Kamis, 30 April 2015
Jumat, 24 April 2015
Ma`iz dan Ghamidiyah ; Sosok Manusia Langka
Namun, Rasulullah SAW masih juga meragukan ketulusannya. Beliaupun menyuruh salah seorang di antara yang hadir untuk mencium aroma tubuhnya. Jangan-jangan ada bau minuman keras, bisa diduga laki-laki ini sedang mabuk berat. Juga tak tercium sedikit pun bau minuman keras di tubuhnya. Untuk lebih meyakinkan, Rasulullah SAW bertanya langsung kepadanya, apakah betul Anda berzina. "Ya," jawab Ma`iz, seraya mendesak agar segera dibersihkan dirinya dari dosa zina. Dia siap menjalani hukuman rajam.
Kasus serupa terjadi pada diri wanita Ghamidiyah asal lembah Juhainah. Di hadapan Rasulullah SAW ia mengaku hamil hasil zina, dan memohon agar dijatuhi hukuman rajam seperti terjadi pada Ma`iz. Rasulullah SAW menganjurkan agar ia segera bertaubat kepada Allah, sambil menunggu lahir bayi yang di kandungnya.
Wanita itu kembali melaporkan diri setelah bayinya lahir, dan mendesak agar segera menjalani eksekusi. Rasulullah SAW masih juga menyuruhnya pulang dan memberinya kesempatan untuk menyusui sampai anaknya bisa disapih.
Wanita malang ini datang kembali sambil menggendong anaknya, di tangannya ada sepotong roti sebagai tanda bahwa sang anak benar-benar sudah disapih.
Kesempatan ini mestinya dapat dimanfaatkan oleh Ghamidiyah untuk melarikan diri. Rasulullah pun tidak akan menyuruh para sahabat mencari wanita itu, atau memasukkannya dalam daftar buronan jika benar bahwa setelah anaknya disapih ternyata ia tidak melaporkan diri. Tampaknya Rasulullah SAW sangat memahami bahwa wanita ini sungguh-sungguh bertaubat dan tidak akan mengulangi perbuatannya.
Ma`iz dan Ghamidiyah adalah sosok dua anak manusia langka di zaman sekarang ini. Keduanya datang melaporkan diri, mengakui kesalahannya, lalu minta dihukum dengan hukuman paling berat yang merenggut nyawa.
Keduanya seperti tidak yakin bahwa taubatnya diterima oleh Allah, jika hanya dengan lantunan doa dan istighfar, tanpa menjalani hukuman rajam. Keduanya memilih hukuman di dunia walaupun teramat berat, daripada di akhirat nanti dihukum dengan hukuman yang lebih dahsyat. Usai eksekusi para sahabat masih memperdebatkan, apakah taubatnya diterima oleh Allah atau tidak? Bahkan Umar bin Khattab mempertanyakan, apa layak menshalatkan jenazah orang yang berbuat dosa zina seperti ini?
"Sungguh Allah telah menerima taubatnya. Bila taubatnya dibagikan kepada seluruh umat ini, niscaya taubatnya masih tersisa," ujar Rasulullah SAW meyakinkan. (HR Muslim No 1695).
Perubahan drastis bisa terjadi pada diri seorang Muslim, manakala keyakinan akan adanya kehidupan di hari akhirat, meresap ke lubuk hati yang paling dalam. Wallahu a`lam.
(Dimuat di Republika Oleh Muhammad Abbas Aula)
Source from : Mihrab Qalbi
Wasiat Luqman tentang Akidah, Akhlak, dan Syariah
يابني
إنها
إن
تك
مثقال
حبة
من
خردل
فتكن
في
صخرة
أو
في
السموات
أو
في
الأرض
يأت
بها
الله
إن
الله
لطيف
خبير(16)
Artyinya : (Luqman berkata): "Hai
anakku, Sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada
dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan
mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus, lagi Maha
Mengetahui
يابني أقم الصلاة وأمر بالمعروف وانه عن المنكر واصبر على ما أصابك إن ذلك من عزم الأمور(17)
Artinya : Hai anakku, Dirikanlah shalat
dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari
perbuatan yang mungkar dan Bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu.
Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).
ولا تصعر
خدك
للناس
ولا
تمش
في
الأرض
مرحا
إن
الله
لا
يحب
كل
مختال
فخور(18)
Artinya : Dan janganlah kamu
memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di
muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang
sombong lagi membanggakan diri.
واقصد في
مشيك
واغضض
من
صوتك
إن
أنكر
الأصوات
لصوت
الحمير(19)
Artinya : Dan sederhanalah kamu dalam
berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara
keledai.
Jumat, 17 April 2015
Ukhuwah; "NILAI TAK TERBANTAHKAN"
*oleh Zaky A. Rivai
*********
“...dan berpeganglah kamu sekalian kepada tali (agama) Allah dan janganlah
kamu bercerai-berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu
(masa jahiliyyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hati-hatimu, dan
dengan nikmat Allah-lah kamu menjadi orang-orang yang bersaudara.” (QS. Ali Imran: 103)
*********
Bila para
ilmuwan barat menganggap nilai kebenaran adalah relatif, bila para atheis
menganggap keberadaan tuhan hanyalah semu, bila para komunis memastikan bahwa
kaum borjuis dan proletar mustahil bersatu, atau bila sekuleris berpendapat
bahwa pencampuran agama ke dalam politik adalah utopis, maka para islamis haruslah
berbangga pada ajarannya sendiri; yang memiliki nilai tidak relatif, yang
memiliki ajaran sempurna, yang memiliki aturan paripurna. maka salah satu nilai
yang dewasa ini dianggap utopis, hingga kapanpun takkan pernah dapat dibantah.
satu nilai itu adalah ukhuwah. nilai yang bersejarah dan akan terus menyejarah.
Politik
bisa saja menyatukan kawan dan lawan atas satu kepentingan. Pendidikan bisa
saja mempersatukan antara si NU dan si Muhammadiyah hanya karena mereka
bersekolah di sekolah yang sama. Budaya bisa saja menyatukan antara si kaya dan
si miskin oleh sebab mereka dilahirkan di rumpun yang sama, dibesarkan dengan
bahasa yang sama. Namun kesemuanya bersifat tidak pasti dan mungkin saja
berubah di kemudian hari. Bila berbeda kepentingan, semuanya menjadi musuh
dalam kancah politik. Bila telah lulus dari sekolah, si NU dan si Muhammadiyah
bisa saja menjadi musuh dalam bersaing untuk sekadar mengadakan pengajian.
Apabila dua orang lahir dari rumpun yang berbeda, bahasa yang berbeda, siapa
yang menjamin mereka dapat bersatu? Namun ada saja hal yang dapat menyatukan
mereka. Itulah ukhuwah. Itulah nilai yang takkan pernah dapat dibantah.
Kesatuan
aqidah adalah alasan yang mempersatukan mereka. Oleh sebab agama yang sempurna
dan paripurna, maka alasan mereka bersatu pun sempurna dan paripurna. Oleh
karena agama yang memiliki nilai tak terbantahkan, maka persatuan mereka pun
memiliki nilai yang tak terbantahkan. Ukhuwah mempunyai bahasa persatuan. Assalamu’alaykum
adalah salam seluruh umat Islam dari timur hingga ke barat, dari dunia
hingga ke akhirat.
Konflik
dan prasangka seringkali mewarnai kehidupan mereka berdua. Sekalipun mereka
mempunyai hubungan sepupu, namun kenyataannya tidak jarang mereka bergulat di
masa jahiliyah. Dan hubungan kurang akur tersebut berlanjut hingga ke masa
dewasa dan keduanya sama-sama menerima kebenaran Islam. Khalid bin Walid
merasakan lebih dari sekali dicopot dari jabatannya dengan tidak hormat oleh
Umar bin Khaththab. Sejarawan tak bertanggung jawab mengatakan mereka adalah
musuh abadi. Sayangnya, mereka menutup mata terhadap peristiwa detik-detik
wafatnya Khalid. Sembari menunggu malaikat maut menjemputnya, dengan tegas ia
mengatakan kepada sahabat yang menemaninya bahwa sekontroversial apapun
keputusan Umar, tetaplah taat kepadanya. Ada nilai yang tak bisa dibeli dengan
uang di antara mereka. Ada nilai tak terbantahkan yang menghiasi perjalanan
hidup Umar dan Khalid. Itulah ukhuwah; nilai tak terbantah.
