Sabtu, 31 Mei 2014

"Walaupun dia punya Lelaki Idaman...."

kriteria [part-5]
=============


“Ceritanya, bunda pacaran sama ayah, terus ngajak nikah deh.”
“Ih, Bunda nyebelin deh. Kalau itu aku juga udah tahu. Yang belum aku tahu, kenapa bunda mau pacaran sama ayah dan ngajak nikah?” 
“Kan, Bunda belum selesai ngomong, dengerin dulu dong, bundanya. Enggak sabaran gitu.” nada bicara bunda tegas, tapi lembut, kesel ceritanya dipotong. Enggak tahu kenapa aku suka kalau liat ekspresi dan nada bicara bunda yang kayak gitu. Ayah juga kadang suka digituin sama bunda. Kata ayah, itu gaya bunda kalau lagi kesel atau marah. Marah sih, tapi lebih banyak sayangnya. Kebalikan banget dari ekspresi kalau bunda lagi cerewet karena kenakalanku, sayang sih tapi lagi banyak keselnya. Pokoknya lucu deh... (next..)

Jumat, 30 Mei 2014

“Kenapa sih, dulu Bunda memutuskan untuk menikah dengan ayah?”


kriteria [part-4]
=============





Kita lupakan adegan 18+ sebelumnya, kembali pada pembicaraan antar lelaki, pembicaraanku dengan ayah tentang perjalanan hidupnya bersama bunda. Perjalanan yang membuatku ada di dunia, perjalanan yang membuatku begitu bersyukur berada di tengah-tengah mereka, dan perjalanan yang kata ayah; walaupun beliau diberikan kesempatan untuk mengulang kembali perjalanan hidup itu, dan diberikan kesempatan untuk memilih siapapun yang beliau inginkan untuk membersamainya, ayah akan tetap memilih bunda. Bukan yang lainnya. 

*** 

“Ayah, emang salah ya, kalau kita menginginkan pasangan yang ideal?”Ayah tersenyum mendengar pertanyaanku, bikin aku bingung sendiri.
“Kok, Ayah cuma senyum-senyum gitu. Ada yang salah ya dengan pertanyaannya?”
“Enggak kok, pertanyaanmu itu mengingatkan Ayah pada sesuatu.”
“Sesuatu apa emang?”

“Dulu, sebelum menikah dengan bundamu, ayah bergonta-ganti pacar untuk menemukan pasangan yang ideal buat ayah. Dan setelah menikah, hidup bertahun-tahun dengan bunda, ayah baru mengerti kalau ideal itu adalah proses. Kita enggak akan pernah tahu seseorang itu ideal atau enggak buat kita, sebelum kita menjalani hidup bersama dengan orang tersebut. Jadi bohong banget, kalau ada laki-laki yang bilang, kalau pacarnya adalah perempuan ideal yang bisa mendampingi hidupnya kelak. Begitu juga sebaliknya. Cocok mungkin iya, tapi ideal? Masih perlu bukti yang sangat banyak. Dan itu baru bisa diketahui setelah pasangan itu menikah, setelah bertahun-tahun hidup bersama.” 

“Bener juga ya, Yah. Kalau Bunda, sudah menjadi pasangan yang ideal buat Ayah?”aku bertanya, menggoda ayah

“Isteri yang baik dan sholehah iya, tapi ideal? Sampai sekarang, setiap hari kami berusaha untuk menciptakan kondisi itu.Setiap hari ayah berusaha untuk bunda, kamu dan kakakmu. Begitu juga bunda. Kami sendiri enggak tahu sudah seberapa ideal atau bahkan mungkin jauh dari ideal. Buat ayah dan bunda, komitmen untuk saling terbuka, saling menerima kekurangan masing-masing, lalu bantu-membantu untuk memperbaikinya, ditambah komitmen untuk memprioritaskan keluarga; sudah cukup untuk menjembatani perbedaan antara kami, untuk menyikapi kekurangan dan kelemahan kami. Terserah mau ideal ataupun enggak.”

“Lagipula, setiap orang punya kelebihan dan kekurangan. Termasuk ayah dan bunda. Buat ayah, pasangan yang ideal itu bukan pasangan yang sama-sama memiliki banyak kelebihan. Bukan juga pasangan yang mendekati sempurna. Tapi pasangan yang kelebihannya bisa melengkapi kekurangan yang lain. Kalaupun keduanya sama-sama memiliki kelemahan yang sama, setidaknya bisa saling memahami dan memperbaiki. Dibutuhkan kesabaran yang tidak sedikit untuk itu, diperlukan waktu yang tidak sebentar untuk membiasakannya. Dibutuhkan masalah yang tidak sedikit untuk membuktikannya. Itulah kenapa ideal itu butuh proses. Tidak langsung terbentuk. Bahkan kondisi dua orang yang sama-sama baik, sama-sama nampak cocok dengan kelebihannya masing-masing, lalu keduanya menikah, tidak menjadi jaminan kalau mereka akan menjadi pasangan yang ideal.”

*** 

“Ehem.” tiba-tiba bunda sudah ada di depan kami. Kamipun berhenti sejenak.
“Lagi seru ya ngobrolnya. Maaf bunda ganggu sebentar. Ayah, katanya mau ada perlu ke rumah temen. Jadi? Ini udah jam berapa, nanti kemalaman loh.”
“Oh iya, ya Bun. Hampir aja lupa. Makasih ya, udah diingetin.” Bunda mengangguk sambil tersenyum.

“Putra, ayah harus berangkat nih. Nanti aja ya dilanjutin lagi ngobrolnya. Atau kalau mau dilanjutin sekarang sama bunda juga boleh. Bunda bisa kan?” Bunda tersenyum lalu mengangguk
“Oke deh, Ayah. Hati-hati ya.”

