti hati ayah.”
“Loh, emang Bunda pengennya gimana? Kok enggak mau diperlakukan seperti itu? Bukankah setiap orang harusnya senang diperlakukan dengan sebaik itu?”
***
Anggaplah kalian sedang menonton film, lalu dengan sembarangan adegannya meloncat ke masa puluhan tahun silam. Flashback. Sebenernya sang sutradara bisa saja menggambarkan adegan itu dengan cerita masa lalu yang diceritakan oleh tokohnya. Misalkan dalam kisah ini, seperti sebelumnya, ayah menceritakan tentang masa lalunya. Tapi biar lebih dramatis, biar lebih dapet efek emosionalnya, untuk bagian ini aku akan menceritakan apa yang sudah disampaikan ayah melalui adegan langsungnya, antara ayah dan bunda, sekian puluh tahun silam, di ulangtahun pernikahnnya yang pertama. Btw, kalau adegan di bawah ini ditayangkan di tv-tv, di sudut kanan atas mungkin akan ada simbol 18+, artinya khusus untuk usia 18 tahun ke atas.
***
“Bunda, makasih ya atas semuanya. Atas kepercayaannya, atas kesabarannya, atas penerimaannya. Atas perlakuan yang begitu baik. Atas semua hal yang terjadi setahun ini. Makasih telah menyadarkan ayah, bahwa hanya laki-laki yang bertanggunjawablah yang benar-benar berhak untuk menjadi seorang suami.” Bunda yang mendengar hanya bisa tersenyum, menunduk malu-malu, lalu menatap ayah lagi.
“Ayah, boleh bunda minta sesuatu?”
“Boleh, Bunda mau minta apa? Kalau Ayah bisa, pasti ayah penuhi.”ayah begitu antusias, soalnya jarang-jarang si bunda minta sesuatu.
“Ayah, bunda sangat berterimakasih atas semua kebaikan yang ayah lakukan kepada bunda. Bunda juga bersyukuuur banget, Allah menitipkan bunda kepada laki-laki seperti Ayah.Tapi suatu hari nanti mungkin bunda enggak ada. Suatu hari akan ada yang lain selain bunda, ada anak-anak. Suatu hari nanti mungkin bunda bisa berubah. Dan bunda mau, ada atau enggak ada bunda, bersama atau enggak bersama bunda, ayah tetap melakukan kebaikan itu, tetap memiliki tanggungjawab itu. Bukan hanya kepada bunda, bukan juga karena bunda. Bunda juga akan mencoba berusaha untuk terus memperbaiki diri, menjadi isteri yang baik buat ayah, juga ibu yang baik buat anak-anak kita nantinya. Menjadi diri bunda yang lebih baik untuk sesama. Agar kebersamaan kita bisa berarti juga untuk orng lain. Dirasakan juga manfaatnya untuk orang lain. Bukan untuk diri kita sendiri saja. Bunda juga selalu minta kerelaan dan keridhoan ayah untuk setiap apa yang bunda lakukan. Ingetin kalo bundanya salah, bilang kalau ada tindakan bunda yang kurang berkenan di hati ayah, marahin aja kalau bundanya bandel.”
Keduanya menangis. Bukan karena sedih. Bukan juga karena bahagia. Mungkin karena cinta, salah satu buah komitmen yang sudah mereka dapatkan, dan akan terus mereka dapatkan.
*** bersambung ke part-4
___ Serial Ayah-Bunda, Nazrul Anwar
***
Serial ini akan bersambung sampai part-8, akan terposting secara otomatis di page ini setiap jam 17.00 dari tanggal 27 Mei - 03 Juni 2014. Sebagian besar bahannya adalah hasil diskusi dan 'berantem' sama seseorang. Selamat menikmati, silahkan dishare sebanyak-banyaknya jika dirasa bermanfaat
source from : https://www.facebook.com/abinya.karel?ref=ts&fref=ts
Rabu, 28 Mei 2014
Terus kalau gitu, kenapa enggak diputusin aja...???
kriteria-2 [part-2]
================
Selesai makan malam. Aku langsung menculik ayah dari ruang makan. Enggak sabar melanjutkan pembicaraan yang tertunda.
***
“Ayah, ayo ceritain lagi, apa yang membuat Ayah dulu memilih bunda sebagai pendamping hidup?”
“Komitmen.”