Pada
ukhuwah terdapat beberapa tingkatan. Yang paling rendah adalah salamatus
shadr (hati yang bersih). Tingkatan ini adalah sikap kita yang tak
berprasangka buruk terhadap saudara kita. Tingkatan ukhuwah yang tertinggi
adalah itsar, yakni mendahulukan kepentingan saudara kita di atas
kepentingan pribadi.
Ketika sampai di Madinah, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasalam
mempersaudarakan Abdurrahman bin Auf dengan Sa’ad bin ar Rabi’. Dengan senang
hati tanpa ada rasa berat, Sa’ad berkata, “Sesungguhnya aku adalah orang Anshar
yang paling kaya, maka aku akan bagikan untukmu separuh hartaku, dan silakan
kau pilih mana di antara dua istriku yang kau inginkan, maka akan aku lepaskan
dia untuk engkau nikahi. Siapapun akan tercengang mengetahui kisah ini.
Manakala Abdurrahman bin Auf membuat keputusan mengejutkan di tengah lelah
setelah perjalanan jauh Makkah-Madinah dalam keadaan tidak berharta. Ibn Auf
menolak tawaran Sa’ad dan hanya meminta ditunjukkan letak keberadaan pasar
untuk memulai bisnisnya. Tidak ada yang merasa dirugikan. Mereka bersaudara,
dan sebagai saudara mereka pun mengetahui perasaan masing-masing sehingga
enggan melukainya.
Ukhuwah adalah nilai yang tak terbantah. Sebabnya adalah ukhuwah tidak
mengenal kaya atau miskin, tidak mengenal banyak atau sedikitnya ibadah, bahkan
tidak mengenal si pintar dan si bodoh. Nilai ukhuwah ada pada mereka yang
mengerahkan segenap yang dimilikinya untuk kebaikan saudaranya. Nilai ukhuwah,
ada mereka yang melihat orang lain jauh lebih membutuhkan daripada dirinya
sendiri. Nilai ukhuwah, ada pada hati yang senantiasa yang berprasangka baik
kepada saudaranya. Nilai ukhuwah, hanya terdapat pada diri pejuang sejati.
Senyum saudaranya adalah kebahagiaannya. Tangis saudaranya adalah kesedihan
baginya. Dan surga saudaranya adalah surganya juga.
“Perumpamaan orang-orang mukmin dalam hal saling kasih, saling menyayang
dan saling cinta adalah seperti sebuah tubuh, jika salah satu anggotanya merasa
sakit, maka anggota-anggota tubuh yang lain ikut merasakan sulit tidur dan
demam.” (HR. Muslim).
Senin, 13 April 2015
Mengukir Cinta di Belahan Jiwa
---------------------------------------------------------
Bila yang tertulis oleh-Nya
Telah terbuka hati ini menyambut cinta
Di sini segalanya kan kita mula
Mengukir buaian rindu yang tersimpan dulu
'Tuk menjadi nyata dalam hidup
Izinkan aku `tuk mencitai
Menjadi belahan di dalam jiwaku
Ya Allah jadikanlah
Di dalam hidupku, izinkan aku
Wahai yang dicinta telah kurela
Hadir
Simpanlah jiwaku dalam do’a
Kan kujaga cinta
Wahai yang dicinta telah kurela
Hadir
Simpanlah nafasku dalam hidup
Kan kujaga setia
Apapun adanya diri
Ku `kan coba tuk tetap setia
Begitu pula pada diriku
Terimalah dengan apa adanya
Selamat datang di separuh nafasku
Selamat datang di pertapaan hatiku
---------------------------------------------------
Lirik lagu : Mengukir Cinta di Belahan Jiwa
Munsyid : Maidany
---------------------------------------------------
Sedang menghibur diri, 9 April s/d 9 September 2015, tak ada keraguan sedikitpun berproses bersama
Langganan:
Komentar (Atom)
