Kamis, 12 Juni 2014

Ini tentang sejauh mana hati kita merasa cukup..."



"Dulu ya, di zaman rasul itu ada seorang kembang desa yang menikah dengan orang yang tampangnya biasa-biasa saja, pendek, gendut lagi. Suatu ketika, setelah pulang kerja, suaminya tak henti-henti memuji isterinya yang makin hari makin cantik saja. Ah, tentu saja, isteri yang baik akan selalu berusaha tampil secantik mungkin di hadapan suaminya. Menyambut suaminya dengan senyum dan perilaku terbaik sepulang kerja. Tiba-tiba isterinya itu bilang, kalau mereka adalah calon penghuni syurga. Suaminya itu masih bingung, kok bisa? Isterinya berbaik hati menjelaskan; imbalan orang yang bersyukur dan bersabar adalah syurga. Sementara, suaminya sudah bersyukur diberikan isteri seperti dirinya. Dan diapun sudah sangat bersabar diberikan suami seperti itu"

"Hahaha… " kali ini aku ngakak denger ceritanya Bunda

"Eh, ketawanya enggak boleh berlebihan gitu, ah." Bunda mengingatkan, seperti biasa dengan nada dan ekspresi marah sayangnya.

"Habisnya lucu banget sih Bunda." aku masih bicara sambil menahan tawa

"Ih, inti ceritanya kan bukan tentang lucunya. Tapi tentang bagaimana kedua orang itu menghadapi rezeki yang Allah berikan kepada mereka, yang satu bersyukur diberikan isteri yang sebegitu cantiknya. Yang satunya lagi bersabar untuk menerima apa yang sudah Allah tetapkan untuknya. Dan rasa syukur dan sabar itu yang membuat mereka hidup berbahagia. Nah, begitulah seharusnya kita melihat rezeki, Sayang. Bukan tentang seberapa banyak yang kita dapatkan. Tapi tentang seberapa banyak yang kita syukuri, tentang seberapa besar penerimaan kita atas apa yang Allah beri, juga tentang sejauh mana hati kita merasa cukup.”

___ Serial Ayah-Bunda, Nazrul Anwar

source from : https://www.facebook.com/abinya.karel?fref=ts

Tidak ada komentar:

Posting Komentar