Senin, 23 Juni 2014
Selasa, 17 Juni 2014
Kamis, 12 Juni 2014
Ini tentang sejauh mana hati kita merasa cukup..."
Rabu, 11 Juni 2014
Sedih : Hari itu aku dinyatakan gagal mengikuti tes seleksi universitas..."
“Kalau kamu butuh nangis, nangis aja. Bunda ada di sini. Enggak usah pura-pura senyum begitu. Jelek tahu. Untuk kondisi saat ini, muka kamu itu lebih manis kalau menangis, bukan tersenyum.”
Aku langsung meluk bunda, nangis sejadi-jadinya. Melimpahkan kesal sekesal-kesalnya. Setelah seharian mengurung diri di kamar. Hari itu aku dinyatakan gagal mengikuti tes seleksi universitas yang aku pengen banget kuliah di sana. Masalahnya, ini universitas luar negeri. Beasiswa pula. Padahal aku sudah jauh-jauh hari mempersiapkannya. Seperti biasa, kalau aku lagi ada masalah, bunda membiarkanku sendiri untuk beberapa saat sampai dianggap cukup. Lalu, kami akan saling bicara di forum perempuan, berdua saja. Hanya aku dan bunda.
***
“Putri, apa yang terjadi dalam hidup ini, bukan ditentukan oleh kita. Tapi kita selalu bisa menentukan apa yang kita inginkan dalam hidup dan apa yang harus kita lakukan untuk mendapatkannya.” Bunda mulai bicara setelah aku lebih tenang, aku masih dalam pelukan bunda.
Selasa, 10 Juni 2014
kata Ayah:"Laki-laki itu lebih senang dipuji, sedangkan perempuan...."
Itu salah satu nasihat ayah kepadaku, ketika aku bingung bagaimana caranya memperlakukan teman-teman dalam satu organisasi. Dan nasihat itu ternyata benar. Aku pernah mencobanya. Aku pernah bilang sama bunda kalau masakan bunda itu enak, dan jawaban bunda:
“Pasti lagi ada maunya nih.” (langsung ketahuan kan).
Suatu hari yang lain aku bilang sama bunda:
“Kok masakannya bunda berbeda dari biasanya sih?”
Maka bunda langsung menjawab dengan muka antusias, menjelaskan bahannya apa saja, bumbunya apa saja, bagaimana cara memasaknya, dan kenapa begini kenapa begitu yang lainnya. Pembicaraan selanjutnya menjadi lebih lancar. Perhatian memang jauh lebih rumit daripada sekedar pujian.
Minggu, 08 Juni 2014
Karena cinta ada bukan untuk dikunci, tapi untuk disebar dan dirasa manfaatnya (Part 2)
Berantemnya Ayah-Bunda [part-2]
=============================
Sabtu, 07 Juni 2014
Berantemnya Ayah-Bunda [part-1]
===========================
Enggak tahu kenapa ya, belakangan ayah dan bunda lagi seneng banget berantem. Emang aku enggak pernah lihat langsung sih, tapi aku sudah cukup dewasa untuk mengerti kalau hubungan mereka lagi enggak beres. Ada yang ganjil aja. Gimana gitu ngeliatnya.
***
“Bunda, lagi berantem sama ayah ya?”
“Enggak kok, siapa bilang?”
“Udah deh Bunda, dari muka dan cara Bunda ngejawab aja udah ketahuan kalo bunda itu bohong, tahu. Dan di jidat bunda tuh ada tulisan gede-gede ‘berantem sama ayah’. Tapi gpp kok, kalau bunda enggak mau cerita sama Putri.”
“Iya deh, ngaku. Bunda lagi kesel sama ayah, tapi ceritanya nanti aja. Bunda butuh waktu buat menyendiri. Udah sana, hush, hush, hush.”
Jumat, 06 Juni 2014
Cinta, adalah hubungan yang mesra antara dua aku yang berbeda.."
dua aku
=======
=======
Satu hal yang paling aku sukai dari orangtuaku adalah mereka hampir selalu melibatkanku dalam memutuskan hal-hal yang bersifat keluarga, apalagi jika hal itu penting banget untuk hidupku. Dari hal yang sifatnya pendidikan, tentang sekolahku atau adikku, tentang karier mereka di pekerjaan, tentang liburan keluarga, sampai hal remeh-temeh besok enaknya menu apa yang akan dimasak untuk makan malam. Untuk hal-hal tertentu yang kami belum ngerti banget kondisinya, Ayah dan Bunda kompak banget untuk memahamkan anak-anaknya kenapa keputusan atau pilihan itu yang diambil. Setidaknya, kami tetap didengarkan dan dimintai pendapatnya.
