Antara CINTA dan (R)ASA
Cinta adalah seni menghidupkan hidup, ujar Anis Matta dalam serial cintanya. Indah bukan ? Begitulah Allah menakdirkan cinta sebagai kata kerja. Seseorang yang memutuskan untuk mencintai maka langkah selanjutnya ia akan mencari jalan untuk memberi dan memberi. Begitulah alur kisahnya. Jika ada yang bilang mudah untuk jatuh cinta kepada seseorang maka kemungkinan itu hanyalah jatuh “rasa” bukan cinta.
Antara
rasa dan cinta itu 2 hal yang sangat berbeda. Cinta itu fitrah yang kuat dan
melekat, ia tidak ada sekat waktu maupun tempat, ia tumbuh dan senantiasa
berkembang seiring nikmat yang terus mengalir sampai akhir hayat. Sedangkan rasa,
ia lebih tertarik menafsirkan suatu suasana yang dialami hati kita. Jika suasana
lagi berbunga maka seakan rasa itu menjadi indah tak tertandingi apapun, namun
ketika dibenturkan dengan situasi yang tidak sesuai dengan hati, maka rasa akan
cenderung menegatifkan apapun. Terkait waktu, terkadang rasa juga memasuki
hukum relativitas, rasa hari ini bisa jadi tidak sama dengan kemarin ataupun
besok, kita tidak tahu masih adakah rasa atau tidak hari-hari berikutnya. Unpredictable. Itulah rasa.
Demikian
bedanya Cinta dan Rasa. Jangan salah menafsirkan. Jangan samakan antara Cinta
dan Rasa. Jangan salah menyimpulkan, apakah ini Cinta ataukah hanya sekedar
Rasa. Pernahkah kau mengalaminya? Akupun pernah,
oleh sebab itu kini aku mengisahkan keduanya kepadamu. Cinta dan Rasa. .
Apa
yang kita inginkan belum tentu itu yang kita butuhkan. Allah sesalu memberikan
apa yang kita butuhkan bukan apa-apa yang selalu kita inginkan. Bersyukurlah atas
apa yang diberikan Allah pada kita. Karena mengapa? Jawabannya adalah karena
kita tidak mau mengingkari keinginan Allah. Justru seharusnya kita harus lebih
bersyukur karena itu. Bukankah semakin kita mensyukuri, semakin bertambah pula
nikmat yang diberikan Allah untuk kita?
Sekarang tentang “JODO(H)”
Ia
yang cantik dan ganteng, ia yang cerdas dan
pandai, ia yang kaya dan dermawan, ia yang sholeh dan sholehah, ia yang hafidz
dan hafidzoh, ia yang mencintai dan mengagumimu, ia yang menghormatimu dan
menyanjungmu, ia yang selalu menge-like
dan me-retweet statusmu, ia yang
selalu update dan memberikan kata
motivasi, ia yang selalu siap sedia jika kau butuhkan.
Semua
itu akan dikalahkan dengan ia yang namanya “Jodoh”.
Begitulah
adanya. Itu Takdir, katanya.
Masih
tentang jodoh, mungkin dahulu kala nama kita pernah bertemu bahkan bersanding. Jika ditanya
dimana, jawaban pastinya di Lauhul Mahfudz
ketika pena diangkat dan telah kering tinta. Mungkin kita lupa? Iya, kita memang
lupa, bahkan dibuat takdir untuk melupakan itu. Kenapa demikian? Sebenarnya alasannya
simpel. Supaya kita mencari dan saling mengenal. Bayangkan jika sejak kecil,
kita sudah tahu nama pendamping hidup kita kelak. Apakah hidup kita serasa
indah penuh kisah atau justru malah tidak bermakna dan hampa tanpa asa ? Tidak akan
dibahas disini terkait itu.
Itulah
salah satu misteri terindah dari Allah tentang takdir manusia. Jodoh, ia adalah salah satu
dari kategori rizki yang sudah ditetapkan kepastiannya seperti 3 ketetapan
Allah yang lainnya.
Ada
kaidah menarik disini. Bahwa yang baik akan dipertemukan dengan yang baik, yang
lebih baik juga akan dipertemukan dengan yang lebih baik pula, begitu juga
berlaku yang sebaliknya. Begitulah seharusnya peraturan dan sunatullah-nya, itu sudah termaktub dalam
Al Quran yang harus kita yakini. Lantas mengapa kita masih khawatir terkait kepastian
ini? Tugas kita hanya sederhana. "Memperbaiki diri, kalaupun menjadi lebih baik
masih bisa memungkinkan, maka baik saja tidaklah cukup" (Quote from Ust. Arief Hidayat).
Meskipun,
ada yang menyampaikan bahwa realita tidaklah seindah “cerita” yang sudah
digariskan. Benarkah demikian? Patut kita lihat fenomenanya terlebih dahulu. Memang
ada wanita yang baik dipertemukan dengan yang biasa-biasa saja. Laki-laki yang
sholeh diberikan pasangan wanita yang biasa-biasa saja. Apakah itu salah? Jangan-jangan
itu bukan jodohnya, kan tidak sesuai teori?. Nah, disinilah seharusnya kita
bisa memahami takdir. Bisa jadi apa yang diberikan Allah itulah yang sebenarnya
kita butuhkan. Mungkin kita adalah seorang yang hafidz ataupun hafidzoh, tapi
justru malah dijodohkan dengan seseorang yang biasa-biasa saja, bisa jadi ada
maksud yang lebih agung dari Allah menakdirkan demikian. Bisa jadi (lagi) ia
yang biasa-biasa saja yang mampu mengisi ruang-ruang yang kosong dalam diri
kita yang justru itu tidaklah kita sadari sejak dulu, tapi Allah memahami itu. Allah
tahu kebutuhan hambanya, itu keyword-nya.
Buatlah situasi agar kita semakin yakin akan rencana Allah Yang Maha Sempurna.
“IKLAN” Commercial Break
InsyaAllah,
perjalanan hidup selalu bisa kita nikmati meskipun berbagai rintangan dan masalah
senantiasa ada. Anggap saja itu commercial
break yang muncul setiap ada film menarik dan bagus yang ditayangkan di-tivi. Begitulah, cerita
dalam sebuah film yang mempunyai rating
tinggi dapat dipastikan iklannya sangatlah banyak. Sama halnya dengan kisah hidup
ini. Semakin indah alur kisah yang digariskan Allah, pastilah semakin banyak
ujian dan cobaan yang selalu berselang-seling layaknya iklan.
Inilah hidup. Nikmati saja. Ambil hikmah
dalam setiap kisah. Itu nasehatmu, terimakasih Kak”
~Adisucipto International Airport, 22 Maret 2015~
~Tri Sunaryanto~

Tidak ada komentar:
Posting Komentar