*** 

Lupakanlah tentang kenakalanku, tentang banyak hukuman yang aku terima dari perempuan di hadapanku ini, tentang betapa cerewetnya bunda kalau akunya lagi bandel. Enggak tahu kenapa seteleh mendenger kisah ayah dan bunda, bunda menjadi sosok yang begitu berbeda di hadapanku. Tentu saja aku tidak bisa langsung mengobrol dengan bunda, aku harus menunggu terlebih dahulu, sambil mau enggak mau menyaksikan adegan ini; ayah yang duduk di hadapanku berdiri, lalu berjalan menuju pintu depan, bunda langsung mensejajari ayah, mengantar ayah sampai pintu depan, membukakan pintu untuk ayah, tangan ayah dicium, kepala bunda juga sama. Terdengr dialog yang tak ang lagi; Bunda, Ayah berangkat dulu ya. Hati-hati ya. Iya. Assalamualaikum. Waalaikumsalam.

Bunda menutup pintu, lalu menemuiku. 

*** 

“Bunda, boleh aku tanya sesuatu?” aku langsung bertanya, bahkan sebelum bunda duduk.
“Boleh, mau tanya apa emang?”
“Kenapa sih, dulu Bunda memutuskan untuk menikah dengan ayah?”
“Ih, suka-suka Bunda dong mau nikah sama siapa.” bunda bercanda menjawab pertanyaanku
“Aduh, aku serius ini, Bunda. Kenapa harus ayah, bukan laki-laki yang lain?”
“Iya deh, segitu penasarannya anak bunda. Begini ceritanya....”

*** bersambung ke part-5

___ Serial Ayah-Bunda, Nazrul Anwar

***

Serial ini akan bersambung sampai part-8, akan terposting secara otomatis di page ini setiap jam 17.00 dari tanggal 27 Mei - 03 Juni 2014. Sebagian besar bahannya adalah hasil diskusi dan 'berantem' sama seseorang. Selamat menikmati, silahkan dishare sebanyak-banyknya jika dirasa bermanfaat 

source from : https://www.facebook.com/abinya.karel?ref=ts&fref=ts


Kamis, 29 Mei 2014

Keduanya menangis...."


kriteria [part-3]

===============

..........

“Dan setelah menikah, Ayah enggak pernah jatuh cinta lagi?”
“Pernah, sering malah.”
“Lah, Ayah tega mengkhianati Bunda?”
“Tentu saja enggak harus mengkhianati bunda, karena setelah menikah dengan bunda, ayah selalu jatuh cinta pada perempuan yang sama. Ya bundamu itu.”
“Aih, kok bisa gitu sih, Yah?”
“Komitmen selalu bisa menimbulkan cinta. Tapi tidak semua cinta bisa menghasilkan komitmen. Bahkan untuk beberapa kondisi, cinta yang ditimbulkan dari komitman, memberikan efek yang jauh lebih kuat dan lebih dalam.”

“Kenapa bisa begitu?”

“Karena komitmen, mau enggak mau mengharuskan ayah dan bunda membangun cinta itu bersama-sama. Berproses. Tidak otomatis. Ada perjuangan disana. Berbeda ketika kita mencintai seseorang sebelum ada komitmen. Katakanlah kamu mencintai perempuan yang cantik, sederhana, dan sholehah tadi. Pertanyaannya adalah, seberapa layak kamu mencintai anak gadis orang dengan kriteria seperti itu? Padahal tidak sedikitpun kamu berperan dalam prosesnya menjadi cantik, baik, ataupun sholehah. Kamu hanya melihat apa yang sudah jadi. Kamu hanya mencintai apa yang sudah ada. Seberapa besar kamu bisa mencintai seseorang yang belum menjadi milik kamu, padahal manusia hanya akan benar-benar mencintai sesuatu yang ia miliki?”

“Tapi komitmen, memiliki cara kerja yang berbeda. Komitmen membuat aku dan kamu menjadi kita. Membuat ayah bertanggungjawab terhadap apa yang terjadi pada bunda, begitu juga sebaliknya. Ayah bertanggungjawab terhadap kekurangan bunda. Sehingga ayah juga akan membantu untuk memperbaiki bunda, jika kekurangan itu memang bisa diusahakan untuk diperbaiki. Proses itulah yang membuat cinta itu kian tertanam. Apalagi jika diantara kami melihat perubahan yang lebih baik pada diri masing-masing, dan ternyata ada kontribusi atau peran masing-masing dalam perubahan itu. Tapi, jika kekurangan itu sesuatu yang memang tidak bisa diperbaiki, seperti yang bersifat fisik, komitmen juga akan membuat kami saling menerima. Dan penerimaan yang tulus, tentu saja merupakan bentuk cinta tersendiri.”

“Komitmen untuk mewujudkan keluarga sakinah, mawaddah, warrohmah, yang membuat bunda tidak pernah berputus asa menghadapi ayah, bersabar membimbing ketertinggalan ayah dalam urusan agama, tanpa melupakan bakti dan kewajibannya sebagai seorang isteri. Komitmen itu juga yang membuat ayah tidak menyerah untuk terus belajar, untuk menjadi lebih bertanggungjawab lagi, untuk menjadi imam yang benar-benar layak untuk bunda, untuk menjadi ayah yang bisa diteladani anak-anaknya. Komitmen itu yang membuat ayah selalu merasa terlahir kembali menjadi manusia yang baru, manusia yang berusaha untuk jadi lebih baik dari hari ke hari.”

“Intinya, komitmen akan membuat siapapun melakukan apapun yang ia mau. Pertanyaan yang tertinggal adalah; untuk apa dan siapa ia melakukannya?”

“Dan Ayah melakukan semuanya buat Bunda?”
“Yup.”Jawab ayah sambil mengangguk
“Wow. Bunda beruntung banget ya, kalau gitu. Bangga deh jadi anaknya Ayah.”aku tersenyum menggoda ayah, sebelum akhirnya dibuat bingung dengan jawaban ayah selanjutnya.
“Sayangnya, ayah salah. Ternyata, bunda tidak mengharapkan itu dari ayah. Dan kamu tahu, gimana rasanya melakukan sesuatu untuk seseorang yang kamu cintai, tapi ternyata orang itu sama sekali tidak menginginkan kita melakukannya? Sangat tidak enak. Untung bunda menyampaikannya dengan baik, jadi tidak menyakiti hati ayah.”

