Rabu, 11 Juni 2014

Sedih : Hari itu aku dinyatakan gagal mengikuti tes seleksi universitas..."


“Kalau kamu butuh nangis, nangis aja. Bunda ada di sini. Enggak usah pura-pura senyum begitu. Jelek tahu. Untuk kondisi saat ini, muka kamu itu lebih manis kalau menangis, bukan tersenyum.” 

Aku langsung meluk bunda, nangis sejadi-jadinya. Melimpahkan kesal sekesal-kesalnya. Setelah seharian mengurung diri di kamar. Hari itu aku dinyatakan gagal mengikuti tes seleksi universitas yang aku pengen banget kuliah di sana. Masalahnya, ini universitas luar negeri. Beasiswa pula. Padahal aku sudah jauh-jauh hari mempersiapkannya. Seperti biasa, kalau aku lagi ada masalah, bunda membiarkanku sendiri untuk beberapa saat sampai dianggap cukup. Lalu, kami akan saling bicara di forum perempuan, berdua saja. Hanya aku dan bunda.

*** 

“Putri, apa yang terjadi dalam hidup ini, bukan ditentukan oleh kita. Tapi kita selalu bisa menentukan apa yang kita inginkan dalam hidup dan apa yang harus kita lakukan untuk mendapatkannya.” Bunda mulai bicara setelah aku lebih tenang, aku masih dalam pelukan bunda. 

“Terkadang, pilihan terbaik bukanlah apa yang benar-benar kita inginkan. Pilihan terbaik adalah pilihan yang tidak membuat kita menyesal menjalaninya. Artinya, selalu ada kesempatan untuk menjadikan suatu pilihan yang kita ambil, seburuk apapun pilihan itu, sebagai pilihan yang terbaik. Selama kita bisa menikmati dan menjalaninya dengan baik, dengan penuh tanggungjawab, tidak dengan penyesalan yang berlarut-larut. Kalau memang sudah benar-benar tidak bisa menjalaninya, baru kita tinggalkan dan mencari pilihan lain yang lebih baik lagi. Apa Putri lupa, kalau Allah selalu memberikan yang terbaik untuk kita?”

”Iya sih, Bunda. Tapi tetap aja Putri gagal, enggak bisa mewujudkan keinginan Putri.”

“Gagal itu masih diperbolehkan kok, Sayang. Bahkan banyak orang yang lebih banyak mendapatkan pelajaran dari kegagalan ketimbang dari kesuksesan. Dengan kegagalan, kita tahu kelemahan kita. Sedangkan salah satu cara terbaik menjadi kuat adalah dengan mengetahui kelemahan. Yang tidak boleh adalah menyerah. Karena kalau kita menyerah saat ini, sejatinya kita sedang menyerah di masa depan. Bukankah masa depan kita ditentukan pada saat ini. Itulah kenapa saat ini jauh lebih berharga daripada masa lalu ataupun masa depan.”

“Putri ngerasa apa yang selama ini Putri lakukan itu sia-sia, Bunda. Udah capek ini itu, kesana kemari, tetep aja belum berhasil. Kok kayaknya enggak adil ya.”

“Eh, Putri enggak boleh ngomong gitu. Tidak ada usaha yang sia-sia, Sayang. Apalagi jika usaha itu tergolong dalam kebaikan. Selalu ada balasan untuk setiap kebaikan. Hanya saja, tidak selalu kebaikan yang kita lakukan dibalas pada saat itu juga. Terkadang Allah menundanya, Karena Dia lebih tahu saat yang tepat untuk membalasnya. Saat dimana kita benar-benar membutuhkan balasan itu.”

“Tapi ada temen Putri yang usahanya biasa-biasa saja, berhasil Bunda. Tapi kenapa Putri yang udah usaha dan berdoa mati-matian masih aja gagal?”

“Iya, Putri akan capek dan iri kalau menggunakan standar orang lain. Percayalah, Allah punya hitungan sendiri untuk masing-masing hambaNya. Setiap usaha ada balasannya. Bisa saja orang yang rajin berusaha dan jarang berdoa yang berhasil. Bisa jadi juga orang yang rajin berdoa dan rajin berusaha yang berhasil. Bahakan adakalanya, mereka yang tidak berusaha dan tidak berdoa yang berhasil. Tapi setiap usaha dan doa ada hitungan masing-masing. Orang yang berusaha mati-matian tapi lupa berdoa bisa saja berhasil sesuai sunatullah, tapi yang bersangkutan hanya mendapatkan pahala berusaha saja, tidak mendapatkan pahala berdoa. Begitu juga sebaliknya, ada yang hanya dapat pahala berdoa tapi sedikit yang mendapatkan pahala berusaha karena usahanya belum optimal. Makanya, yang lebih baik selalu yang rajin berusaha dan rajin berdoa. Perkara berhasil atau tidak, itu urusan Allah. Setidaknya, kita bisa mendapatkan pahala dari usaha dan doanya. Kalau berhasil juga, anggap saja itu bonus.”

“Maafin Putri, ya Bunda. Udah gagal dan mengecewakan.”

“Enggak ada yang perlu dimaain kok, Sayang. Terkadang, proes, pembelajaran jauh lebih penting dari sekedar keberhasilan dan kegagalan. Ngomong-ngomong, apa rencana Putri sekarang?”

“Belum tahu Bunda. Nanti deh, aku pikirin lagi.”

“Ya udah kalau begitu, ayo makan malam. Yang lain udah nungguin tuh. Dari siang Putri belum makan, kan?”

“Iya, Bunda.”

** 

Sepertiga malam. Aku terbangun hendak ke kamar mandi. Tak sengaja mendengar lirih isak tangis perempuan. Tentu saja bukan setan. Aku kenal banget suara lembut itu. Suara bunda. Selintas aku juga mendengar namaku ada dalam lirih doanya. Sudah pernahkah aku ceritakan pada kalian sebuah rahasia kecil? Kalau bunda selalu punya lebih banyak air mata untuk anak-anaknya.

____ Serial Ayah-Bunda, Nazrul Anwar

source from : https://www.facebook.com/abinya.karel?fref=ts

Tidak ada komentar:

Posting Komentar