*oleh Zaky A. Rivai
*********
“...dan berpeganglah kamu sekalian kepada tali (agama) Allah dan janganlah
kamu bercerai-berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu
(masa jahiliyyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hati-hatimu, dan
dengan nikmat Allah-lah kamu menjadi orang-orang yang bersaudara.” (QS. Ali Imran: 103)
*********
Bila para
ilmuwan barat menganggap nilai kebenaran adalah relatif, bila para atheis
menganggap keberadaan tuhan hanyalah semu, bila para komunis memastikan bahwa
kaum borjuis dan proletar mustahil bersatu, atau bila sekuleris berpendapat
bahwa pencampuran agama ke dalam politik adalah utopis, maka para islamis haruslah
berbangga pada ajarannya sendiri; yang memiliki nilai tidak relatif, yang
memiliki ajaran sempurna, yang memiliki aturan paripurna. maka salah satu nilai
yang dewasa ini dianggap utopis, hingga kapanpun takkan pernah dapat dibantah.
satu nilai itu adalah ukhuwah. nilai yang bersejarah dan akan terus menyejarah.
Politik
bisa saja menyatukan kawan dan lawan atas satu kepentingan. Pendidikan bisa
saja mempersatukan antara si NU dan si Muhammadiyah hanya karena mereka
bersekolah di sekolah yang sama. Budaya bisa saja menyatukan antara si kaya dan
si miskin oleh sebab mereka dilahirkan di rumpun yang sama, dibesarkan dengan
bahasa yang sama. Namun kesemuanya bersifat tidak pasti dan mungkin saja
berubah di kemudian hari. Bila berbeda kepentingan, semuanya menjadi musuh
dalam kancah politik. Bila telah lulus dari sekolah, si NU dan si Muhammadiyah
bisa saja menjadi musuh dalam bersaing untuk sekadar mengadakan pengajian.
Apabila dua orang lahir dari rumpun yang berbeda, bahasa yang berbeda, siapa
yang menjamin mereka dapat bersatu? Namun ada saja hal yang dapat menyatukan
mereka. Itulah ukhuwah. Itulah nilai yang takkan pernah dapat dibantah.
Kesatuan
aqidah adalah alasan yang mempersatukan mereka. Oleh sebab agama yang sempurna
dan paripurna, maka alasan mereka bersatu pun sempurna dan paripurna. Oleh
karena agama yang memiliki nilai tak terbantahkan, maka persatuan mereka pun
memiliki nilai yang tak terbantahkan. Ukhuwah mempunyai bahasa persatuan. Assalamu’alaykum
adalah salam seluruh umat Islam dari timur hingga ke barat, dari dunia
hingga ke akhirat.
Konflik
dan prasangka seringkali mewarnai kehidupan mereka berdua. Sekalipun mereka
mempunyai hubungan sepupu, namun kenyataannya tidak jarang mereka bergulat di
masa jahiliyah. Dan hubungan kurang akur tersebut berlanjut hingga ke masa
dewasa dan keduanya sama-sama menerima kebenaran Islam. Khalid bin Walid
merasakan lebih dari sekali dicopot dari jabatannya dengan tidak hormat oleh
Umar bin Khaththab. Sejarawan tak bertanggung jawab mengatakan mereka adalah
musuh abadi. Sayangnya, mereka menutup mata terhadap peristiwa detik-detik
wafatnya Khalid. Sembari menunggu malaikat maut menjemputnya, dengan tegas ia
mengatakan kepada sahabat yang menemaninya bahwa sekontroversial apapun
keputusan Umar, tetaplah taat kepadanya. Ada nilai yang tak bisa dibeli dengan
uang di antara mereka. Ada nilai tak terbantahkan yang menghiasi perjalanan
hidup Umar dan Khalid. Itulah ukhuwah; nilai tak terbantah.
Pada
ukhuwah terdapat beberapa tingkatan. Yang paling rendah adalah salamatus
shadr (hati yang bersih). Tingkatan ini adalah sikap kita yang tak
berprasangka buruk terhadap saudara kita. Tingkatan ukhuwah yang tertinggi
adalah itsar, yakni mendahulukan kepentingan saudara kita di atas
kepentingan pribadi.
Ketika sampai di Madinah, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasalam
mempersaudarakan Abdurrahman bin Auf dengan Sa’ad bin ar Rabi’. Dengan senang
hati tanpa ada rasa berat, Sa’ad berkata, “Sesungguhnya aku adalah orang Anshar
yang paling kaya, maka aku akan bagikan untukmu separuh hartaku, dan silakan
kau pilih mana di antara dua istriku yang kau inginkan, maka akan aku lepaskan
dia untuk engkau nikahi. Siapapun akan tercengang mengetahui kisah ini.
Manakala Abdurrahman bin Auf membuat keputusan mengejutkan di tengah lelah
setelah perjalanan jauh Makkah-Madinah dalam keadaan tidak berharta. Ibn Auf
menolak tawaran Sa’ad dan hanya meminta ditunjukkan letak keberadaan pasar
untuk memulai bisnisnya. Tidak ada yang merasa dirugikan. Mereka bersaudara,
dan sebagai saudara mereka pun mengetahui perasaan masing-masing sehingga
enggan melukainya.
Ukhuwah adalah nilai yang tak terbantah. Sebabnya adalah ukhuwah tidak
mengenal kaya atau miskin, tidak mengenal banyak atau sedikitnya ibadah, bahkan
tidak mengenal si pintar dan si bodoh. Nilai ukhuwah ada pada mereka yang
mengerahkan segenap yang dimilikinya untuk kebaikan saudaranya. Nilai ukhuwah,
ada mereka yang melihat orang lain jauh lebih membutuhkan daripada dirinya
sendiri. Nilai ukhuwah, ada pada hati yang senantiasa yang berprasangka baik
kepada saudaranya. Nilai ukhuwah, hanya terdapat pada diri pejuang sejati.
Senyum saudaranya adalah kebahagiaannya. Tangis saudaranya adalah kesedihan
baginya. Dan surga saudaranya adalah surganya juga.
“Perumpamaan orang-orang mukmin dalam hal saling kasih, saling menyayang
dan saling cinta adalah seperti sebuah tubuh, jika salah satu anggotanya merasa
sakit, maka anggota-anggota tubuh yang lain ikut merasakan sulit tidur dan
demam.” (HR. Muslim).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar