“Ayah, kayaknya aku lagi suka deh sama seseorang. Adik tingkat di fakultas. Sesuai banget dengan kriteria yang aku pengen. Baik, sederhana, cantik juga sholehah.” Aku memulai pembicaraan dengan malu-malu. Sedari kecil, keuargaku emang sudah membiasakan untuk saling terbuka satu sama yang lainnya termasuk dalam hal perasaan. Walaupun untuk hal-hal tertentu, aku lebih seneng terbuka sama ayah daripada Bunda. Kak Putri juga sama, untuk hal-hal yang berhubungan dengan keperempuanan, biasanya doi lebih seneng ngobrol sama bunda di forum perempuan mereka yang ramenya masya allah, khas kaum hawa kalo lagi ngerumpi.
Ayah pernah bilang kalau dalam keluarga kami, setiap orang harus bertanggungjawab satu sama yang lainnya. Jika satu orang terkena masalah, maka itu akan jadi masalah keluarga bersama-sama. Tentu saja kami diberikan kewenangan untuk menentukan, mana masalah-masalah yang layak dikatagorikan masalah keluarga, mana yang cukup menjadi masalah pribadi. Yang menjadi masalah keluarga ya dimusywarahkan di forum keluarga. Yang masalah pribadi tapi butuh masukan, biasanya dibicarakan personal seperti yang sedang ku lakukan bersama ayah ini.
“So?” ayah menanggapi dengan mata penasaran sambil senyum-senyum gitu
“Akunya harus gimana dong? Di satu sisi aku tahu itu salah, belum saatnya. Belum siap nikah juga. Pasti enggak boleh juga sama bunda kalau pacaran, bisa diceramahin tiga hari tiga malam lebih kalau ketahuan bunda. Di sisi lain, enggak tahu kenapa susah banget buat ngelupain dia. Apalagi sering ketemu kalau ada di kampus. Any idea?” Ayah hanya tersenyum sebelum menjawab pertanyaanku.
“Coba tanya kepada orang yang sedang jatuh cinta, tentang apa yang membuatnya mencintai seseorang? Jawabannya boleh beraneka ragam, sesuai dengan selera, kriteria atau pengalaman masing-masing. Seperti yang kamu sampaikan tadi. Tapi segala jawaban selalu berujung pada kebaikan dan kelebihan orang yang dicintai. Tak pernah terdengar dalam kisah paling romantis sekalipun, kalau seseorang mencintai orang yang lainnya karena keburukan, kejelekan dan kekurangannya.”
“Lah iya lah, Ayah.” Aku tertawa mendengar penjelasan ayah.
“Artinya, cinta hanyalah ukuran suka kita terhadap seseorang. Cinta tidak mengukur tentang apa yang tidak kita suka. Padahal dalam diri seseorang, seberapa cintapun kita terhadapnya, pasti memiliki kekurangan selain kelebihan. Pasti memiliki sisi, yang kita enggak suka banget dengan sisi itu. Apakah cinta bisa mengatasinya?”
“Maksudnya, Yah?”
“Misalkan, kalau ada laki-laki yang mencintai perempuan karena kecantikannya. Apakah cinta itu masih ada kalau dia enggak cantik lagi? Apakah cinta itu akan membesar jika kecantikannya semakin berkurang? Atau kalau kamu mencintai seseorang karena orang itu baik, apakah cinta itu akan tetap sama kalau kamu mengetahui keburukan dari orang tersebut, apalagi jika keburukannya jauh lebih banyak daripada kebaikannya. Bahkan, kalau kamu mencintai seseorang karena kesholehan-nya, apa iya, kamu sudah siap jika ternyata suatu hari dia berubah, kemudian perubahnnya malah membuat kamu semakin jauh dari kebaikan. Semakin jauh dari kesholehan itu sendiri?”
“Iya juga ya, Yah?”
“Itulah kenapa banyak orang yang dulunya mengaku cinta setengah mati, tapi rumah tangganya berantakan dan berujung perpisahan. Itulah kenapa banyak orang terdahulu, yang jarang banget mengungkapkan cinta, tapi rumahtangganya langgeng sampai mati. Karena sebenarnya, dalam perkara ini ada hal yang jauh lebih penting dari sekedar cinta, yang bisa menyelesaikan masalah seperti yang ayah tanyakan tadi.”
Ayah berhenti sejenak, memberiku kesempatan untuk mencerna maksud perkataannya. Tapi aku tak sabar untuk mendengar kelanjutannya.
“Terus, Yah?”
“Nah, karena cinta hanya berbicara tentang apa yang kita suka. Bisa jadi pada saat mencintai orang lain, sebenarnya kita hanya sedang mencintai sebagian diri kita yang hidup pada orang tersebut. Atau kita sedang menemukan sesuatu yang kita inginkan, tidak ada dalam diri kita dan ada dalam diri orang tersebut. Coba deh, kamu cek lagi perasaan kamu itu, bener nggak seperti itu. Kamu hanya melihat perempuan tadi, dari sisi kelebihannya saja. Dari sisi yang kebetulan, kelebihannya adalah apa yang kamu suka atau apa yang kamu inginkan tapi belum ada di diri kamu.”
