Rabu, 02 Juli 2014

Puasa Istimewa itu...."




Kali ini saya ingin menuliskan sedikit uraian terkait makna puasa. Pembahasan ini saya saripatikan dari penceramah kultum tarawih di mushola tempat saya dari tanggal 1 s/d 4 Ramadhan 1435 H. Fokus pembahasan disini terkait esensi (makna inti) dari puasa itu sendiri. Mari kita simak dan semoga bermanfaat...
Satu ayat yang selalu dijadikan pondasi wajibnya puasa di bulan ramadhan bagi umat islam adalah surat Al Baqarah ayat 183. “wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa, sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertaqwa”. Ayat tersebut sepintas mengandung makna umum perintah wajib berpuasa bagi kita umat islam agar kita bertaqwa. Satu ayat ini mungkin sudah jutaan orang lebih yang menghafalnya dan mengerti terjemahannya.  Alhamdulillah....


Saya kemudian bertanya, puasa yang seperti apakah yang bisa membuat kita mencapai derajat taqwa ? apakah setelah kita berpuasa 1 bulan penuh kemudian Allah SWT langsung serta merta memberi gelar kita orang yang bertaqwa ? puasa itu artinya kita menahan makan, minum, ataupun berhubungan suami istri dari terbit fajar hingga terbenam matahari kan? sekali lagi, apakah setelah kita melewati itu kita mendapat gelar taqwa? patut direnungkan kembali.
Salah satu hadist dari nabi Muhammad SAW patut kita pahami baik-baik yang kurang lebih bermakna demikian “banyak diantara umat islam berpuasa, namun yang didapatkan hanya lapar dan dahaga semata”. Pertanyaannya, kog bisa? Katanya puasa itu supaya kita bertaqwa? Kog malah cuma mendapat lapar dan dahaga semata? Mari kita bahas secara ringan saja dan InsyaAllah akan kita temukan makna terbaik mengapa disyariatkan berpuasa.
Makna dari surat Al Baqarah 183 diawal pembahasan tadi, setidaknya bisa kita gali lagi menjadi 3 poin penting dalam memahami esensi dari puasa. Ketiga poin tersebut antara lain:

Pertama, redaksi “wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa,...” disini mengandung perintah dan kewajiban secara langsung bagi umat islam yang sudah baligh dan memenuhi syarat-syarat untuk berpuasa. Kewajiban puasa merupakan salah satu rukun islam yang wajib dilaksanakan oleh setiap muslim tanpa terkecuali. Siapapun dia, tanpa memandang status dan kedudukan, mulai pejabat, politisi, PNS, tentara, polisi, guru, dosen, karyawan, pelajar, mahasiswa, takmir, uztad, petani, pedagang, dan sebagainya wajib berpuasa. Termasuk kamuu, iyaaa kamuuuu.... 
Hukum wajib disini adalah jika dikerjakan mendapat pahala, apabila ditinggalkan secara sengaja mendapat dosa. Mutlak, dan tidak bisa ditawar ataupun dirubah.

Kedua, “...diwajibkan atas kalian berpuasa, sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian...”. Ternyata, kewajiban berpuasa tidaklah hanya untuk umat nabi Muhammad SAW saja, namun umat dan nabi-nabi sebelum beliaupun pernah melakukan puasa. Tercatat dalam sejarah bagaimana puasanya nabi Musa AS yang diperintahkan melaksanakan “puasa” terlebih dahulu sebelum beliau bisa menemui Allah SWT. Teringat juga bagaimana kisah klasik Siti Maryam yang melahirkan nabi Isa AS melakukan “puasa lisan”. Kisah maryam itu khusus diabadikan dalam Al Qur’an surat Maryam ayat 26 yaitu "Jika kamu (Maryam) melihat seorang manusia, maka katakanlah, sesungguhnya aku telah bernadzar berpuasa untuk tuhan yang Maha Pemurah, maka aku tidak akan berbicara dengan seorang manusiapun pada hari ini".
Masih banyak lagi kisah mereka yang berpuasa sesuai kriteria yang diperintahkan masing-masing umat seperti puasanya nabi Ibrahim, Daud, Isa, dll (-kisah-kisah tersebut bisa di search di google secara lengkap).
Dari sini bisa kita lihat bahwa adanya keberlangsungan atau kontuinitas sebuah amalan. Suatu amalan “budaya baik” yang sudah diterapkan dari sejak dulu kala dan hingga nanti sampai dipenghujung waktu dunia yaitu puasa tetap harus dijalankan oleh umat. Oleh sebab itu, Islam menjadi estafet kontiunitas ajaran-ajaran ketuhanan yang sejak dulu disyariatkan dan dibawa oleh para nabi pembawa risalah ketauhidan. Islam pulalah yang menjadikan penyempurna ajaran terdahulu. Sempurnaaaa....

Ketiga, “...agar kalian bertaqwa”, dalam bagian ayat ini mengandung sebuah maksud dan tujan hakiki mengapa disyariatkan berpuasa yaitu agar kita mencapai derajat taqwa. Mengingatkan pertanyaan diawal pembahasan, seperti apakah puasa yang bisa mengangkat kita menjadi orang yang bertaqwa?.
Mari kita jawab, ulama Imam Ghazali membagi puasa menjadi 3 kriteria (tipe) yaitu : 1. Puasanya orang umum (‘Aam), 2. Puasanya orang khusus, 3. Puasanya orang khususil khusus (istimewa). Mari kita jabarkan satu persatu secara sederhana menurut Imam Ghazali.
  • Puasa ‘Aam (umum)
Puasa `Aam bisa juga disebut puasa umum, puasanya orang awam, puasanya orang kebanyakan, atau puasa biasa, yaitu berpuasa menahan diri dari makan, minum dan hubungan biologis antara suami istri dalam jangka waktu tertentu mengikuti syarat dan rukun yang berlaku menurut syariat
  • Puasa Khusus
Puasa khusus yaitu puasa seperti puasa ‘Aam namun ditambah dengan menahan diri ucapan, penglihatan, pendengaran dan perbuatan dari hal-hal yang kurang baik, kurang pantas, yang menyinggung/menyakiti orang lain, atau yang sia-sia dan tak berguna.
  • Puasa Khususil Khusus
Puasa Khususil Khusus atau puasa istimewa yaitu, puasa khusus yang ditambah lagi dengan puasa hati, yaitu menghindari dari memikirkan, mengkhayalkan atau membayangkan hal-hal duniawi. Tingkatan ini merupakan puasanya para Nabi,  siddiqin dan muqarrabin.


Sekarang, kita bisa sedikit menjawab bagaimana derajat ketaqwaan itu bisa diraih melalui puasa. Apakah puasa tipe pertama (‘Aam), kedua (khusus), ataukah ketiga (istimewa) ?. Tentunya suatu kata “derajat” mengandung makna “tingkatan”. Ketiga tipe puasa tersebut bisa dijadikan ajang untuk mencapai taqwa dan tentunya derajat (tingkatan) ketaqwaan yang berbeda pula. Lantas derajat ketaqwaan seperti apakah yang kita inginkan? Pastinya kita menginginkan yang terbaik dari yang baik, maka berusaha untuk melaksanakan puasa dengan tipe istimewa merupakan suatu usaha yang paling tepat untuk mencapai derajat ketaqwaan terbaik pula. Bukankah kita ingin mencotoh para Nabi, siddiqin dan muqarrabin ?

....Terakhir, semoga kita mendapat jodoh yang istimewa pula...
....Joko sembung main gitar, gak nyambung, jrenggg.... 
--- 4 Ramadhan 1435 H ---

Tidak ada komentar:

Posting Komentar