“Loh, emang Bunda pengennya gimana? Kok enggak mau diperlakukan seperti itu? Bukankah setiap orang harusnya senang diperlakukan dengan sebaik itu?”

***

Anggaplah kalian sedang menonton film, lalu dengan sembarangan adegannya meloncat ke masa puluhan tahun silam. Flashback. Sebenernya sang sutradara bisa saja menggambarkan adegan itu dengan cerita masa lalu yang diceritakan oleh tokohnya. Misalkan dalam kisah ini, seperti sebelumnya, ayah menceritakan tentang masa lalunya. Tapi biar lebih dramatis, biar lebih dapet efek emosionalnya, untuk bagian ini aku akan menceritakan apa yang sudah disampaikan ayah melalui adegan langsungnya, antara ayah dan bunda, sekian puluh tahun silam, di ulangtahun pernikahnnya yang pertama. Btw, kalau adegan di bawah ini ditayangkan di tv-tv, di sudut kanan atas mungkin akan ada simbol 18+, artinya khusus untuk usia 18 tahun ke atas.

***

“Bunda, makasih ya atas semuanya. Atas kepercayaannya, atas kesabarannya, atas penerimaannya. Atas perlakuan yang begitu baik. Atas semua hal yang terjadi setahun ini. Makasih telah menyadarkan ayah, bahwa hanya laki-laki yang bertanggunjawablah yang benar-benar berhak untuk menjadi seorang suami.” Bunda yang mendengar hanya bisa tersenyum, menunduk malu-malu, lalu menatap ayah lagi.

“Ayah, boleh bunda minta sesuatu?”

“Boleh, Bunda mau minta apa? Kalau Ayah bisa, pasti ayah penuhi.”ayah begitu antusias, soalnya jarang-jarang si bunda minta sesuatu.

“Ayah, bunda sangat berterimakasih atas semua kebaikan yang ayah lakukan kepada bunda. Bunda juga bersyukuuur banget, Allah menitipkan bunda kepada laki-laki seperti Ayah.Tapi suatu hari nanti mungkin bunda enggak ada. Suatu hari akan ada yang lain selain bunda, ada anak-anak. Suatu hari nanti mungkin bunda bisa berubah. Dan bunda mau, ada atau enggak ada bunda, bersama atau enggak bersama bunda, ayah tetap melakukan kebaikan itu, tetap memiliki tanggungjawab itu. Bukan hanya kepada bunda, bukan juga karena bunda. Bunda juga akan mencoba berusaha untuk terus memperbaiki diri, menjadi isteri yang baik buat ayah, juga ibu yang baik buat anak-anak kita nantinya. Menjadi diri bunda yang lebih baik untuk sesama. Agar kebersamaan kita bisa berarti juga untuk orng lain. Dirasakan juga manfaatnya untuk orang lain. Bukan untuk diri kita sendiri saja. Bunda juga selalu minta kerelaan dan keridhoan ayah untuk setiap apa yang bunda lakukan. Ingetin kalo bundanya salah, bilang kalau ada tindakan bunda yang kurang berkenan di hati ayah, marahin aja kalau bundanya bandel.”

Keduanya menangis. Bukan karena sedih. Bukan juga karena bahagia. Mungkin karena cinta, salah satu buah komitmen yang sudah mereka dapatkan, dan akan terus mereka dapatkan.

*** bersambung ke part-4

___ Serial Ayah-Bunda, Nazrul Anwar

***

Serial ini akan bersambung sampai part-8, akan terposting secara otomatis di page ini setiap jam 17.00 dari tanggal 27 Mei - 03 Juni 2014. Sebagian besar bahannya adalah hasil diskusi dan 'berantem' sama seseorang. Selamat menikmati, silahkan dishare sebanyak-banyaknya jika dirasa bermanfaat 


source from : https://www.facebook.com/abinya.karel?ref=ts&fref=ts

Rabu, 28 Mei 2014

Terus kalau gitu, kenapa enggak diputusin aja...???


kriteria-2 [part-2]
================



Selesai makan malam. Aku langsung menculik ayah dari ruang makan. Enggak sabar melanjutkan pembicaraan yang tertunda.

*** 

“Ayah, ayo ceritain lagi, apa yang membuat Ayah dulu memilih bunda sebagai pendamping hidup?”
“Komitmen.”
“Hah, cuma itu, Ayah? Emang Ayah enggak cinta gitu sama bunda?” aku kaget denger jawaban ayah yang simple banget
“Ehm, gimana ya?”Ayah sok mikir, sengaja bener ingin buat aku penasaran
“Cinta sih, tapi bukan itu alasan utamanya. Kalau alasan utamanya cinta, bukan bunda yang ayah nikahi. Tapi perempuan yang lainnya. Perempuan yang benar-benar sesuai dengan kriteria ayah.”

“Nah loh, maksudnya gimana?”
“Kan dulu Ayah pernah cerita, kalau sebelum menikah dengan bunda, ayah sempat berganti pacar beberapa kali. Dan jujur ya, kalau ngomongin cinta, cintanya ayah ke bunda waktu itu tidak ada apa-apanya kalau dibandingkan cintanya ayah ke pacar-pacar sebelumnya. Artinya, kalau pertimbangan utamanya cinta, Ayah pasti akan mencari perempuan lain yang lebih ayah cintai, bukan bunda yang awalnya hanya pelarian saja setelah Ayah putus dari pacar yang sebelumnya.”
“Waduh, jadi bunda Cuma pelarian aja buat Ayah, perempuan cadangan gitu?” enggak tahu kenapa, tiba-tiba aku jadi emosi.
“Iya. Tapi itu kan dulu, waktu ayah masih belum ngerti.”

“Terus gimana ceritanya Ayah bisa memutuskan untuk menikah dengan bunda?”
“Ceritanya, memasuki bulan ketiga ayah pacaran sama bunda, enggak tahu kesambet malaikat dari mana, tiba-tiba bunda ngajakin nikah. Katanya, bunda enggak mau pacaran lagi. Kalau mau, nikahi bunda secepatnya, atau bunda minta putus aja. Terus bakalan cari laki-laki lain yang mau jadi suaminya bunda. Waktu itu ayah bingung banget kan. Enggak ada rencana sama sekali untuk menikah cepat. Bahkan enggak ada rencana buat nikahin bunda. Orang tujuannya mau pacaran doang kok.”