“Hah, cuma itu, Ayah? Emang Ayah enggak cinta gitu sama bunda?” aku kaget denger jawaban ayah yang simple banget
“Ehm, gimana ya?”Ayah sok mikir, sengaja bener ingin buat aku penasaran
“Cinta sih, tapi bukan itu alasan utamanya. Kalau alasan utamanya cinta, bukan bunda yang ayah nikahi. Tapi perempuan yang lainnya. Perempuan yang benar-benar sesuai dengan kriteria ayah.”
“Nah loh, maksudnya gimana?”
“Kan dulu Ayah pernah cerita, kalau sebelum menikah dengan bunda, ayah sempat berganti pacar beberapa kali. Dan jujur ya, kalau ngomongin cinta, cintanya ayah ke bunda waktu itu tidak ada apa-apanya kalau dibandingkan cintanya ayah ke pacar-pacar sebelumnya. Artinya, kalau pertimbangan utamanya cinta, Ayah pasti akan mencari perempuan lain yang lebih ayah cintai, bukan bunda yang awalnya hanya pelarian saja setelah Ayah putus dari pacar yang sebelumnya.”
“Waduh, jadi bunda Cuma pelarian aja buat Ayah, perempuan cadangan gitu?” enggak tahu kenapa, tiba-tiba aku jadi emosi.
“Iya. Tapi itu kan dulu, waktu ayah masih belum ngerti.”
“Terus gimana ceritanya Ayah bisa memutuskan untuk menikah dengan bunda?”
“Ceritanya, memasuki bulan ketiga ayah pacaran sama bunda, enggak tahu kesambet malaikat dari mana, tiba-tiba bunda ngajakin nikah. Katanya, bunda enggak mau pacaran lagi. Kalau mau, nikahi bunda secepatnya, atau bunda minta putus aja. Terus bakalan cari laki-laki lain yang mau jadi suaminya bunda. Waktu itu ayah bingung banget kan. Enggak ada rencana sama sekali untuk menikah cepat. Bahkan enggak ada rencana buat nikahin bunda. Orang tujuannya mau pacaran doang kok.”
“Terus kalau gitu, kenapa enggak diputusin aja bundanya. Kok malah dinikahin sih?”
“Sebenarnya waktu itu ayah mau langsung putusin bunda. Nothing to lose lah ya. Lagian kan ayah enggak cinta-cinta banget sama bunda. Tapi gengsi dong, kesannya kalau langsung bilang putus gitu, kayaknya enggak gentle banget. Enggak bertanggungjawab. Akhirnya, ayah basa-basi minta waktu seminggu buat memikirkan dulu. Baru ngasih keputusan ke bunda. Padahal waktu itu, ayah udah punya jawabannya.”
“Terus, terus?”
“Nah, waktu seminggu itu, iseng-iseng Ayah mikirin bunda. Terus Ayah merenung gitu deh. Sebenernya mau apa sih? Mau cari perempuan yang kayak gimana lagi? Udah nemu sama yang sesuai dengan kriteria banget, ideal menurut Ayah, udah dipacarin juga, tapi putus juga tuh, masih banyak kurangnya juga, masih banyak yang enggak cocoknya juga. Padahal belum apa-apa. Apalagi kalau nanti menjalani kehidupan keluarga yang lebih rumit. Enggak ada yang bisa menjamin. Termasuk cinta. Terus kenapa dipacarin kalau enggak mau dinikahin. Kenapa harus mempermainkan perasaan sendiri dan orang lain kalau nantinya enggak hidup bareng. Dan kenapa-kenapa yang lainnya, yang Ayah sendiri enggak bisa jawab.”
“Ceritanya Ayah tobat gitu ya?” tanyaku sambi tersenyum
“Belum sih. Masih bingung. Masih belum tahu kenapa dan harus apa. Terus ayah sampai pada kesimpulan; kalau dipikir-pikir, sebenarnya siapapun yang jadi pendamping hidup ayah, pasti punya kelemahan. Seideal apapun perempuan itu. Jadi masalahnya bukan tentang seberapa ideal atau seberapa sesuai dengan kriteria yang diinginkan. Tapi tentang bagaimana kita menyikapi kelemahan masing-masing. Kalau kitanya egois, mau menang sendiri, ya pasti ujung-ujungnya banyak ributnya, terus putus kayak pacar-pacar yang sebelumnya.”
