Anniversary Ayah dan Bunda
=======================
“Ayah, mana yang lebih ayah cintai, bunda atau anak-anak bunda?” sengaja betul Kak Putri menggoda ayah dan bunda malam itu, malam ulang tahun pernikahan mereka.
“Ayah sayang kalian semua, Putri. Bunda, dan anak-anak ayah.”
“Aduh, Ayah. Kak Putri kan nanyanya yang lebih, berarti jawabannya kami atau bunda. Bukan semuanya.” Kali ini aku kompak dengan kak Putri, menggoda mereka. Sebenarnya kami sudah tahu jawabannya. Ya pasti bunda lah ya, bunda kan udah lebih lama hidup sama ayah. Udah merasakan kebahagiaan dan penderitaan bersama-sama. Kami hanya ingin mendengarkan kalimat itu langsung dari ayah.
“Ayo, makan dulu.” Bunda yang juga ada bersama kami berusaha mengalihkan suasana, tapi Kak Putri tetep ngotot.
“Jawab dulu, Ayah.”
“Iya deh, ayah jawab. Hmmm” Ayah diam sejenak. Kami semua penasaran menanti jawaban ayah. Kak Putri udah senyum-senyum aja.
“Siapa, Ayah? Siapa?” Aku udah enggak sabaran
“Tentu saja, ayah lebih mencintai anak-anak ayah daripada bunda. Lebih mementingkan anak-anak. Iya kan, Bunda?”
“Hah?” Aku dan kak Putri cuma melotot kaget, bunda tidak menjawab, mukanya sedikit cemberut. Cemburu, lucu deh ngeliatnya.
“Kalian tahu, apa hal paling penting yang harus dilakukan seorang ayah demi anak-anaknya?
“Apa emang, Ayah?”
“Mencintai ibu mereka dengan cinta yang setulus-tulusnya, dengan cinta yang sebesar-besarnya.”
Aih, wajah si bunda langsung merona merah, walaupun ditahan-tahan. Lebih lucu daripada wajah cemberut sebelumnya.
Sayangnya, tak akan ada cinta yang seperti itu, tanpa dilandasi cinta kepada Allah. Karena sejatinya, ketulusan itu selalu berhubungan dengan Allah.” Kami malah bingung dengan kata-kata Ayah.
“Maksudnya, Yah?”
***
Sekian belas abad silam, tersebutlah wanita sederhana nan mulia bernama Ummu Sulaim. Adalah Abu Talhah, pria paling kaya diantara kaumnya, yang sangat ingin menikahi janda yang mulia itu. Sayangnya, mereka berbeda akidah. Sedangkan bagi Ummu Sulaim, tak ada pernikahan dengan akidah yang berbeda. Karena cintanya terhadap Ummu Sulaim, Abu Talhah berpindah akidah. Mereka menikah dengan mahar paling indah yang tidak akan pernah dilupakan oleh penduduk langit; syahadat untuk keislaman Abu Talhah.
Merekalah, pasangan yang diabadikan di salah satu ayat Allah, karena bersedia menjamu tamu padahal waktu itu mereka hanya punya makanan yang cukup untuk keluarga sendiri (semenjak masuk islam, hampir seluruh kekayaan Abu Talhah dibagi-bagikan). Akhirnya, anaknya hanya diberikan minum dan ditidurkan, sementara dalam suasana remang, suami-isteri itu hanya pura-pura makan. Yang benar-benar makan hanya para tamu saja.
Suatu hari, anak kesayangan mereka meninggal. Waktu itu, sang ayah sedang di luar rumah. Sepulangnya di rumah, Abu Talhah mencari-cari anaknya. Kata isterinya, anaknya baik-baik saja. Seolah tidak terjadi apa-apa; malam itu Ummu Sulaim benar-benar melayani suaminya dengan pelayanan yang sebaik-baiknya. Esoknya, setelah suaminya lebih tenang. Ummu Sulaim bertanya kepada suaminya:
“Wahai suamiku, bagaimana menurutmu jika ada yang menitipkan barang kepadamu dan pemiliknya mengambilnya. Haruskah kita mengembalikannya, padahal kita sudah terlanjur suka dengan barang itu.”
“Iya, kita harus mengembalikannya. Itu bukan hak kita.”
“Suamiku, sesungguhnya, anak kita adalah titipan Allah. Dan Allah sudah mengambilnya dari kita.”