“Terus kalau gitu, kenapa enggak diputusin aja bundanya. Kok malah dinikahin sih?”


“Sebenarnya waktu itu ayah mau langsung putusin bunda. Nothing to lose lah ya. Lagian kan ayah enggak cinta-cinta banget sama bunda. Tapi gengsi dong, kesannya kalau langsung bilang putus gitu, kayaknya enggak gentle banget. Enggak bertanggungjawab. Akhirnya, ayah basa-basi minta waktu seminggu buat memikirkan dulu. Baru ngasih keputusan ke bunda. Padahal waktu itu, ayah udah punya jawabannya.”

“Terus, terus?”
“Nah, waktu seminggu itu, iseng-iseng Ayah mikirin bunda. Terus Ayah merenung gitu deh. Sebenernya mau apa sih? Mau cari perempuan yang kayak gimana lagi? Udah nemu sama yang sesuai dengan kriteria banget, ideal menurut Ayah, udah dipacarin juga, tapi putus juga tuh, masih banyak kurangnya juga, masih banyak yang enggak cocoknya juga. Padahal belum apa-apa. Apalagi kalau nanti menjalani kehidupan keluarga yang lebih rumit. Enggak ada yang bisa menjamin. Termasuk cinta. Terus kenapa dipacarin kalau enggak mau dinikahin. Kenapa harus mempermainkan perasaan sendiri dan orang lain kalau nantinya enggak hidup bareng. Dan kenapa-kenapa yang lainnya, yang Ayah sendiri enggak bisa jawab.”

“Ceritanya Ayah tobat gitu ya?” tanyaku sambi tersenyum
“Belum sih. Masih bingung. Masih belum tahu kenapa dan harus apa. Terus ayah sampai pada kesimpulan; kalau dipikir-pikir, sebenarnya siapapun yang jadi pendamping hidup ayah, pasti punya kelemahan. Seideal apapun perempuan itu. Jadi masalahnya bukan tentang seberapa ideal atau seberapa sesuai dengan kriteria yang diinginkan. Tapi tentang bagaimana kita menyikapi kelemahan masing-masing. Kalau kitanya egois, mau menang sendiri, ya pasti ujung-ujungnya banyak ributnya, terus putus kayak pacar-pacar yang sebelumnya.”

“Tapi kalau sama-sama memiliki komitmen untuk saling menerima, untuk saling memperbaiki, untuk saling mengisi, memahami juga menghargai, sekurang ideal apapun pasangan kita, sekurang sesuai apapun dengan kriteria yang kita inginkan, harusnya tidak akan terlalu bermasalah, kalau kita punya niat yang benar untuk membangun keluarga yang baik, juga punya komitmen yang kuat untuk mewujudkannya. Bersama siapapun yang menjadi pasangan hidup kita.”

“Dan bunda punya itu?”
“Iya. Bundamu punya komitmen itu. Seminggu kemudian sebelum ayah memberikan jawaban ke bunda, ayah bertanya tentang kenapa bunda memberikan pilihan itu kepada ayah, dan apa rencana bunda kalau kami menikah kelak.”

“Terus jawaban bunda apa, Ayah?”
“Jawaban lengkapnya, nanti kamu tanya saja ke bundanya langsung. Intinya, bunda menawarkan komitmen itu kepada ayah dan meminta ayah juga memberikan komitmen yang sama. Enggak menuntut apa-apa dan enggak aneh-aneh. Karena ayah sepemikiran dengan bunda, dan ayah juga tahu kalau bunda itu selalu menepati janji, enggak pernah macem-macem juga, ayah bilang ke bunda jawabannya iya. Ayah mau nikahin bunda.”

“Berarti cinta itu enggak penting dong ayah?”

“Penting. Tetap penting. Siapa yang mau hidup bersama tanpa perasaan cinta. Hanya saja itu bukan yang paling utama. Dalam diri manusia, komitmen berada pada area yang jauh lebih rasional daripada cinta. Cinta lebih banyak didominasi oleh perasaan, yang kadang enggak masuk akal. Bahkan bagi orang-orang yang enggak bisa mengendalikannya, perasaan itu jadi enggak seimbang. Karena cinta mendominasi sebagian besar perasaan yang diisi dengan harapan selalu bahagia. Padahal, Allah itu menciptakan begitu banyak rasa, bukan hanya bahagia saja. Padahal sejatinya, sumber kebahagiaan itu bukan cinta. Tapi pada bagaimana kita menerima dan mensyukuri apa yang sudah Allah berikan kepada kita. Cinta hanyalah salah satunya. Bukan satu-satunya.”

“Berbeda dengan cinta, komitmen memberikan kesiapan tersendiri untuk menghadapi hal yang tidak disukai oleh masing-masing. Komitmen menyadarkan bahwa sebagaimana kehidupan pada umumnya, dalam rumah tangga akan banyak masalah dan ujian yang harus dihadapi bersama. Dan seberat apapun ujian itu, komitmen akan memberikan kepercayaan dan keyakinan tersendiri, kalau kita bisa mengatasinya bersama-sama. Kalau rasa cinta, biasanya enggak akan sedalam dan sejauh itu.

“Lagian, rumah tangga tidak otomatis memberikan kebahagiaan pada yang menjalaninya. Kalau otomatis begitu, pastinya enggak ada pasangan yang bercerai. Tapi rumahtangga memberikan kesempatan untuk menghadapi semuanya bersama-sama. Untuk sama-sama mencari kebahagian, untuk sama-sama mengatasi kesedihan. Mengenai bagaimana hasilnya, ditentukan dari seberapa besar komitmen masing-masing dalam menjalankannya. Bukan sekedar pada perasaan cinta yang dimilikinya.”