“Tapi kalau sama-sama memiliki komitmen untuk saling menerima, untuk saling memperbaiki, untuk saling mengisi, memahami juga menghargai, sekurang ideal apapun pasangan kita, sekurang sesuai apapun dengan kriteria yang kita inginkan, harusnya tidak akan terlalu bermasalah, kalau kita punya niat yang benar untuk membangun keluarga yang baik, juga punya komitmen yang kuat untuk mewujudkannya. Bersama siapapun yang menjadi pasangan hidup kita.”
“Dan bunda punya itu?”
“Iya. Bundamu punya komitmen itu. Seminggu kemudian sebelum ayah memberikan jawaban ke bunda, ayah bertanya tentang kenapa bunda memberikan pilihan itu kepada ayah, dan apa rencana bunda kalau kami menikah kelak.”
“Terus jawaban bunda apa, Ayah?”
“Jawaban lengkapnya, nanti kamu tanya saja ke bundanya langsung. Intinya, bunda menawarkan komitmen itu kepada ayah dan meminta ayah juga memberikan komitmen yang sama. Enggak menuntut apa-apa dan enggak aneh-aneh. Karena ayah sepemikiran dengan bunda, dan ayah juga tahu kalau bunda itu selalu menepati janji, enggak pernah macem-macem juga, ayah bilang ke bunda jawabannya iya. Ayah mau nikahin bunda.”
“Berarti cinta itu enggak penting dong ayah?”
“Penting. Tetap penting. Siapa yang mau hidup bersama tanpa perasaan cinta. Hanya saja itu bukan yang paling utama. Dalam diri manusia, komitmen berada pada area yang jauh lebih rasional daripada cinta. Cinta lebih banyak didominasi oleh perasaan, yang kadang enggak masuk akal. Bahkan bagi orang-orang yang enggak bisa mengendalikannya, perasaan itu jadi enggak seimbang. Karena cinta mendominasi sebagian besar perasaan yang diisi dengan harapan selalu bahagia. Padahal, Allah itu menciptakan begitu banyak rasa, bukan hanya bahagia saja. Padahal sejatinya, sumber kebahagiaan itu bukan cinta. Tapi pada bagaimana kita menerima dan mensyukuri apa yang sudah Allah berikan kepada kita. Cinta hanyalah salah satunya. Bukan satu-satunya.”
“Berbeda dengan cinta, komitmen memberikan kesiapan tersendiri untuk menghadapi hal yang tidak disukai oleh masing-masing. Komitmen menyadarkan bahwa sebagaimana kehidupan pada umumnya, dalam rumah tangga akan banyak masalah dan ujian yang harus dihadapi bersama. Dan seberat apapun ujian itu, komitmen akan memberikan kepercayaan dan keyakinan tersendiri, kalau kita bisa mengatasinya bersama-sama. Kalau rasa cinta, biasanya enggak akan sedalam dan sejauh itu.
“Lagian, rumah tangga tidak otomatis memberikan kebahagiaan pada yang menjalaninya. Kalau otomatis begitu, pastinya enggak ada pasangan yang bercerai. Tapi rumahtangga memberikan kesempatan untuk menghadapi semuanya bersama-sama. Untuk sama-sama mencari kebahagian, untuk sama-sama mengatasi kesedihan. Mengenai bagaimana hasilnya, ditentukan dari seberapa besar komitmen masing-masing dalam menjalankannya. Bukan sekedar pada perasaan cinta yang dimilikinya.”
“Dan setelah menikah, Ayah enggak pernah jatuh cinta lagi?”
“Pernah, sering malah.”
“Lah, Ayah tega mengkhianati Bunda?”
“Tentu saja enggak harus mengkhianati bunda, karena setelah menikah dengan bunda, Ayah selalu jatuh cinta pada perempuan yang sama. Ya bundamu itu.”
“Aih, kok bisa gitu sih, Yah?”
*** bersambung ke part-3
___ Serial Ayah-Bunda, Nazrul Anwar
***
Serial ini akan bersambung sampai part-8, akan terposting secara otomatis di page ini setiap jam 17.00 dari tanggal 27 Mei - 03 Juni 2014. Sebagian besar bahannya adalah hasil diskusi dan 'berantem' sama seseorang. Selamat menikmati, silahkan dishare sebanyak-banyknya jika dirasa bermanfaat
source from: https://www.facebook.com/abinya.karel?fref=nf
Langganan:
Komentar (Atom)










