Sabtu, 07 Juni 2014

Berantemnya Ayah-Bunda [part-1]


===========================
Enggak tahu kenapa ya, belakangan ayah dan bunda lagi seneng banget berantem. Emang aku enggak pernah lihat langsung sih, tapi aku sudah cukup dewasa untuk mengerti kalau hubungan mereka lagi enggak beres. Ada yang ganjil aja. Gimana gitu ngeliatnya. 

***
“Bunda, lagi berantem sama ayah ya?”
“Enggak kok, siapa bilang?”
“Udah deh Bunda, dari muka dan cara Bunda ngejawab aja udah ketahuan kalo bunda itu bohong, tahu. Dan di jidat bunda tuh ada tulisan gede-gede ‘berantem sama ayah’. Tapi gpp kok, kalau bunda enggak mau cerita sama Putri.”
“Iya deh, ngaku. Bunda lagi kesel sama ayah, tapi ceritanya nanti aja. Bunda butuh waktu buat menyendiri. Udah sana, hush, hush, hush.”

“Ye, emang aku ayam apa, pake hush, hush. Oke deh Bunda, selamat menyendiri. Moga enggak ditemenin hantu. Hihihi.” Aku tertawa, mencoba menghibur bunda, lalu berjalan meninggalkan bunda.

“Enggak dong, kan hantunya baru saja bunda usir.” Aih si bunda bilang aku hantu, untung lagi sedih. Jadi aku cuma balik badan menghadap bunda dan pura-pura kesel dengan wajah hantu. Cukup membuat bunda tersenyum, walaupun agak tanggung. Coba kalau lagi enggak sedih, pasti sudah aku balas candaannya dengan nyebut bunda “emaknya hantu.”

***

“Ayah, aku ini perempuan, aku ngerti banget perasaan bunda. Dan perempuan manapun enggak suka dibegitukan. Diingkari janjinya. Padahal sudah bertahun-tahun menantikannya.” Aku protes sama ayah, ketika ayah menjelaskan masalahnya dengan bunda. Tentu saja aku ada di pihak bunda.

“Kalau mengenai perasaan, mungkin ayah yang salah dalam hal ini. Karena enggak bisa menjaga perasaan bunda. Tapi ini masalah prinsip buat ayah, harus didahulukan. Dan menurut ayah, keputusan ayah sudah benar. Dan kita harus melakukan yang benar. Walaupun terkadang, itu membuat orang yang kita sayangi tersakiti.”

“Walaupun orang itu bunda, Ayah?”

“Justru karena orangnya adalah bunda, ayah tidak terlalu khawatir. Bundamu itu perempuan hebat, ayah percaya bunda bisa mengatasi dan melewati semua ini.”

“Ya enggak gitu juga sih, Yah. Ayah itu sudah melukai hati bunda. Dan mengobati hati yang terluka itu enggak mudah loh, Yah.”

“Iya emang enggak mudah. Tapi ayah sudah mengambil keputusan. Putri tenang aja ya, doakan saja biar hati ayah dan bunda cukup kuat untuk melewatinya.”


****

Dan ayah benar. Bunda memang perempuan yang hebat.

“Jujur, sampai sekarang bunda masih belum mengerti dengan apa yang ayah lakukan. Bunda juga masih belum bisa menerima sepenuhnya. Masih banyak hati dan perasaan bunda yang harus ditambal karena ini. Bunda juga enggak tahu apakah bunda akan bisa melewatinya sendiri atau nanti kami berdua sama-sama bisa menambalnya. Untuk hal ini, bunda hanya memahami satu hal, bahwa perempuan hebat, harus memiliki tujuan ini dalam hidupnya.”

“Tujuan apa itu, Bunda?”

“Berusaha sekuat tenaga untuk membuat suaminya ridho dan ikhlas atas apa yang dilakukannya. Karena, isteri yang ketika meninggal mendapatkan keridhoan dari suaminya, maka pintu syurga akan dibukakan lebar-lebar baginya.”*

“Jadi, bunda hanya akan marah secukupnya, kesal juga secukupnya; dalam kadar yang cukup untuk melampiaskan perasaan bunda dan tentu saja kadar yang bisa dimaklumi oleh ayah. Karena bunda sangat khawatir, sikap bunda yang berlebihan menimbulkan ketidakberkenanan di hati ayah. Dan bunda takut, karena itu ayah tidak ridho dengan sikap dan perlakuan bunda yang seperti itu.”

“Walaupun ayah yang salah, Bunda?”
“Kesalahan ayah dan sikap bunda, adalah dua hal yang berhubungan tapi harus tetap bisa dibedakan, Sayang.”
“Maksudnya?”

“Kadang, kita punya niat baik untuk memperbaiki seseorang, meluruskan tindakan yang menurut kita salah. Tapi kita suka lupa, kalau setiap orang punya hati. Hati yang menentukan, apakah tindakan kita untuk meluruskan kesalahan itu diterima atau tidak, dilakukan apa tidak. Sayangya, yang menentukan itu bukan hatinya kita, tapi hati orang yang ingin kita luruskan tindakannya. Dalam hal ini berarti hatinya ayah.”