“Dan setelah menikah, Ayah enggak pernah jatuh cinta lagi?”
“Pernah, sering malah.”
“Lah, Ayah tega mengkhianati Bunda?”
“Tentu saja enggak harus mengkhianati bunda, karena setelah menikah dengan bunda, Ayah selalu jatuh cinta pada perempuan yang sama. Ya bundamu itu.”
“Aih, kok bisa gitu sih, Yah?”

*** bersambung ke part-3

___ Serial Ayah-Bunda, Nazrul Anwar

***

Serial ini akan bersambung sampai part-8, akan terposting secara otomatis di page ini setiap jam 17.00 dari tanggal 27 Mei - 03 Juni 2014. Sebagian besar bahannya adalah hasil diskusi dan 'berantem' sama seseorang. Selamat menikmati, silahkan dishare sebanyak-banyknya jika dirasa bermanfaat 


source from: https://www.facebook.com/abinya.karel?fref=nf

Selasa, 27 Mei 2014

“Ayah, kayaknya aku lagi suka deh sama seseorang. Adik tingkat di fakultas......."

Kriteria [part-1]
============
“Ayah, kayaknya aku lagi suka deh sama seseorang. Adik tingkat di fakultas......."



“Ayah, kayaknya aku lagi suka deh sama seseorang. Adik tingkat di fakultas. Sesuai banget dengan kriteria yang aku pengen. Baik, sederhana, cantik juga sholehah.” Aku memulai pembicaraan dengan malu-malu. Sedari kecil, keuargaku emang sudah membiasakan untuk saling terbuka satu sama yang lainnya termasuk dalam hal perasaan. Walaupun untuk hal-hal tertentu, aku lebih seneng terbuka sama ayah daripada Bunda. Kak Putri juga sama, untuk hal-hal yang berhubungan dengan keperempuanan, biasanya doi lebih seneng ngobrol sama bunda di forum perempuan mereka yang ramenya masya allah, khas kaum hawa kalo lagi ngerumpi.
Ayah pernah bilang kalau dalam keluarga kami, setiap orang harus bertanggungjawab satu sama yang lainnya. Jika satu orang terkena masalah, maka itu akan jadi masalah keluarga bersama-sama. Tentu saja kami diberikan kewenangan untuk menentukan, mana masalah-masalah yang layak dikatagorikan masalah keluarga, mana yang cukup menjadi masalah pribadi. Yang menjadi masalah keluarga ya dimusywarahkan di forum keluarga. Yang masalah pribadi tapi butuh masukan, biasanya dibicarakan personal seperti yang sedang ku lakukan bersama ayah ini.
“So?” ayah menanggapi dengan mata penasaran sambil senyum-senyum gitu
“Akunya harus gimana dong? Di satu sisi aku tahu itu salah, belum saatnya. Belum siap nikah juga. Pasti enggak boleh juga sama bunda kalau pacaran, bisa diceramahin tiga hari tiga malam lebih kalau ketahuan bunda. Di sisi lain, enggak tahu kenapa susah banget buat ngelupain dia. Apalagi sering ketemu kalau ada di kampus. Any idea?” Ayah hanya tersenyum sebelum menjawab pertanyaanku.

“Coba tanya kepada orang yang sedang jatuh cinta, tentang apa yang membuatnya mencintai seseorang? Jawabannya boleh beraneka ragam, sesuai dengan selera, kriteria atau pengalaman masing-masing. Seperti yang kamu sampaikan tadi. Tapi segala jawaban selalu berujung pada kebaikan dan kelebihan orang yang dicintai. Tak pernah terdengar dalam kisah paling romantis sekalipun, kalau seseorang mencintai orang yang lainnya karena keburukan, kejelekan dan kekurangannya.”
“Lah iya lah, Ayah.” Aku tertawa mendengar penjelasan ayah.
“Artinya, cinta hanyalah ukuran suka kita terhadap seseorang. Cinta tidak mengukur tentang apa yang tidak kita suka. Padahal dalam diri seseorang, seberapa cintapun kita terhadapnya, pasti memiliki kekurangan selain kelebihan. Pasti memiliki sisi, yang kita enggak suka banget dengan sisi itu. Apakah cinta bisa mengatasinya?”
“Maksudnya, Yah?”
“Misalkan, kalau ada laki-laki yang mencintai perempuan karena kecantikannya. Apakah cinta itu masih ada kalau dia enggak cantik lagi? Apakah cinta itu akan membesar jika kecantikannya semakin berkurang? Atau kalau kamu mencintai seseorang karena orang itu baik, apakah cinta itu akan tetap sama kalau kamu mengetahui keburukan dari orang tersebut, apalagi jika keburukannya jauh lebih banyak daripada kebaikannya. Bahkan, kalau kamu mencintai seseorang karena kesholehan-nya, apa iya, kamu sudah siap jika ternyata suatu hari dia berubah, kemudian perubahnnya malah membuat kamu semakin jauh dari kebaikan. Semakin jauh dari kesholehan itu sendiri?”

“Iya juga ya, Yah?”
“Itulah kenapa banyak orang yang dulunya mengaku cinta setengah mati, tapi rumah tangganya berantakan dan berujung perpisahan. Itulah kenapa banyak orang terdahulu, yang jarang banget mengungkapkan cinta, tapi rumahtangganya langgeng sampai mati. Karena sebenarnya, dalam perkara ini ada hal yang jauh lebih penting dari sekedar cinta, yang bisa menyelesaikan masalah seperti yang ayah tanyakan tadi.”

Ayah berhenti sejenak, memberiku kesempatan untuk mencerna maksud perkataannya. Tapi aku tak sabar untuk mendengar kelanjutannya.
“Terus, Yah?” 
“Nah, karena cinta hanya berbicara tentang apa yang kita suka. Bisa jadi pada saat mencintai orang lain, sebenarnya kita hanya sedang mencintai sebagian diri kita yang hidup pada orang tersebut. Atau kita sedang menemukan sesuatu yang kita inginkan, tidak ada dalam diri kita dan ada dalam diri orang tersebut. Coba deh, kamu cek lagi perasaan kamu itu, bener nggak seperti itu. Kamu hanya melihat perempuan tadi, dari sisi kelebihannya saja. Dari sisi yang kebetulan, kelebihannya adalah apa yang kamu suka atau apa yang kamu inginkan tapi belum ada di diri kamu.”