Lalu, dalam sejarah peradaban islam, anak hasil hubungan suami-isteri malam itu, tercatat memiliki tujuh keturunan yang semuanya hafal keseluruhan Al-Quran.
***
Itu cerita ayah menjelaskan maksud kata-katanya tadi. Ayah menceritakan betapa indahnya keluarga yang dilandasi dengan kecintaan kepada Allah. Ayah juga menjelaskan betapa pentingnya cinta ayah ke bunda dalam membesarkan aku dan Kak putri. Katanya, seorang ibu memiliki intensitas yang lebih banyak daripada ayah untuk mengurus dan mendidik anak-anaknya, bahkan darah dan genetikanya tersalur langsung melalui air susu ibu. Biasanya, peran ibu juga sangat besar dalam membangun kebiasaan dan karakter anak-anaknya. Nah, kalau seoranng ibu tidak mendapatkan kasih sayang yang cukup dari ayah, ribut melulu sama ayah, terus mental dan psikologisnya enggak stabil, bisa dibayangkan apa efeknya buat anak-anak. Anak-anak tidak akan mendapatkan perhatian, kasih sayang, dan pembelajaran yang cukup dari ibunya. Karena ibunya sendiri masih kekurangan itu. Kan susah kita ngasih sesuatu, yang kita sendiri nggak punya sesuatu itu. Termasuk, kasih sayang.
Makanya, mohon maaf ini mah, mereka yang kurang beruntung karena memiliki keluarga yang broken home, memilki peluang yang lebih besar untuk menjadi anak yang kurang baik, melakukan penyimpangan sebagai pelarian. Itu pentingnya, ayah harus benar-benar mencintai bunda. Semakin besar cinta yang dirasakan bunda, semakin besar juga perhatian dan kasih sayang yang bisa bunda berikan untuk anak-anaknya, semakin baik juga perkembangan anaknya.
Kalau masih bingung juga, Indonesia sendiri, sebagai negara dengan muslim terbesar di dunia, memiliki angka perceraian mencapai dua ratus ribu pertahun dari dua juta angka pernikahan. Sepuluh persen. Artinya, dari seratus orang yang menikah, sepuluh orang diantaranya yang bercerai. Angka tertinggi diantara negara mayoritas muslim lainnya. Uniknya lagi, sebagain besar yang meminta perceraian itu adalah isteri, bukan suami. Tentu saja, karena suami dirasa masih belum bisa memberikan kasih sayang yang cukup kepada isteri tersebut. Kasih sayang dalam berbagai macam bentuknya.
***
“Ayah, bagaimana caranya agar kita mendapatkan pasangan yang baik?” Tanya Kak Putri, setelah mendengarkan cerita ayah
“Laki-laki yang baik hanya diperuntukkan bagi perempuan yang baik. Begitu sebaliknya. Karenanya, tidak ada hal yang lebih utama bagi laki-laki atau perempuan yang belum menggenapkan agamanya, selain menjaga dan memperbaiki diri dengan sebaik-baiknya. Bagi ayah dan bunda yang sudah menikah? Sama saja. Bedanya, tanggung jawab kami lebih berat, karena harus mendidik kalian juga, sehingga usaha perbaikannya juga harus lebih keras.”
***
Perayaan anniversary itu selesai setelah makan-makan, pemberian hadiah kepada ayah-bunda, cerita ini itu tentang masa lalu ayah bunda, serta akan seperti apa masa depan keluarga kami. Malam ini, bunda lebih banyak diamnya. Entahlah. Mungkin karena terlalu bahagia. Kami masuk ke kamar masing-masing. Katanya, ayah dan bunda ingin melanjutkan merayakan ulang tahun pernikahannya berdua saja. Ehm, ehm. Maksudnya, mau saling mengevaluasi diri gitu. Sebelumnya, aku membantu Kak Putri membereskan ruang keluarga. Mengambil kertas berhiasan indah yang tertinggal, yang sengaja dibuat Kak Putri untuk disertakan pada kado ulang tahun pernikahan ayah dan bunda, tulisannya:
“Ayah, Bunda; kami mencintai kalian karena Allah.”
___ Serial Ayah-Bunda, Nazrul Anwar
***
Well, karena banyak yang request, Serial Ayah-Bunda akan dipepanjang sampai bosen . Jam tayang akan pindah ke prime time; jam 20.00 setiap harinya. Silahkan dishare sebanyak-banyaknya jika dirasa bermanfaat. Enggak usah pake minta izin dulu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar