Minggu, 08 Juni 2014

Karena cinta ada bukan untuk dikunci, tapi untuk disebar dan dirasa manfaatnya (Part 2)


Berantemnya Ayah-Bunda [part-2]
=============================
“Bunda, ayah tak tahu persis bermacam rupa bentuk setia. Apakah setia itu harus selalu bersama, berbagi suka-duka, menambal yang bolong atau menambah yang kurang? Apakah setia tidak boleh meninggalkan, selalu dekat, selalu ada ketika dibutuhkan? Apakah setia itu berarti tidak pernah berpaling, harus satu, harus mendukung dan menguatkan? Apakah setia itu harus searah, seiya sekata, selangkah sejalan? Satu-satunya setia yang baru ayah pahami adalah mengikuti Allah. Sedangkan perihal ini, Allah mengharuskan ayah untuk menyayangi bunda, serta melarang ayah untuk menyakiti bunda, apalagi mengkhianati bunda. Jadi kalau boleh, ayah minta bunda buat percaya, biar ayah juga lebih tenang menjalaninya. Nanti kalau kondisinya sudah lebih baik, ayah akan segera menepati janji ayah itu.”

*** 

Itu petikan dialog yang sekilas aku dengar, setelah melihat adegan aneh itu. Setelah itu, aku cukup tahu diri untuk masuk ke kamar. Enggak tahu gimana adegan atau dialog selanjutnya. Yang jelas, besoknya mereka sudah berdamai. Jelas sekali nampak di muka-muka mereka ketika ritual rutin di minggu subuh: sholat subuh bareng diruang keluarga, dilanjutkan dengan dzikir dan tilawah bareng juga. Biasanya disambung wejangan-wejangan ayah bunda.

*** 

“Ciee, yang udah baikan. Seneng banget nih kayaknya.” Aku mulai jahil menggoda bunda, sambil membantunya masak di dapur
“Apa sih... “ Bunda pura-pura cuek
“Cerita-cerita dong...”
“Enggak mau ah, bunda lagi sibuk..”

*** 

Bunda enggak banyak cerita, tapi aku yang banyak nanya. 

“Bunda, bagaimana caranya mendapatkan cinta yang sedemikian besarnya dari ayah?”
“Aih, nanyanya cinta-cintaan, curiga nih.” giliran bunda yang menggodaku
“Putri pengen tahu aja bunda, biar bisa belajar.”
“Laki-laki yang baik itu, untuk perempuan yang baik....”
“Aduh bunda, kalau itu aku udah ngerti. Udah bosen juga dengernya. Pasti ujung-ujungnya memperbaiki diri sendiri dulu kan, menjaga diri agar layak mendapatkan laki-laki yang baik? Putri mau jawaban yang lebih konkrit lagi Bunda, teknisnya gimana?”

“Iya deh, tapi yang tadi tetep penting ya. Tambahannya, kalau kamu udah menjaga juga memperbaiki diri sendiri, terus sudah menemukan siapa orangnya, sudah dibolehkan juga secara agama; Kamu, hanya harus mencintai orang itu dengan cinta yang sama besar, seperti kamu ingin dicintainya. Terserah mau bagaimana caranya. Karena cinta bukan keharusan untuk melakukan sesuatu, tapi lebih kepada kerelaan dalam melakukannya. Itulah kenapa dicintai itu jauh lebih sulit daripada mencintai. Kita bisa mencintai siapapun sesuka kita, tapi tidak semua orang bisa dan mau mencintai kita?” 

“Terus gimana dong Bun, menemukan orang yang kita cintai dan mau mencintai kita?”

“Bunda enggak begitu tahu cinta itu yang kayak apa, Sayang. Buat bunda, cinta itu apa yang ada di hadapan mata. Cinta itu ya kamu, adikmu, dan tentu saja ayah. Masalahnya, sebagaimana sedih dan bahagia cinta itu masuk dalam golongan perasaan. Dan yang namanya perasaan, tidak akan terlepas dari apa yang namanya hawa nafsu. Karenanya, harus dikendalikan. Enggak boleh dibiarkan berkeliaran begitu saja.”

“Ye, emang ayam apa berkeliaran? Terus Bunda?” 

“Mengenai siapa orangnya, tak penting nantinya kepada siapa perasaan cinta itu akan berlabuh, selama kita mau mengalirkan perasaan itu, cinta akan selalu mendapatkan tempatnya yang layak. Tapi kalau kita sudah menyimpan dan menguncinya kepada hati seseorang, kita akan sulit mengalirkannya ke tempat yang lain. Cinta jadi terpenjara. Cinta tak lagi bebas menyebar. Cinta akan kekurangan manfaat. Karena cinta ada bukan untuk dikunci, tapi untuk disebar dan dirasa manfaatnya.”

“Kalaupun kamu ingin menguncinya, jadikan kuncinya adalah ikatan, ikatan yang dibolehkan. Bukan mengikatnya pada hati seseorang. Hati itu berbolak balik. Tak ada jaminan kebahagiaan dan keselamatan dunia-akhirat, kalau kamu menguncinya kepada hati seseorang. Sedangkan ikatan yang dibolehkan, akan memberikan batas dan ruang yang cukup luas untuk mengembangkan perasaan itu. Kalaupun hati yang ada di dalamnya berbolak-balik, cinta itu tak akan kemana-mana. Hanya berkeliaran di ruang keluarga, kadang berserakan, kadang berantakan, tapi masih sangat bisa disatukan, diperbaiki, dan lebih sulit dibuang dan ditinggalkan.”

“Terus Bunda, gimana kita tahu pasangan kita nantinya layak atau enggak layak buat kita?”

“Kadang, hidup hanya tentang perbandingan-perbandingan. Dan kita akan capek sendiri menentukan perbandingan yang ideal. Tiap orang punya perbandingannya masing-masing lah ya, punya standar tersendiri. Seperti itu juga tentang layak tak layak. Dan untuk mempermudah memahami perbandingan-perbandingan itu, gunakanlah standar yang mutlak, standarnyanya Allah. Terserah orang mau bilang si A dan si B enggak layak, enggak cocok, kurang sekufu dan sejenisnya. Kalau si A dan Si B itu berjodoh, kemudian menikah. Itu sudah lebih dari layak. Kalau enggak, Allah enggak mungkin nyatuin mereka. 

***

Dan alhasil, masakanku dan bunda belum ada yang beres. Keasyikan ngobrol. Ayah dan adikku udah teriak-teriak kelaparan. 

___ Serial Ayah-Bunda, Nazrul Anwar

source from : https://www.facebook.com/abinya.karel?fref=ts

Tidak ada komentar:

Posting Komentar