“He,, he.. “ aku cuma tersenyum malu, sebagai bentuk pengakuan memang begitulah adanya. Ayah membalasnya dengan senyuman mengerti, lalu melanjutkan:
“Itulah kenapa sumber cinta yang utama adalah Allah, karena semua tentang Allah adalah kebaikan, kelebihan, keindahan, dan kesempurnaaan. Tak ada keburukan di dalamnya. Itulah kenapa yang harus diteladani adalah cintanya rasullah. Karena beliaulah manusia paling sempurna, yang walaupun tak luput dari kesalahan sebagai seorang manusia, setidaknya beliau selalu dijaga dari segala keburukan.”
“Terus, gimana dong caranya untuk melupakan perempuan tadi?”
“Cinta itu perasaan. Dan perasaan selalu bersifat relatif. Di setiap tempat, kamu akan menemukan siapa yang paling cantik, siapa yang paling baik, siapa yang paling sholehah, dan siapa yang paling-paling lainnya. Kamu memilih untuk mencintai perempuan tadi, itu karena secara tidak sadar, otak kamu membanding-bandingkan antara perempuan yang pernah kamu kenal, dekat dengan kamu, dan hasilnya perempuan tadilah yang paling sesuai dengan kriteria atau apa yang kamu inginkan.”

“Terus hubungannya apa ya, Ayah?”
“Karena sifatnya relatif, kalau tempatnya kamu perluas lagi, kalau kamu punya lingkungan baru, yang lebih banyak, kamu selalu bisa menemukan perempuan yang lebih baik darinya. Selalu saja begitu. Kalau kamu mau membuka hati dan tidak terjebak dalam perasaan yang sifatnya relatif tadi. Makanya, kalau mau berteman dengan perempuan, agar tidak terjebak pada perasaan-perasaan seperti itu, perasaan relatif yang belum pada tempat dan waktunya, dari awal harus tegas membuat batasan dengan hati kamu. Bilang ke hati kamu, siapapun perempuan yang dekat sama kamu, yang sering bertemu, berdiskusi dan sebagainya: hanya sebatas teman. Cukup. Tidak lebih. Kalaupun dia cantik, baik, juga sholehah, pasti ada perempuan lain di tempat yang lain, yang jauh cantik, lebih baik dan juga lebih sholehah daripada dirinya. Kalaupun separah-parahnya, kamu berjodoh dengan perempuan yang standarnya jauh lebih rendah daripada perempuan tadi; itu karena perempuan yang kelak akan menjadi jodoh kamu itu adalah yang terbaik buat kamu.”
“Tapi, hati kita kan enggak bisa bohong, Yah? Kalau kita suka, ya suka. Bukannya kita harus mengikuti kata hati ya?”
“Haha. Hati emang nggak bisa bohong. Tapi hati sangat bisa untuk salah. Misalanya, katakanlah perempuan yang kamu sukai tadi sudah menikah dengan orang lain, hati kamu mungkin tidak bisa bohong kalau kamu masih suka, kalau kamu masih berharap, kalau kamu merasa kecewa. Tapi apa dibenarkan mencintai perempuan yang sudah menjadi suami orang lain? Makanya, sebelum kamu mengikuti kata hatimu, jaga dulu hati kamu, lalu periksa apakah suara hati kamu itu udah bener atau belum. Kalau udah bener, baru boleh diikuti.” Aku cuma senyum cengengasan, sambil manggut-manggut.
***
“Oh iya, Ayah, kenapa dulu Ayah memilih bunda sebagai pendamping hidup?” Baru saja ayah mau menjawab, tapi keduluan sama teriakan keras seorang perempuan:
“Ayah, Putra, ayo makan malam dulu. Makanannya sudah siap. Sudah laper nih.”
Tentu saja itu suara kak Putri. Secerewet-cerewetnya bunda, enggak mungkin bunda teriak-teriak model begitu. Biasanya kalau bunda yang manggil, bunda akan langsung mendatangi kami, tersenyum lembut, basa-basi sebentar, baru mengajak makan. Tapi siapapun yang memanggil, kami harus segera menuju ruang makan. Pembicaraan pun harus ditunda sementara waktu.
bersambung ke part-2
___ Serial Ayah-Bunda, Nazrul Anwar
***
Serial ini akan bersambung sampai part-8, akan terposting secara otomatis di page ini setiap jam 17.00 dari tanggal 27 Mei - 03 Juni 2014. Sebagian besar bahannya adalah hasil diskusi dan 'berantem' sama seseorang. Selamat menikmati, silahkan dishare sebanyak-banyknya jika dirasa bermanfaat 

source from :https://www.facebook.com/abinya.karel/posts/278906595613788?fref=nf

Senin, 26 Mei 2014

Sabtu, 24 Mei 2014

Ini Tentang Jarak...


Jarak antara kamu
dengan si dia
makin DEKAT, namun
Jarak antara kamu
dengan Dia
makin JAUH
Adakah ini yang kau kata 
"Demi Cinta Suci" ?

______________________________
_________________________

sepenggal kisah ini membuat kita dekat
iya, dekat sekali
sampai nama depanpun tidak kenal
sangat dekat sekali
sampai wajahpun tidak tampak muka
terasa dekat sekali
sampai tinggalpun ntah dimana

sepenggal kisah ini tentang hati
iya, tentang hati
hati yang lama sunyi menanti
tentang hati
hati yang terlalu lama kau rindui
tentang hati
hati yang lama berbisik
"aku disini.... dekat... dekat sekali"

...............................................................
....................................................................................

Demi Cinta Suci "Kita"
---Tri Sunaryanto---











Senin, 19 Mei 2014

Go Pangan Lokal Yogyakarta : Best Moment 18 Mei 2014




YOGYA (KRjogja.com) - Masyarakat yang tergabung dalam Masyarakat Ilmuwan dan Teknolog Indonesia (MITI) mengadakan kampanye lapangan, berjalan dari DPRD DIY menuju kawasan titik nol. Mereka menyuarakan konsumsi pangan lokal, yang kini sudah kalah oleh keberadaan pangan impor.

