Kali ini saya ingin menuliskan sedikit uraian
terkait makna puasa. Pembahasan ini saya saripatikan dari penceramah kultum tarawih
di mushola tempat saya dari tanggal 1 s/d 4 Ramadhan 1435 H. Fokus pembahasan
disini terkait esensi (makna inti) dari puasa itu sendiri. Mari kita simak dan
semoga bermanfaat...
Satu ayat yang selalu dijadikan pondasi wajibnya
puasa di bulan ramadhan bagi umat islam adalah surat Al Baqarah ayat 183. “wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan
atas kalian berpuasa, sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian
agar kalian bertaqwa”. Ayat tersebut sepintas mengandung makna umum
perintah wajib berpuasa bagi kita umat islam agar kita bertaqwa. Satu ayat ini
mungkin sudah jutaan orang lebih yang menghafalnya dan mengerti terjemahannya. Alhamdulillah....
Saya kemudian bertanya, puasa yang seperti apakah
yang bisa membuat kita mencapai derajat taqwa ? apakah setelah kita berpuasa 1
bulan penuh kemudian Allah SWT langsung serta merta memberi gelar kita orang
yang bertaqwa ? puasa itu artinya kita menahan makan, minum, ataupun
berhubungan suami istri dari terbit fajar hingga terbenam matahari kan? sekali lagi,
apakah setelah kita melewati itu kita mendapat gelar taqwa? patut direnungkan
kembali.
Salah satu hadist dari nabi Muhammad SAW patut kita
pahami baik-baik yang kurang lebih bermakna demikian “banyak diantara umat islam berpuasa, namun yang didapatkan hanya lapar
dan dahaga semata”. Pertanyaannya, kog bisa? Katanya puasa itu supaya kita
bertaqwa? Kog malah cuma mendapat lapar dan dahaga semata? Mari kita bahas
secara ringan saja dan InsyaAllah akan kita temukan makna terbaik mengapa
disyariatkan berpuasa.
Makna
dari surat Al Baqarah 183 diawal pembahasan tadi, setidaknya bisa kita gali
lagi menjadi 3 poin penting dalam memahami esensi dari puasa. Ketiga poin
tersebut antara lain:
Pertama, redaksi “wahai
orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa,...” disini
mengandung perintah dan kewajiban secara langsung bagi umat islam yang sudah
baligh dan memenuhi syarat-syarat untuk berpuasa. Kewajiban puasa merupakan
salah satu rukun islam yang wajib dilaksanakan oleh setiap muslim tanpa
terkecuali. Siapapun dia, tanpa memandang status dan kedudukan, mulai pejabat,
politisi, PNS, tentara, polisi, guru, dosen, karyawan, pelajar, mahasiswa,
takmir, uztad, petani, pedagang, dan sebagainya wajib berpuasa. Termasuk kamuu,
iyaaa kamuuuu....
Hukum wajib disini adalah jika dikerjakan mendapat
pahala, apabila ditinggalkan secara sengaja mendapat dosa. Mutlak, dan tidak
bisa ditawar ataupun dirubah.
Kedua, “...diwajibkan
atas kalian berpuasa, sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian...”.
Ternyata, kewajiban berpuasa tidaklah hanya untuk umat nabi Muhammad SAW saja,
namun umat dan nabi-nabi sebelum beliaupun pernah melakukan puasa. Tercatat dalam
sejarah bagaimana puasanya nabi Musa AS yang diperintahkan melaksanakan “puasa”
terlebih dahulu sebelum beliau bisa menemui Allah SWT. Teringat juga bagaimana
kisah
klasik Siti Maryam yang melahirkan nabi Isa AS melakukan “puasa lisan”. Kisah
maryam itu khusus diabadikan dalam Al Qur’an surat Maryam ayat 26 yaitu "Jika kamu (Maryam) melihat seorang
manusia, maka katakanlah, sesungguhnya aku telah bernadzar berpuasa untuk tuhan
yang Maha Pemurah, maka aku tidak akan berbicara dengan seorang manusiapun pada
hari ini".
