Jumat, 31 Juli 2015

Walimatul 'Ursy ; Tri & Santi

Bismillahirahmanirrahim...

Assalamuallaikum Wr.Wb.

Maha Suci Allah yang menciptakan makhluk-Nya berpasang-pasangan, perkenankanlah kami untuk melaksanakan Syariat-Mu, mengikuti Sunnah Rasul-Mu dalam membentuk keluarga yang Sakinah, Mawadah, dan Warahmah.

Mengundang seluruh keluarga, rekan-rekan, sahabat dan kenalan dalam acara syukuran pernikahan kami insyaAllah pada :

Hari, tanggal : Sabtu, 8 Agustus 2015 
Pukul : 09.00 WIB
Tempat : Sukorejo, RT 01/RW 01, Desa Kedungharjo, Kec. Mantingan, Kab. Ngawi, Jawa Timur

Atas doa restu dan kehadirannya, dengan sepenuh hati kami sampaikan terimakasih.

Wassalamua'llaikum wr.wb

Salam dari kami,
Tri Sunaryanto & Santi Puji Astuti

(*Akad Nikah 6 Agustus 2015)






Selasa, 21 Juli 2015

Barakallahu Laka "Bahagianya Merayakan Cinta"



Barakah itu membawa senyum, meski air mata menitik nitik. 
Barakah itu menyergapkan rindu ditengah kejengkelan. 
Barakah itu menyediakan rengkuhan dan belaian lembut disaat dada kita sesak oleh masalah. 

Sesudah menikah, semoga barakah hidup kita semakin bertambah. Barakah mengasah rasa, menempa jiwa, memberikan sebuah dunia yang kadang tak tertembus penglihatan manusia biasa. 

Suatu hari mungkin kita menyaksikan seorang lelali, ikut antri di warung pecel lele di daerah Monjali (Monumen Jogja Kembali). Mendung bergantung sore itu, dan warna hitam yang menyeruak di barat mlai mendekat. Dia, berkaos putih yang lehernya mulai geripis, di kepalanya ada pecis putih kecil, dan celananya beberapa senti di atas mata kaki. Sandal jepit swallow yang talinya hampir putus nyangkut di antara jempol dan jari kakinya. Seperti yang lain ia juga memesan, '' Pecel Lele Mas!'' 
''Berapa?'' tanya Mas penjual yang asyik menguleg sambal terasi sambil sesekali meraih sothil besar untuk membalik gorengan lele di wajan raksasa. Gemuruh bunyi kompor mengharuskan orang bicara sedikit keras. 
''Satu. Dibungkus...'' Perlahan tangannya merogoh saku celana, lalu duduk sembari menghitung uangnya. Malu-malu, tangannya dijorokkan sedikit ke bawah meja. Uang pecahan ratusan yang sudah disatukan dengan selotip bening per sepuluh keping, pas jumlahnya sesuai harga. 

'' Nggak makan sini aja Mas?? Takut keburu hujan ya?'' 
''hi hi, buat istri...'' 
''Oowh...'' 

selesai pesanannya dibungkus, bersamaan dengan bunyi keritik yang mulai menggambar titik-titik basah di tenda terpal milik Mas Pecel Lele. Agak berlari ia keluar, tapi melebatnya sang hujan jauh lebih cepat dari tapak-tapak kecilnya. 
Khawatir pecel lele untuk istri tercinta yang hanya dibungkus kertas akan berkuah, ia selipkan masuk ke perutnya. Bungkusan itu ia rengkuh erat dengan tangan kanan, tersembunyi di balik kaos putih yang mulai transparan disapu air. Tangan kirinya ke atas, mencoba melindungi kepalanya dari terpaan ganas hujan yang tercurah memukul-mukul. Saat itu ia sadar, ia ambil pecinya. Ia pakai juga untuk melapisi bungkusan pecel lele.huff, lumayan aman sekarang. Tapi 3 kilometer bukan jarak yang dekat untuk berjalan di tengah hujan bukan?? 