Koordinator Lapangan Didik Kurniawan menerangkan, ini adalah aksi mahasiswa pertanian dari beberapa kampus seperti UMY, UGM, UNY, UIN, dan STIMIK AMIKOM. Kegiatan ini didukung oleh Kementrian Pertanian, dan digelar serentak di sembilan kota di Indonesia. "Funwalk ini untuk mensosialisasikan konsumsi berbagai produk pangan lokal seperti singkong, jagung, atau kacang tanah, untuk mewujudkan kedaulatan pangan nasional," jelasnya, Minggu (18/05/2014).


Menurut Didik berbagai udah digelar dalam rangkaian kampanye sejak beberapa bulan lalu, seperti lomba foto, bazar pangan, dan seminar nasional. Acara hari ini adalah puncak yang diisi dengan orasi serta peneriakan yel-yel dukungan terhadap pangan lokal di kawasan titik nol, yang diakhiri dengan pembagian beberapa pangan lokal seperti buah salak dan makanan ringan lokal.  "Kami ingin menamkan bahwa pangan lokal tidak kalah dengan pangan impor yang menyerbu bangsa kita, dan yang memprihatinkan saat ini pangan impor lebih banyak dikonsumsi," jelasnya. (Den)










Sabtu, 10 Mei 2014

Cinta Bersujud di Mihrab Taat | Salim A. Fillah



Julaibib, begitu dia biasa dipanggil. Sebutan ini sendiri mungkin sudah menunjukkan ciri jasmani serta kedudukannya di antara manusia; kerdil dan rendahan.

Julaibib. Nama yang tak biasa dan tak lengkap. Nama ini, tentu bukan dia sendiri yang menghendaki. Tidak pula orangtuanya. Julaibib hadir ke dunia tanpa mengetahui siapa ayah dan yang mana bundanya. Demikian pula orang-orang, semua tak tahu, atau tak mau tahu tentang nasab Julaibib. Tak dikenal pula, termasuk suku apakah dia. Celakanya, bagi masyarakat Yatsrib, tak bernasab dan tak bersuku adalah cacat kemasyarakatan yang tak terampunkan.

Julaibib yang tersisih. Tampilan jasmani dan kesehariannya juga menggenapkan sulitnya manusia berdekat-dekat dengannya. Wajahnya yang jelek terkesan sangar. Pendek. Bungkuk. Hitam. Fakir. Kainnya usang. Pakaiannya lusuh. Kakinya pecah-pecah tak beralas. Tak ada rumah untuk berteduh. Tidur sembarangan berbantalkan tangan, berkasurkan pasir dan kerikil. Tak ada perabotan. Minum hanya dari kolam umum yang diciduk dengan tangkupan telapak. Abu Barzah, seorang pemimpin Bani Aslam, sampai-sampai berkata tentang Julaibib, ”Jangan pernah biarkan Julaibib masuk di antara kalian! Demi Allah jika dia berani begitu, aku akan melakukan hal yang mengerikan padanya!”

Demikianlah Julaibib.

Namun jika Allah berkehendak menurunkan rahmatNya, tak satu makhlukpun bisa menghalangi. Julaibib berbinar menerima hidayah, dan dia selalu berada di shaff terdepan dalam shalat maupun jihad. Meski hampir semua orang tetap memperlakukannya seolah dia tiada, tidak begitu dengan Sang Rasul, Sang rahmat bagi semesta alam. Julaibib yang tinggal di shuffah Masjid Nabawi, suatu hari ditegur oleh Sang Nabi, Shallallaahu ’Alaihi wa Sallam. ”Ya Julaibib”, begitu lembut beliau memanggil, ”Tidakkah engkau menikah?”

”Siapakah orangnya Ya Rasulallah”, kata Julaibib, ”Yang mau menikahkan putrinya dengan diriku ini?”

Julaibib menjawab dengan tetap tersenyum. Tak ada kesan menyesali diri atau menyalahkan takdir Allah pada kata-kata maupun air mukanya. Rasulullah juga tersenyum. Mungkin memang tak ada orangtua yang berkenan pada Julaibib. Tapi hari berikutnya, ketika bertemu dengan Julaibib, Rasulullah menanyakan hal yang sama. ”Wahai Julaibib, tidakkah engkau menikah?” Dan Julaibib menjawab dengan jawaban yang sama. Begitu, begitu, begitu. Tiga kali. Tiga hari berturut-turut.

Dan di hari ketiga itulah, Sang Nabi menggamit lengan Julaibib kemudian membawanya ke salah satu rumah seorang pemimpin Anshar. ”Aku ingin”, kata Rasulullah pada si empunya rumah, ”Menikahkan puteri kalian.”

”Betapa indahnya dan betapa berkahnya”, begitu si wali menjawab berseri-seri, mengira bahwa Sang Nabi lah calon menantunya. ”Ooh.. Ya Rasulallah, ini sungguh akan menjadi cahaya yang menyingkirkan temaram dari rumah kami.”

”Tetapi bukan untukku”, kata Rasulullah. ”Kupinang puteri kalian untuk Julaibib.”

”Julaibib?”,  nyaris terpekik ayah sang gadis.

”Ya. Untuk Julaibib.”

”Ya Rasulullah”, terdengar helaan nafas berat. ”Saya harus meminta pertimbangan isteri saya tentang hal ini.”

”Dengan Julaibib?”, isterinya berseru. ”Bagaimana bisa? Julaibib yang berwajah lecak, tak bernasab, tak berkabilah, tak berpangkat, dan tak berharta? Demi Allah tidak. Tidak akan pernah puteri kita menikah dengan Julaibib. Padahal kita telah menolak berbagai lamaran..”

Perdebatan itu tak berlangsung lama. Sang puteri dari balik tirai berkata anggun. ”Siapakah yang meminta?”

Sang ayah dan sang ibu menjelaskan.

