Minggu, 22 Maret 2015

Sekarang Tentang JODO(H)


Antara CINTA dan (R)ASA 
Cinta adalah seni menghidupkan hidup, ujar Anis Matta dalam serial cintanya. Indah bukan ? Begitulah Allah menakdirkan cinta sebagai kata kerja. Seseorang yang memutuskan untuk mencintai maka langkah selanjutnya ia akan mencari jalan untuk memberi dan memberi. Begitulah alur kisahnya. Jika ada yang bilang mudah untuk jatuh cinta kepada seseorang maka kemungkinan itu hanyalah jatuh “rasa” bukan cinta.

Antara rasa dan cinta itu 2 hal yang sangat berbeda. Cinta itu fitrah yang kuat dan melekat, ia tidak ada sekat waktu maupun tempat, ia tumbuh dan senantiasa berkembang seiring nikmat yang terus mengalir sampai akhir hayat. Sedangkan rasa, ia lebih tertarik menafsirkan suatu suasana yang dialami hati kita. Jika suasana lagi berbunga maka seakan rasa itu menjadi indah tak tertandingi apapun, namun ketika dibenturkan dengan situasi yang tidak sesuai dengan hati, maka rasa akan cenderung menegatifkan apapun. Terkait waktu, terkadang rasa juga memasuki hukum relativitas, rasa hari ini bisa jadi tidak sama dengan kemarin ataupun besok, kita tidak tahu masih adakah rasa atau tidak hari-hari berikutnya. Unpredictable. Itulah rasa.

Demikian bedanya Cinta dan Rasa. Jangan salah menafsirkan. Jangan samakan antara Cinta dan Rasa. Jangan salah menyimpulkan, apakah ini Cinta ataukah hanya sekedar Rasa. Pernahkah kau mengalaminya? Akupun pernah, oleh sebab itu kini aku mengisahkan keduanya kepadamu. Cinta dan Rasa. .

Apa yang kita inginkan belum tentu itu yang kita butuhkan. Allah sesalu memberikan apa yang kita butuhkan bukan apa-apa yang selalu kita inginkan. Bersyukurlah atas apa yang diberikan Allah pada kita. Karena mengapa? Jawabannya adalah karena kita tidak mau mengingkari keinginan Allah. Justru seharusnya kita harus lebih bersyukur karena itu. Bukankah semakin kita mensyukuri, semakin bertambah pula nikmat yang diberikan Allah untuk kita?

Sekarang tentang “JODO(H)”
Ia yang cantik dan ganteng,  ia yang cerdas dan pandai, ia yang kaya dan dermawan, ia yang sholeh dan sholehah, ia yang hafidz dan hafidzoh, ia yang mencintai dan mengagumimu, ia yang menghormatimu dan menyanjungmu, ia yang selalu menge-like dan me-retweet statusmu, ia yang selalu update dan memberikan kata motivasi, ia yang selalu siap sedia jika kau butuhkan.
Semua itu akan dikalahkan dengan ia yang namanya “Jodoh”.
Begitulah adanya. Itu Takdir, katanya.

Masih tentang jodoh, mungkin dahulu kala nama kita pernah bertemu bahkan bersanding. Jika ditanya dimana, jawaban pastinya di Lauhul Mahfudz ketika pena diangkat dan telah kering tinta. Mungkin kita lupa? Iya, kita memang lupa, bahkan dibuat takdir untuk melupakan itu. Kenapa demikian? Sebenarnya alasannya simpel. Supaya kita mencari dan saling mengenal. Bayangkan jika sejak kecil, kita sudah tahu nama pendamping hidup kita kelak. Apakah hidup kita serasa indah penuh kisah atau justru malah tidak bermakna dan hampa tanpa asa ? Tidak akan dibahas disini terkait itu.

Itulah salah satu misteri terindah dari Allah tentang takdir manusia. Jodoh, ia adalah salah satu dari kategori rizki yang sudah ditetapkan kepastiannya seperti 3 ketetapan Allah yang lainnya.

Ada kaidah menarik disini. Bahwa yang baik akan dipertemukan dengan yang baik, yang lebih baik juga akan dipertemukan dengan yang lebih baik pula, begitu juga berlaku yang sebaliknya. Begitulah seharusnya peraturan dan sunatullah-nya, itu sudah termaktub dalam Al Quran yang harus kita yakini. Lantas mengapa kita masih khawatir terkait kepastian ini? Tugas kita hanya sederhana. "Memperbaiki diri, kalaupun menjadi lebih baik masih bisa memungkinkan, maka baik saja tidaklah cukup" (Quote from Ust. Arief Hidayat).

Meskipun, ada yang menyampaikan bahwa realita tidaklah seindah “cerita” yang sudah digariskan. Benarkah demikian? Patut kita lihat fenomenanya terlebih dahulu. Memang ada wanita yang baik dipertemukan dengan yang biasa-biasa saja. Laki-laki yang sholeh diberikan pasangan wanita yang biasa-biasa saja. Apakah itu salah? Jangan-jangan itu bukan jodohnya, kan tidak sesuai teori?. Nah, disinilah seharusnya kita bisa memahami takdir. Bisa jadi apa yang diberikan Allah itulah yang sebenarnya kita butuhkan. Mungkin kita adalah seorang yang hafidz ataupun hafidzoh, tapi justru malah dijodohkan dengan seseorang yang biasa-biasa saja, bisa jadi ada maksud yang lebih agung dari Allah menakdirkan demikian. Bisa jadi (lagi) ia yang biasa-biasa saja yang mampu mengisi ruang-ruang yang kosong dalam diri kita yang justru itu tidaklah kita sadari sejak dulu, tapi Allah memahami itu. Allah tahu kebutuhan hambanya, itu keyword-nya. Buatlah situasi agar kita semakin yakin akan rencana Allah Yang Maha Sempurna.

“IKLAN” Commercial Break
InsyaAllah, perjalanan hidup selalu bisa kita nikmati meskipun berbagai rintangan dan masalah senantiasa ada. Anggap saja itu commercial break yang muncul setiap ada film menarik dan bagus yang ditayangkan di-tivi. Begitulah, cerita dalam sebuah film yang mempunyai rating tinggi dapat dipastikan iklannya sangatlah banyak. Sama halnya dengan kisah hidup ini. Semakin indah alur kisah yang digariskan Allah, pastilah semakin banyak ujian dan cobaan yang selalu berselang-seling layaknya iklan.

Inilah hidup. Nikmati saja. Ambil hikmah dalam setiap kisah. Itu nasehatmu, terimakasih Kak”

~Adisucipto International Airport, 22 Maret 2015~
~Tri Sunaryanto~

Tidak ada komentar:

Posting Komentar