“He,, he.. “ aku cuma tersenyum malu, sebagai bentuk pengakuan memang begitulah adanya. Ayah membalasnya dengan senyuman mengerti, lalu melanjutkan:
“Itulah kenapa sumber cinta yang utama adalah Allah, karena semua tentang Allah adalah kebaikan, kelebihan, keindahan, dan kesempurnaaan. Tak ada keburukan di dalamnya. Itulah kenapa yang harus diteladani adalah cintanya rasullah. Karena beliaulah manusia paling sempurna, yang walaupun tak luput dari kesalahan sebagai seorang manusia, setidaknya beliau selalu dijaga dari segala keburukan.”
“Terus, gimana dong caranya untuk melupakan perempuan tadi?”
“Cinta itu perasaan. Dan perasaan selalu bersifat relatif. Di setiap tempat, kamu akan menemukan siapa yang paling cantik, siapa yang paling baik, siapa yang paling sholehah, dan siapa yang paling-paling lainnya. Kamu memilih untuk mencintai perempuan tadi, itu karena secara tidak sadar, otak kamu membanding-bandingkan antara perempuan yang pernah kamu kenal, dekat dengan kamu, dan hasilnya perempuan tadilah yang paling sesuai dengan kriteria atau apa yang kamu inginkan.”
“Terus hubungannya apa ya, Ayah?”
“Karena sifatnya relatif, kalau tempatnya kamu perluas lagi, kalau kamu punya lingkungan baru, yang lebih banyak, kamu selalu bisa menemukan perempuan yang lebih baik darinya. Selalu saja begitu. Kalau kamu mau membuka hati dan tidak terjebak dalam perasaan yang sifatnya relatif tadi. Makanya, kalau mau berteman dengan perempuan, agar tidak terjebak pada perasaan-perasaan seperti itu, perasaan relatif yang belum pada tempat dan waktunya, dari awal harus tegas membuat batasan dengan hati kamu. Bilang ke hati kamu, siapapun perempuan yang dekat sama kamu, yang sering bertemu, berdiskusi dan sebagainya: hanya sebatas teman. Cukup. Tidak lebih. Kalaupun dia cantik, baik, juga sholehah, pasti ada perempuan lain di tempat yang lain, yang jauh cantik, lebih baik dan juga lebih sholehah daripada dirinya. Kalaupun separah-parahnya, kamu berjodoh dengan perempuan yang standarnya jauh lebih rendah daripada perempuan tadi; itu karena perempuan yang kelak akan menjadi jodoh kamu itu adalah yang terbaik buat kamu.”
“Tapi, hati kita kan enggak bisa bohong, Yah? Kalau kita suka, ya suka. Bukannya kita harus mengikuti kata hati ya?”
“Haha. Hati emang nggak bisa bohong. Tapi hati sangat bisa untuk salah. Misalanya, katakanlah perempuan yang kamu sukai tadi sudah menikah dengan orang lain, hati kamu mungkin tidak bisa bohong kalau kamu masih suka, kalau kamu masih berharap, kalau kamu merasa kecewa. Tapi apa dibenarkan mencintai perempuan yang sudah menjadi suami orang lain? Makanya, sebelum kamu mengikuti kata hatimu, jaga dulu hati kamu, lalu periksa apakah suara hati kamu itu udah bener atau belum. Kalau udah bener, baru boleh diikuti.” Aku cuma senyum cengengasan, sambil manggut-manggut.
***
“Oh iya, Ayah, kenapa dulu Ayah memilih bunda sebagai pendamping hidup?” Baru saja ayah mau menjawab, tapi keduluan sama teriakan keras seorang perempuan:
“Ayah, Putra, ayo makan malam dulu. Makanannya sudah siap. Sudah laper nih.”
Tentu saja itu suara kak Putri. Secerewet-cerewetnya bunda, enggak mungkin bunda teriak-teriak model begitu. Biasanya kalau bunda yang manggil, bunda akan langsung mendatangi kami, tersenyum lembut, basa-basi sebentar, baru mengajak makan. Tapi siapapun yang memanggil, kami harus segera menuju ruang makan. Pembicaraan pun harus ditunda sementara waktu.
bersambung ke part-2
___ Serial Ayah-Bunda, Nazrul Anwar
***
Serial ini akan bersambung sampai part-8, akan terposting secara otomatis di page ini setiap jam 17.00 dari tanggal 27 Mei - 03 Juni 2014. Sebagian besar bahannya adalah hasil diskusi dan 'berantem' sama seseorang. Selamat menikmati, silahkan dishare sebanyak-banyknya jika dirasa bermanfaat
source from :https://www.facebook.com/abinya.karel/posts/278906595613788?fref=nf