”Apakah kalian hendak menolak permintaan Rasulullah? Demi Allah, kirim aku padanya. Dan demi Allah, karena Rasulullah lah yang meminta, maka tiada akan dia membawa kehancuran dan kerugian bagiku.” Sang gadis shalihah lalu membaca ayat ini;

Dan tidaklah patut bagi lelaki beriman dan perempuan beriman, apabila Allah dan RasulNya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan lain tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata. (QS Al Ahzab [33]: 36)

Dan Sang Nabi dengan tertunduk berdoa untuk sang gadis shalihah, ”Allahumma shubba ‘alaihima khairan shabban.. Wa la taj’al ‘aisyahuma kaddan kadda.. Ya Allah, limpahkanlah kebaikan atas mereka, dalam kelimpahan yang penuh berkah. Janganlah Kau jadikan hidupnya payah dan bermasalah..”

Doa yang indah.

Sungguh kita belajar dari Julaibib untuk tak merutuki diri, untuk tak menyalahkan takdir, untuk menggenapkan pasrah dan taat pada Allah dan RasulNya. Tak mudah menjadi orang seperti Julaibib. Hidup dalam pilihan-pilihan yang sangat terbatas. Kita juga belajar lebih banyak dari gadis yang dipilihkan Rasulullah untuk Julaibib. Belajar agar cinta kita berhenti di titik ketaatan. Meloncati rasa suka dan tak suka. Karena kita tahu, mentaati Allah dalam hal yang tak kita suka adalah peluang bagi gelimang pahala. Karena kita tahu, seringkali ketidaksukaan kita hanyalah terjemah kecil ketidaktahuan. Ia adalah bagian dari kebodohan kita.

Isteri Julaibib mensujudkan cintanya di mihrab taat. Ketika taat, dia tak merisaukan kemampuannya.

Memang pasti, ada batas-batas manusiawi yang terlalu tinggi untuk kita lampaui. Tapi jika kita telah taat kepada Allah, jangan khawatirkan itu lagi. Ia Maha Tahu batas-batas kemampuan diri kita. Ia takkan membebani kita melebihinya. Isteri Julaibib telah taat kepada Allah dan RasulNya. Allah Maha Tahu. Dan Rasulullah telah berdoa. Mari kita ngiangkan kembali doa itu di telinga. ”Ya Allah”, lirih Sang Nabi, ”Limpahkanlah kebaikan atas mereka, dalam kelimpahan yang penuh barakah. Janganlah Kau jadikan hidupnya payah dan bermasalah..”

Alangkah agungnya! Urusan kita sebagai hamba memang taat kepada Allah. Lain tidak! Jika kita bertaqwa padaNya, Allah akan bukakan jalan keluar dari masalah-masalah yang di luar kuasa kita. Urusan kita adalah taat kepada Allah. Lain tidak. Maka sang gadis menyanggupi pernikahan yang nyaris tak pernah diimpikan gadis manapun itu. Juga tak pernah terbayang dalam angannya. Karena ia taat pada Allah dan RasulNya.

Tetapi bagaimanapun ada keterbatasan daya dan upaya pada dirinya. Ada tekanan-tekanan yang terlalu berat bagi seorang wanita. Dan agungnya, meski ketika taat ia tak mempertimbangkan kemampuannya, ia yakin Allah akan bukakan jalan keluar jika ia menabrak dinding karang kesulitan. Ia taat. Ia bertindak tanpa gubris. Ia yakin bahwa pintu kebaikan akan selalu terbuka bagi sesiapa yang mentaatiNya.

Maka benarlah doa Sang Nabi. Maka Allah karuniakan jalan keluar yang indah bagi semuanya. Maka kebersamaan di dunia itu tak ditakdirkan terlalu lama. Meski di dunia sang isteri shalihah dan bertaqwa, tapi bidadari telah terlampau lama merindukannya. Julaibib lebih dihajatkan langit meski tercibir di bumi. Ia lebih pantas menghuni surga daripada dunia yang bersikap tak terlalu bersahabat kepadanya. Adapun isterinya, kata Anas ibn Malik, tak satupun wanita Madinah yang shadaqahnya melampaui dia, hingga kelak para lelaki utama meminangnya.

Saat Julaibib syahid, Sang Nabi begitu kehilangan. Tapi beliau akan mengajarkan sesuatu kepada para shahabatnya. Maka Sang Nabi bertanya di akhir pertempuran, “Apakah kalian kehilangan seseorang?”

“Tidak Ya Rasulallah!”, serempak sekali. Sepertinya Julaibib memang tak beda ada dan tiadanya di kalangan mereka.

“Apakah kalian kehilangan seseorang?”, beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bertanya lagi. Kali ini wajahnya merah bersemu.

“Tidak Ya Rasullallah!” Kali ini sebagian menjawab dengan was-was dan tak seyakin tadi. Beberapa menengok ke kanan dan ke kiri.

Rasulullah menghela nafasnya. “Tetapi aku kehilangan Julaibib”, kata beliau.

Para shahabat tersadar.

“Carilah Julaibib!”

Maka ditemukanlah dia, Julaibib yang mulia. Terbunuh dengan luka-luka, semua dari arah muka. Di seputaran menjelempah tujuh jasad musuh yang telah dia bunuh.

Sang Rasul, dengan tangannya sendiri mengafani Sang Syahid. Beliau Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam menshalatkannya secara pribadi. Ketika kuburnya digali, Rasulullah duduk dan memangku jasad Julaibib, mengalasinya dengan kedua lengan beliau yang mulia. Bahkan pula beliau ikut turun ke lahatnya untuk membaringkan Julaibib. Saat itulah, kalimat Sang Nabi untuk si mayyit akan membuat iri semua makhluq hingga hari berbangkit. “Ya Allah, dia adalah bagian dari diriku. Dan aku adalah bagian dari dirinya.”

Ya. Pada kalimat itu; tidakkah kita cemburu?

sepenuh cinta,

Salim A. Fillah

#Source from http://www.pkspiyungan.org/2014/05/cinta-bersujud-di-mihrab-taat-salim.html