Apa perasaan anda melihat lelaki ini?kasihan. Iba. Miris. Sedih. 
Itukan Anda! 
Coba tanyakan pada lelaki itu, kalau anda bertemu. Oh, sungguh berbeda. Betapa berbunga hatinya. Dadanya dipenuhi heroisme sebagai suami baru yang penuh erjuangan untuk membelikan penyambung hayat istri tercinta. 
Jiwanya dipenuhi getaran kebanggaan, keharuan dan kegembiraan. Kebahagian seolah tak terbatas, menyelam begitu dalam di kebeningan matanya. Ia membayangkan senyum yang menantinya, bagai bayangan surga yang terus terhidupkan yang terus terhidupkan dirumah petak kontrakannya. 
Di tengah cipratan air dari mobil dan bus kota yang bersicepat, juga sandalnya yang putus lalu hilang ditelan lumpur becek, ia akan tersenyum. Senyum termanis yang di saksikan jagad. Seingatnya, ia belum pernah tersenyum semanis itu saat ia membujang,.. Subhaanallaah.. 

*Cerita ini bersumber dari kisah nyata yang dialami Ustad Mohammad Fauzil Adhim (penulis buku Kupinang Kau dengan Hamdallah) 

Saat mereka mendoakan, ''Barakallahu Laka...'' 
kubisikan kepadamu, ''Cintamu sehangat ciuman bidadari...'' 
Kau menjawab, ''Ada barakah di kala bidadari cemburu.'' 

Ketika mereka meminta lagi pada Allah, 
''Wa baarakallahu 'alaika...'' 
Lirikanmu menelisik hatiku, ''Dalam badai, dekap aku lebih erat!'' 
''Bersama barakah, masalah akan menguatkan jalinan, '' begitu kau yakinkan. 

Lalu mereka menutup, ''Wa jama'a bainakuma fii khaiir...'' 
Maka tangan kita saling berpaut dan jemarinya menyatu, 
''Genggam tanganku, rasakan kekuatan cinta!'' 

--- Salim A.Fillah, Barakallahu Laka "Bahagianya Merayakan Cinta" ---

Minggu, 12 Juli 2015

Jalan Ci(n)ta Para Pejuang


Di sana, ada cita dan tujuan
yang membuatmu menatap jauh ke depan
di kala malam begitu pekat
dan mata sebaiknya dipejam saja
cintamu masih lincah melesat
jauh melampaui ruang dan masa
kelananya menjejakkan mimpi-mimpi
lalu di sepertiga malam terakhir
engkau terjaga, sadar, dan memilih menyalakan lampu
melanjutkan mimpi indah yang belum selesai
dengan cita yang besar, tinggi, dan bening
dengan gairah untuk menerjemahkan cinta sebagai kerja
dengan nurani, tempatmu berkaca tiap kali
dan cinta yang selalu mendengarkan suara hati
teruslah melanglang di jalan cinta para pejuang
menebar kebajikan, menghentikan kebiadaban,
menyeru pada iman
walau duri merantaskan kaki,
walau kerikil mencacah telapak
sampai engkau lelah, sampai engkau payah
sampai keringat dan darah tumpah
tetapi yakinlah, bidadarimu akan tetap tersenyum
di jalan cinta para pejuang

Senin, 06 Juli 2015

repost : Cinta dan Rasa?


"Cinta adalah seni menghidupkan hidup, ujar Anis Matta dalam serial cintanya. Indah bukan ? Begitulah Allah menakdirkan cinta sebagai kata kerja. Seseorang yang memutuskan untuk mencintai maka langkah selanjutnya ia akan mencari jalan untuk memberi dan memberi. Begitulah alur kisahnya. Jika ada yang bilang mudah untuk jatuh cinta kepada seseorang maka kemungkinan itu hanyalah jatuh “rasa” bukan cinta"

Pernahkah kau mengalaminya?

(Selanjutnya dijawab dalam hati....)