Masih banyak lagi kisah mereka yang berpuasa sesuai
kriteria yang diperintahkan masing-masing umat seperti puasanya nabi Ibrahim, Daud,
Isa, dll (-kisah-kisah tersebut bisa di
search di google secara lengkap).
Dari sini bisa kita lihat bahwa adanya keberlangsungan
atau kontuinitas sebuah amalan. Suatu amalan “budaya baik” yang sudah diterapkan
dari sejak dulu kala dan hingga nanti sampai dipenghujung waktu dunia yaitu puasa
tetap harus dijalankan oleh umat. Oleh sebab itu, Islam menjadi estafet
kontiunitas ajaran-ajaran ketuhanan yang sejak dulu disyariatkan dan dibawa
oleh para nabi pembawa risalah ketauhidan. Islam pulalah yang menjadikan
penyempurna ajaran terdahulu. Sempurnaaaa....
Ketiga, “...agar
kalian bertaqwa”, dalam bagian ayat ini mengandung sebuah maksud dan tujan
hakiki mengapa disyariatkan berpuasa yaitu agar kita mencapai derajat taqwa. Mengingatkan
pertanyaan diawal pembahasan, seperti apakah puasa yang bisa mengangkat kita
menjadi orang yang bertaqwa?.
Mari kita jawab, ulama Imam Ghazali membagi puasa
menjadi 3 kriteria (tipe) yaitu : 1. Puasanya orang umum (‘Aam), 2. Puasanya orang
khusus, 3. Puasanya orang khususil khusus (istimewa). Mari kita jabarkan satu
persatu secara sederhana menurut Imam Ghazali.
- Puasa ‘Aam (umum)
Puasa `Aam bisa juga disebut puasa
umum, puasanya orang awam, puasanya orang kebanyakan, atau puasa biasa, yaitu
berpuasa menahan diri dari makan, minum dan hubungan biologis antara suami
istri dalam jangka waktu tertentu mengikuti syarat dan rukun yang berlaku
menurut syariat
- Puasa Khusus
Puasa khusus yaitu puasa seperti puasa
‘Aam namun ditambah dengan menahan diri ucapan, penglihatan, pendengaran dan
perbuatan dari hal-hal yang kurang baik, kurang pantas, yang
menyinggung/menyakiti orang lain, atau yang sia-sia dan tak berguna.
- Puasa Khususil Khusus
Puasa Khususil Khusus atau puasa istimewa yaitu, puasa khusus
yang ditambah lagi dengan puasa hati, yaitu menghindari dari memikirkan,
mengkhayalkan atau membayangkan hal-hal duniawi. Tingkatan ini merupakan puasanya para Nabi, siddiqin dan muqarrabin.
Sekarang, kita bisa sedikit menjawab
bagaimana derajat ketaqwaan itu bisa diraih melalui puasa. Apakah puasa tipe
pertama (‘Aam), kedua (khusus), ataukah ketiga (istimewa) ?. Tentunya suatu
kata “derajat” mengandung makna “tingkatan”. Ketiga tipe puasa tersebut bisa
dijadikan ajang untuk mencapai taqwa dan tentunya derajat (tingkatan) ketaqwaan
yang berbeda pula. Lantas derajat ketaqwaan seperti apakah yang kita inginkan? Pastinya
kita menginginkan yang terbaik dari yang baik, maka berusaha untuk melaksanakan
puasa dengan tipe istimewa merupakan suatu usaha yang paling tepat untuk
mencapai derajat ketaqwaan terbaik pula. Bukankah kita ingin mencotoh para Nabi,
siddiqin dan muqarrabin ?
....Terakhir,
semoga kita mendapat jodoh yang istimewa pula...
....Joko sembung main gitar, gak nyambung, jrenggg....
--- 4 Ramadhan 1435 H ---
--- 4 Ramadhan 1435 H ---

Tidak ada komentar:
Posting Komentar