Kamis, 05 Juni 2014
Gimana sih cara menasihati yang baik itu ?
Kesalahan
=========
Jujur ya, aku paling enggak suka banget sama orang-orang yang kurang peka. Udah gitu susah banget lagi buat diingetin. Enggak sadar-sadar. Tega melihat teman-temannya terdzolimi karena kesalahannya. Karena tugasnya yang enggak beres-beres. Suka banget buat alasan ini itu yang seolah-olah dibuat-buat dan dibenar-benarkan, dan lagi merasa sudah selesai hanya dengan permintaan maaf. Padahal, maaf tidak selalu bisa menyelesaikan masalah. Udah gitu lagi nih ya, belakangan ini aku banyak banget nemuin orang-orang model begini. Enggak tahu lagi gimana harus membasminya. Lengkap sudahlah penderitaan. Bundaaaaaaaaaaaaa .....
***
"Tersebutlah wanita sederhana nan mulia..."
Anniversary Ayah dan Bunda
=======================
“Ayah, mana yang lebih ayah cintai, bunda atau anak-anak bunda?” sengaja betul Kak Putri menggoda ayah dan bunda malam itu, malam ulang tahun pernikahan mereka.
“Ayah sayang kalian semua, Putri. Bunda, dan anak-anak ayah.”
“Aduh, Ayah. Kak Putri kan nanyanya yang lebih, berarti jawabannya kami atau bunda. Bukan semuanya.” Kali ini aku kompak dengan kak Putri, menggoda mereka. Sebenarnya kami sudah tahu jawabannya. Ya pasti bunda lah ya, bunda kan udah lebih lama hidup sama ayah. Udah merasakan kebahagiaan dan penderitaan bersama-sama. Kami hanya ingin mendengarkan kalimat itu langsung dari ayah.
Selasa, 03 Juni 2014
Cara berpikir saat ini : "...bagi yang belum nikah dan belum lulus juga..."
kriteria [part-8]
==============
“Ini kenapa anak-anak bunda cara berpikirnya jadi kebolak-balik gini sih.” Bunda geleng-geleng kepala menyimak diskusi kami
“Masudnya, Bun?”
“Putri bener, kalau kita harus menjaga perasaan orang lain. Jangan sampai niat baik untuk mengingatkan orang lain agar segera menikah, malah membuat orang yang diingatkan merasa enggak nyaman, merasa enggak tenang, serta berpikiran dan berprasangka yang enggak-enggak. Emang sudah berapa ribu orang sih yang berhasil diingatkan dengan cara seperti itu. Disindir kapan nikahnya, kapan mau nyusul atau berbagai bentuk sindiran lainnya; yang ada malah semakin membebani orang yang bersangkutan. Apalagi kalau perempuan, yang kebanyakan punya tingkat sensitivitas yang lebih dari rata-rata. (next..)
Senin, 02 Juni 2014
2 Pertanyaan Mak Jleb: "Kapan Lulus? atau Kapan Nikah?"
kriteria [part-7]
=============
"............."
“Baik kok, Bun. Sekarang mau ujian tengah semester.”
“Oh ya Bun, besok itu Putra enggak bisa ikut nemenin Bunda ya, ada walimahan senior gitu.”
“Iya, gpp. Siapa emang yang nikah?”
“Kakak angkatan di fakultas. Padahal belum pada lulus loh Bunda, dua-duanya masih tingkat akhir.”
“Terus, Putra mau minta izin ke bunda buat nikah sebelum lulus gitu yah?”
“Eh,, enggak kok Bun. Malah Putra enggak pengen nikah sebelum lulus. Kebanyakan seniorku yang nikah belum lulus tuh, pada tersendat-sendat gitu lulusnya. Dan punya image yang kurang baik gitu Bun. Suka diomongin gimana gitu sama yang lainnya.” (next..)
Minggu, 01 Juni 2014
"Mau minta izin ke Bunda buat nikah sebelum lulus gitu..."
kriteria [part-6]
“Kok nanya itu. Kenapa emang?”
“Gpp kok Bun, cuma pengen tahu aja. Kalau enggak mau jawab juga gpp kok.” Aku baru sadar kalo pertanyaanku itu agak sensitif buat bunda. Ah, buat sebagian besar kaum perempuan lebih tepatnya.
“Hmm, gimana ya?” bunda menarik napas, agak berat sepertinya.
“Bunda setuju-setuju aja dengan poligami. Walaupun berat menerimanya. Itu kan sesuatu yang (next...)
Langganan:
Komentar (Atom)