“Bunda enggak mau, sikap bunda untuk meluruskan tindakan ayah yang menurut bunda salah itu, malah melukai hati ayah. Taruhannya sangat besar buat bunda, yaitu ridhonya ayah. Lagipula, tidak ada pemilik hati terluka yang tindakannya mau diluruskan oleh orang yang melukai hatinya. Kalaupun ada, pasti sedikit sekali jumlahnya. Karena itu berat sekali; karena hati yang menentukan, dan bagaimana hati bisa menerimanya jika sedang terluka.”

“Dan hati bunda sedang terluka bukan?” bunda diam sesaat, tidak mengangguk, tidak juga menggeleng

“Nak, sesulit-sulitnya mengobati hati yang terluka; selalu lebih mudah mengobati hati sendiri daripada hati orang lain. Apalagi, jika hati orang lain tersebut terluka karena kita. Toh, siapapun yang terluka, ayah ataupun bunda, bunda harus tetap mengobatinya kan? Dan seberat apapun itu, mengobati luka hati sendiri selalu lebih ringan daripada mengobati hati orang yang terluka karena kita. Karena kita bisa mengendalikan hati kita, tapi tak bisa untuk mengendalikan hati orang lain. Karena kalau melukai hati orang lain, urusannya panjang sekali. Tak selesai sampai mati. Harus dipertanggungjawabkan di hari akhir.”

“Begitulah kehidupan, Sayang. Ayah itu suaminya bunda. Dan kami sama-sama manusia. Penuh dengan ketidaksempurnaan. Selayaknya manusia yang menjalaninya, kehidupan ini juga penuh dengan ketidaksempurnaan. Termasuk kehidupan ayah bunda juga keluarga kita. Dan tak ada cara terbaik untuk mengadapi ketidaksempurnaan selain dengan penerimaan. Jujur, terkadang bunda sendiri masih tertatih-tatih untuk itu, untuk belajar tentang penerimaan yang tulus. Penerimaan terhadap kelemahan bunda juga kekurangan ayah.”

“Jadi berantemnya udahan nih, Bun?”
“Belum sayang, masih. Kita baru maaf-maafan lewat sms. Baru nanti malam mau berdamai.”
“Nah lho. Aku enggak ngerti banget deh sama berantemnya ayah dan bunda. Aneh. ”
“Aneh kenapa emang?”
“Ya aneh aja. Seru enggak seru jadinya.”
“Jadi Putri pengen ayah bunda berantem, gitu?”
“Ya, enggak juga sih. Kenapa damainya harus nanti malam coba? Enggak sekarang-sekarang aja?“

“Hehe. Kalau ayah bunda berantem, pasti ada yang salah dengan kami. Bunda ada salahnya. Ayah juga ada salahnya. Sama kayak kamu kalau lagi berantem sama adikmu. Sama-sama enggak mau ngalah kan? Nah, nanti malam itu ayah sama bunda mau ngomongin itu. Apa kesalahan bunda di mata ayah, apa salah ayah di mata bunda. Dengan begitu, kita bisa lebih mengerti satu diantara lainnya. Lalu membuat komitmen bersama untuk memperbaikinya. Biar nanti enggak berantem karena hal yang sama lagi.”

“Aku boleh ikut enggak bunda?” tentu saja aku iseng bercanda
“Enggak boleh. Anak kecil enggak boleh ikut campur.” Bunda menggeleng keras-keras, lucu sekali melihatnya
“Putri kan udah gede, Bunda.” Aku enggak mau ngalah

Kami berhenti mendengar suara salam ayah dan ketukan pintu, aku dan bunda saling bertatapan. Aku mengerti kondisinya, biasanya, eh selalu bunda yang membukakan pintu untuk ayah jika ada di rumah. Karena kondisinya lagi enggak biasanya, alias mereka lagi berantem, aku berinisiatif untuk membukakan pintu. Tapi bunda memegang tanganku, sebelum aku berdiri;

“Biarin bunda yang buka pintunya ya, Putri masuk kamar aja.”

Aku mengangguk, tapi tidak menuju kamar. Cari tempat aman buat ngintip. Dan inilah pemandangan aneh itu. Dua orang yang sedang berantem, mematung sejenak, agak canggung, lalu;

“Assalamu`alaikum, Ayah.”
“Waalaikumsalam, Bunda.”

Aih, mereka sedang berantem. Tapi bunda tetap mencium tangan ayah. Dibalas oleh ayah dengan mengecup kepala bunda. Mereka belum berdamai. Enggak tahu lagi deh, aku mau ngomong apa. Kirain bakal liat yang seru-seru. Minimal saling adu mulut, atau diem-dieman kayak yang di tivi-tivi itu. Ah sudahlah, mungkin bunda benar; aku masih terlalu kecil untuk memahami semua ini.

*HR: Ibnu Majah dan Tarmidzi

… bersambung ke part-2

___ Serial Ayah-Bunda, Nazrul Anwar

source from : https://www.facebook.com/abinya.karel?fref=ts

Tidak ada komentar:

Posting Komentar